
“Bukankah dia orang yang menabrakmu tadi? Dia keluar dari pintu samping. Ayo cepat,” ajak Ekhtuya kemudian.
“Tunggu, itu bukan pintu keluar, Ekhtuya,” cegah Bianco sembari menahan pergelangan tangan Ekhtuya.
“Apa?”
“Itu penjara para budak,” desah Bianco kemudian.
“Jadi kau mau merelakan uangmu?”
“Itu … tidak mungkin!” seru Bianco tegas. “Tapi di dalam sana ada banyak malignos. Terlalu berbahaya,” lanjutnya cemas.
“Malignos? Apa maksudmu chögörü? Roh jahat itu? Kenapa ada roh jahat di dalam sana?” sergah Ekhtuya tak percaya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu bagaimana persisnya, tapi penjara itu juga sekaligus merupakan tempat pembantaian para budak yang tidak laku. Ada alasan kenapa malignos di Nuchas tidak seaktif roh jahat di suku lain. Kami memberikan tumbal untuk membuat mereka tetap berada di satu tempat. Dengan cara itulah kehidupan malam di Nuchas tidak seberbahaya tempat lain,” terang Bianco panjang lebar.
Mata Ekhtuya melotot tajam. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang barusan didengarnya. Bagaimana bisa orang-orang mengorbankan sesamanya untuk memberi makan chögörü? Apa mereka bahkan pantas disebut manusia? Tindakan mereka jauh lebih buruk dari roh jahat itu.
“Kalau begitu kita justru harus masuk ke dalam dan membasmi chögörü-chögörü itu!” geram Ekhtuya penuh amarah.
“Tapi … ,” gumam Bianco berusaha mencegah perempuan itu. Namun Ekhtuya sudah melesat menuju arah pintu yang dimasuki oleh si pencuri. Bianco tidak punya pilihan lagi selain mengikuti Ekhtuya.
Ruangan itu tertutup sebuah pintu besi yang berat. Ekhtuya mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci rapat. Ia lantas mengambil belati kecil dari sakunya dan mulai berusaha mengutak-atik lubang kunci.
“Bagaimana cara pencuri tadi masuk? Kenapa sekarang pintunya terkunci?” sergah Ekhtuya tidak acuh.
Tepat setelah Bianco hendak menarik Ekhtuya pergi, bunyi klik terdengar dan pintu besi itu pun terbuka. Ekhtuya dan Bianco berpandangan sejenak.
__ADS_1
“Ayo,” ajak Ekhtuya lantas menarik Bianco masuk ke dalam ruangan.
Bianco hanya bisa pasrah. Begitu mereka berdua ada di dalam, pintu besi itu kembali tertutup. Kegelapan total melingkupi Bianco. Tangan Ekhtuya yang menggandengnya menjadi satu-satunya pemandu jalan memasuki ruangan misterius yang gosipnya telah membunuh ratusan budak Nuchas.
Jantung Bianco berdegup kencang. Ia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Namun tekanan ketegangan yang dia rasakan begitu memasuki ruangan itu membuat Bianco bergidik. Tempat ini benar-benar seperti sarang iblis.
“Bajingan-bajingan Nuchas itu benar-benar manusia terburuk dari yang terburuk. Mereka sengaja mengurung chögörü-chogoru di tempat ini dengan logam. Para roh jahat itu hanya bisa kembali ke dunia mereka melalui tanah. Tapi di ruangan ini hanya dilingkupi besi di seluruh sisinya. Bahkan udara sangat pengap karena kisi-kisinya yang kecil,” bisik Ekhtuya masih menahan amarah.
“Bagaimana kau tahu kalau ada malignos di sini?” tanya Bianco masih berbisik.
“Aku merasakan energi jahat mereka,” gumam Ekhtuya lalu melepaskan genggaman tangannya pada Bianco.
“Ekhtu … ,” bisik Bianco yang panik karena gandengan tangannya dengan Ekhtuya terlepas.
__ADS_1
“Stt ... ,” desis Ekhtuya sembari menyalakan api redup dengan sebuah pemantik.
Pemandangan selanjutnya sungguh membuat Bianco mual.