
“Kinokambe!” suara teriakan panik memecah keheningan.
Disusul dengan puluhan teriakan panik lain yang tumpang tindih. Keadaan menjadi tidak terkendali. Orang-orang berlarian tanpa arah. Kegelapan seolah membutakan semua orang.
Ānaru menajamkan seluruh indranya. Dalam hiruk pikuk tak beraturan itu, ia melihat setidaknya setengah lusin bayangan gelap berkelebat kesana kemari di udara. Mereka mencaploki orang-orang yang berlarian tak tentu arah secara serampangan.
Ānaru mendesis marah. Apa yang sudah dia pikirkan akhirnya benar-benar terjadi. Di tengah kerumunan orang yang berlarian, Ānaru mencoba mencari celah untuk menyerang makhluk gelap terdekat.
Sayangnya kinokambe itu terlampau cepat untuk ditangkap. Gerakan Ānaru pun terhambat oleh desakan orang-orang. Di hadapannya, ia melihat Kaharap tengah bergumul dengan seekor kinokambe. Itu satu-satunya makhluk terdekat yang dapat diserang Ānaru.
Tanpa pikir panjang Ānaru menyergap makhluk yang berusaha menerkam Kaharap itu dari belakang. Sekali lagi bulu-duri makhluk itu menusuk kulit Ānaru. Kinokambe itu pun mengalihkan perhatiannya dari Kaharap. Ānaru mencabut belati kecilnya dari pinggang lantas menusuk punggung kinokambe tersebut.
Sang kinokambe meraung marah lantas menghujamkan tubuhnya ke tanah guna menggilas Ānaru yang menempel di punggungnya. Ānaru mengerang kesakitan. Tubuhnya kini tertusuk puluhan bulu-duri hingga menembus perut dan dadanya. Rasa sakit luar biasa menyergap pemuda itu hingga membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.
Di sisi lain kinokambe yang melukainya kini sudah berbalik hendak mencaplok Ānaru. Meski kegelapan yang pekat menyelimuti mereka, namun Ānaru bisa melihat dengan jelas makhluk berbulu-duri dengan mata merah nyalang itu menerkamnya dengan kecepatan luar biasa. Kini Ānaru dapat melihat mulut makhluk itu dipenuhi gigi-gigi taring mengerikan dengan lubang hitam menganga yang siap menelan Ānaru bulat-bulat.
Sialan! Aku tidak mau mati!
Pikiran itu melintas di kepala Ānaru diiringi tekad sangat kuat untuk hidup. Ketegangan membuat Ānaru begitu marah. Ia tidak bisa mati sekarang! Tidak boleh!
Tiba-tiba seperti anak panah yang ditarik dengan busur, tubuh Ānaru melontar secepat kilat ke udara. Secara ajaib Ānaru berhasil terhindar dari terkaman buas kinokambe. Makhluk itu berakhir dengan moncongnya yang mencium tanah kosong.
Entah bagaimana Ānaru bisa selamat! Bahkan dirinya sendiri pun takjub akan hal itu. Ānaru kemudian bangkit berdiri dengan darah yang masih menetes-netes. Di hadapannya, kinokambe yang marah kembali meraung dan menyerbu ke arahnya. Ānaru mencoba menghindar, tapi satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah melompat. Maka di detik-detik terakhir sebelum mulut kinokambe itu nyaris meraihnya, Ānaru menjejak tanah sekuat tenaga.
__ADS_1
Seperti sebuah pegas yang menjejak sempurna, lompatan Ānaru melontar sangat tinggi hingga lebih dari sepuluh meter! Bukan itu saja, lompatan setinggi itu berhasil dilakukan Ānaru hanya dalam satu kedipan mata. Sayangnya Ānaru tidak punya waktu untuk mengagumi pencapaian barunya yang tidak masuk akal itu. Ia kembali melesat turun sembari menghujamkan belati kecil ke arah kepala kinokambe.
Berkat hujaman setinggi lebih dari sepuluh meter, ditambah bantuan dari gaya gravitasi, serangan Ānaru itu pun berhasil menghabisi sang kinokambe. Makhluk itu berubah menjadi asap berbau bacin begitu belatinya menusuk dalam di antara kedua matanya. Ānaru telah berhasil membunuh kinokambe pertamanya!
Antusiasme mengaliri tubuh Ānaru. Dengan gerakan melesat secepat kilat, Ānaru kemudian menghampiri satu persatu kinokambe yang tersisa. Beberapa kinokambe sepertinya sudah berhasil dimusnahkan – Ānaru yakin Airyung pasti berperan besar dalam hal ini –. Hanya tersisa dua kinokambe lain yang kemudian berhasil dihancurkan Ānaru dengan jurus lesat barunya.
Pertarungan selesai lebih cepat dari yang diduga Ānaru. Arena itu sudah kacau balau. Beberapa orang yang masih sadar berlari ke desa, masuk ke rumah mereka masing-masing. Sisanya tampak terluka dan tak mampu bergerak atau bahkan tak sadarkan diri. Dengan napas terengah-engah Ānaru kemudian terduduk di tanah. Cahaya obor sudah kembali menyala. Airyung berlari mendatanginya dengan khawatir.
“Ānaru! Barusan itu apa?! “ seru Airyung begitu sampai di dekatnya.
“Apa?” tanya Ānaru linglung, efek dari kehilangan banyak darah.
“Tadi! Kau terbang! Kesana kemari! Cepat sekali!” seru Airyung yang berteriak setiap dua kata.
Ānaru menggeleng bingung. “Entahlah. Itu terjadi begitu saja, saat aku nyaris mati dilumat kinokambe,” jawab Ānaru jujur.
Dengan terkejut Ānaru dan Airyung menoleh ke sumber suara. Di depan mereka, Kaharap sudah duduk tersungkur dengan telunjuk teracung pada Ānaru. Wajahnya begitu ketakutan seakan menyaksikan sebuah teror mencekam. Sambil terbata-bata, Kaharap bangkit berdiri, masih dengan mata nyalang memelototi Ānaru.
“Aku… tidak akan membiarkanmu selamat…” rintih Kaharap lantas berlari pergi menuju desa.
Ānaru dan Airyung hanya melihat Kaharap dengan ekspresi bingung yang sama. Tapi lantas Airyung menoleh spontan ke arah Ānaru.
“Kau tidak mungkin kerasukan chögörü, kan?” tanya Airyung memastikan.
__ADS_1
Wajah Ānaru mengernyit kesal. “Memangnya kinokambe bisa merasuki manusia?”
“Umm… entahlah. Belum ada kasusnya sejauh ini. Tapi… caramu bertarung tadi, benar-benar tidak seperti manusia, Ānaru.”
Ānaru menghela napas kesal. “Dengar, aku ini korban! Kau tidak lihat aku berlumuran darah begini? Dan aku juga menghancurkan kinokambe-kinokambe sialan itu. Tiga ekor! Dalam semalam! Memangnya kalau aku kerasukan kinokambe aku akan melenyapkan mereka alih-alih memangsa manusia?” sergahnya jengkel.
“Chögörü itu tidak mati Ānaru. Kau tau mereka hanya kembali ke dunia bawah…”
“Ck! Terserah kau saja! Aku lelah! Aku mau pulang!” potong Ānaru sembari berdecih sebal.
Ānaru sudah berusaha bangkit berdiri ketika tiba-tiba serombongan uluwero mendatanginya. Tak lebih dari sepuluh orang uluwero berbondong-bondong mengerubungnya dengan tatapan sangar. Ānaru melihat Kaharap ada di belakang rombongan itu, menatapnya dengan ekspresi penuh kebencian.
“Ada apa?” tanya Ānaru kebingungan.
“Beberapa orang menyaksikanmu kerasukan kinokambe!” seru salah seorang uluwero berbadan paling besar.
“Apa maksud…” desah Ānaru putus asa. “Mana mungkin aku kerasukan. Aku menyelamatkan kalian dengan membunuh tiga kinokambe!” seru Ānaru marah.
“Itu bisa kau jelaskan dalam sidang dengan kepala suku besok. Sekarang kau harus ikut kami!”
Dua orang uluwero mencengkeram lengan Ānaru dengan paksa.
“Ini tidak masuk akal!” seru Ānaru semakin marah. Tapi amarahnya itu sia-sia. Para uluwero itu justru semakin kuat menghimpit Ānaru hingga pemuda itu kesulitan bergerak.
__ADS_1
Mereka lantas berjalan menuju desa. Ānaru dikelilingi secara ketat oleh sepuluh uluwero seolah ia adalah penjahat berbahaya. Pemuda itu mencoba berontak, tapi cengkeraman dua uluwero itu terlalu kuat. Ia juga tidak punya tenaga lagi untuk melakukan perlawanan lebih dari itu. Darahnya mengucur hebat, dan tubuhnya terasa begitu lemas. Ānaru hanya bisa menoleh dan melihat Airyung yang menatapnya dengan khawatir. Sepertinya gadis itu juga kesulitan memutuskan apakah Ānaru masih manusia atau setengah Roh Jahat.
...***...