
Seperti yang sudah diduga Chiara, ibunya mengamuk saat mendapati ia pulang begitu larut. Terlebih karena Chiara datang bersama seorang pemuda asing yang tidak dikenal. Ibunya mengusir Alta dengan kasar, lantas menarik Chiara masuk ke rumah.
Ibunya bahkan tidak bisa dihibur dengan sekantong uang yang dibawa Chiara. Uang itu dilemparkan begitu saja ke sisi ruangan dan ibunya langsung menampar gadis itu keras-keras. Chiara jatuh tersungkur ke lantai. Pipinya memerah dan terasa panas karena tamparan ibunya.
“Dasar perempuan murahan! Apa yang kau lakukan di luar sana sampai larut malam dengan laki-laki asing?” haradik ibu Chiara dengan penuh amarah.
“Aku tak sengaja bertemu dengannya ketika pulang kerja. Dia membantuku saat aku diserang oleh diabos,” kilah Chiara membela diri.
“Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal, Kara. Kalau kau bertemu diabos di luar sana, kau seharusnya tidak ada di sini sekarang. Mungkin justru lebih baik kau mati diterkam roh jahat itu daripada pulang dan membuat malu keluarga,” kecam ibunya.
Hati Chiara mencelos. Bisa-bisanya seorang ibu mengatakan hal semacam itu pada putrinya. Ibunya sekarang sedang mengharapkan dia mati. Padahal selama ini Chiara sudah banyak berkontribusi untuk membayar hutang-hutang ayahnya. Gadis itu pun bangkit berdiri dengan marah. Ia menatap tajam ibunya yang berdiri di hadapannya.
“Aku benar-benar tidak melakukan hal yang seperti ibu bayangkan! Lagipula kalau aku memang melakukan hal buruk, memangnya kenapa? Perilaku Kale di luar sana bahkan jauh lebih busuk dariku. Tapi kenapa ibu hanya selalu menyalahkanku!” seru Chiara kehilangan kesabaran.
“Kau itu perempuan! Calon menantu keluarga Gillian! Apa yang harus kukatakan pada Lord Gillian kalau kau ternyata sudah ternoda?” bentak ibunya histeris.
Chiara benar-benar sudah tidak tahan lagi. Hatinya terluka. Ia lelah menjadi semacam barang dagangan bagi keluarganya, ditukar hanya agar bisa memperoleh kekayaan. Kenapa ia harus terlahir sebagai perempuan?
Dengan emosi membuncah, Chiara pun memilih untuk meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya. Ibunya masih berteriak-teriak marah, tetapi Chiara tidak mempedulikannya. Di lantai dua, dia bertemu dengan Kale. Rupanya adik kembarnya itu tengah berada di rumah.
__ADS_1
Chiara tidak mempedulikan pemuda itu dan langsung masuk ke kamarnya sembari membanting pintu keras-keras. Hari ini Chiara mengalami kesialan bertubi-tubi. Rasanya semua hal yang terjadi hanya membuatnya frustrasi.
Saat tengah meratapi nasibnya di atas tempat tidur, mendadak pintu kamarnya diketuk. Tanpa menunggu jawaban Chiara, Kale sudah masuk begitu saja. Pemuda itu lantas duduk di kaki ranjang Chiara dan mencoba menghibur kakaknya.
“Ibu memang terlalu keras padamu,” komentar Kale sembari membaringkan badannya di sebelah Chiara.
“Kenapa kau ada di rumah?” tanya Chiara mengabaikan kata-kata Kale.
“Kau selalu bertanya begitu, membuatku tidak nyaman saja,” sergah Kale protes.
Chiara tidak menyahut. Mereka berdua tahu bahwa pertanyaan Chiara tadi sama sekali tidak aneh. Kale memang tidak biasanya berada di rumah saat malam. Bahkan ayahnya juga jarang pulang. Di sisi itu, Kale sangat mirip dengan ayah mereka.
“Aku sedang cuti,” lanjut Kale kemudian.
Kale mendesis tak sabar. “Kau itu selalu meremehkanku. Suatu saat kau akan menyesal karena sudah memandang rendah pekerjaanku,” tukas Kale tidak terima.
“Baiklah. Terserah kau saja. Aku tidak peduli. Sekarang keluarlah. Aku sedang tidak ingin diganggu,” kata Chiara sembari membalikkan badannya. Kini ia berbaring sembari memunggungi Kale.
“Berisitirahatlah. Jangan pikirkan kata-kata ibu. Kau tahu ibu menjadi seperti itu karena dia sendiri sudah menanggung banyak luka di hatinya. Kau tetap lakukan saja apa yang kau suka,” hibur Kale tulus.
__ADS_1
Chiara berdecih pelan. “Kenapa aku harus selalu memahami perasaan orang lain? Sementara tidak ada yang mau memahami perasaanku,” ungkapnya.
“Yah, hidup kita memang tidak mudah. Tapi aku akan tetap mendukungmu, Kara.”
“Mendukungku? Dengan cara apa, Kale? Mengenalkanku dengan pemilik rumah bordil? Konyol,” cela Kara sinis.
Kale menghela napas lelah. Pemuda itu lantas bangkit berdiri dari tempat tidur kakaknya. “Berpikirlah sesukamu. Meski kau menyebalkan, tapi kau tetap kakakku. Jadi jangan berpikir kalau aku membencimu.”
Chiara hanya berdecih pelan tanpa menanggapi kata-kata Kale. Adiknya itu pun akhirnya berjalan keluar kamar dan meninggalkannya sendirian. Banyak sekali hal yang terjadi hari ini. dan itu membuat Chiara lelah. Tak lama setelah Kale pergi, Chiara pun akhirnya tertidur.
Chiara bermimpi aneh. Ia tengah berada di sebuah taman luas yang dipenuhi bunga krisan berwarna kuning. Chiara mengenakan gaun putih yang tipis dan panjang. Seluruh pemandangan taman itu begitu menenangkan. Angin sepoi yang berhembus membuat bunyi kerisik pelan ketika menggoyangkan pohon bunga-bunga krisan. Langit senja berwarna oranye menjadi latar pemandangan tersebut.
Tiba-tiba mata Chiara menangkapn sesosok perempuan yang berdiri jauh di seberang taman. Chiara berusaha menfokuskan pandangannya, tetapi sosok itu masih tidak terlihat dengan jelas. Hanya gaun putih dan rambut panjang kecoklatan yang bisa ditangkap oleh Chiara. Ia juga melihat sosok itu melambai padanya, lantas mendadak aroma bunga krisan menyeruak semakin kuat.
Chiara mencoba berjalan mendekat. Namun setiap langkah yang dia ayunkan terasa semakin berat dan lebih berat lagi. Aroma bunga memabukkannya. Kepala Chiara berubah menjadi pening, pandangannya memburam. Chiara tak sanggup lagi berjalan. Ia berhenti sejenak di tengah-tengah taman bunga krisan lalu memijit kepalanya yang terasa begitu nyeri.
Sekonyong-konyong sosok perempuan tadi muncul begitu saja di depannya. Talia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah perempuan itu seperti ditutupi oleh tabir gelap yang tidak lazim. Sang sosok pun mengulurkan tangannya yang menggenggam.
__ADS_1
Di tengah rasa pusing yang mendera, Chiara memperhatikan genggaman perempuan itu yang secara perlahan terbuka. Sebuah batu agate berwarna kuning menyala-nyala di tangannya. Rasa sakit di kepala Chiara semakin hebat. Rasanya nyaris tak tertahankan.
“Jauza,” Sebaris kata itu terdengar lirih di dalam kepalanya. Setelah itu seluruh pandangan Chiara menjadi gelap. Ia tidak mengingat apa-apa lagi.