Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Hamal


__ADS_3

Ānaru mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang serba putih. Tempat itu tidak memilik batas ataupun sekat. Hanya ada kekosongan mutlak yang begitu luas tak bertepi. Ānaru yang kebingungan mengedarkan pandangannya, namun ia tak menemukan siapapun di sana. Pemuda itu lantas mencoba melangkah. Pijakan kakinya menghasilkan riak lembut di lantai putih itu. Seperti ada genangan air di bawah kakinya. Tapi tidak ada bayangan dirinya atau apapun yang memantul.


Dengan perasaan bingung, akhirnya Ānaru memutuskan untuk menelusuri tempat itu. Ia melangkah tanpa arah, namun tempat itu benar-benar hanya berisi kekosongan. Kemanapun Ānaru pergi, semesta berwarna putih itu terus mengikutinya. Setelah lama berjalan, Ānaru mulai berlari. Rasa frustasi dan kepanikan mulai menyerang. Bunyi kecipak air mengiringi setiap derap langkahnya.


Ānaru masih tetap sendirian. Perasaan paniknya berubah menjadi ketakutan. Ia terjebak! Di tempat aneh tanpa siapapun yang menemani atau sekedar memberi penjelasan padanya. Ānaru mulai berteriak memanggil-manggil siapapun yang mungkin ada di sana.


“Haloo! Siapapun! Tolong jawab aku!” seru Ānaru terus berteriak frustasi.


Tapi tidak ada yang menyahut. Ia masih sendirian di tempat kosong yang dipenuhi cahaya putih tersebut. Pemuda itu pun melambatkan langkahnya, lantas berhenti. Lantai yang beriak di kakinya berubah tenang begitu ia berhenti. Ānaru kemudian menekuk lututnya lantas bersimpuh lemas.


Sekali lagi pemuda itu mengedarkan pandangannya, namun tempat itu sama sekali tidak berubah. Hanya semesta putih yang memancarkan cahaya. Ānaru merasa dirinya terjebak dalam semacam cangkang mutiara yang bersinar. Dan meski ia sudah berlari sejauh apapun, ia hanya terus berputar-putar tak tentu arah, lantas kembali ke tempat yang sama.


Ānaru menarik napas panjang, mencoba meredakan kepanikannya. Seharusnya ada penjelasan di balik kondisinya saat ini. Ia lalu mencoba merunut ingatannya. Apa yang terjadi sebelum ia berada di sini? Tapi lagi-lagi Ānaru tidak mendapatkan apa-apa. Ia tidak mengingat apapun. Ingatannya benar-benar kosong, seolah ia memang baru saja diciptakan dan diletakkan di tempat itu. Tidak ada kenangan yang dia ingat termasuk namanya sendiri.


“Hamal…” tiba-tiba desau angin meniup pipi Ānaru, bersamaan denga. suara yang memanggil sepotong nama.


Ānaru lekas menoleh. Tapi tetap tidak ada siapapun di sana. Bulu kuduk Ānaru meremang. Napasnya mulai memburu dan jantungnya berdegup kencang. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di benakknya, membuat Ānaru semakin panik dan ketakutan. Apa yang terjadi? Kenapa ia ada di sana? Siapa dirinya? Siapa Hamal?


Pertanyaan-demi pertanyaan membanjirinya tanpa henti. Ānaru mencengkeram kepalanya yang mulai berdenyut-denyut dihantam gelombang pertanyaan yang memojokkan. Ia lantas menunduk dan mulai memukuli lantai dengan kepalan tangannya. Riak-riak di lantai berkecipak setiap tangannya mendarat di sana. Anehnya kecipak lantai yang seputih susu itu sama sekali tidak membuat Ānaru basah. Hanya terasa dingin, namun tidak mengandung air.


Ānaru sejenak berhenti melontarkan pukulan. Diamatinya lantai dingin yang terasa lembut sekaligus keras itu. Ānaru berharap ia bisa melihat bayangan sesuatu, setidaknya wajahnya sendiri. Tapi nihil. Lantai itu kembali tenang setelah Ānaru berhenti bergerak, seperti ubin batu marmer yang polos. Padahal setidaknya, Ānaru ingin melihat wajahnya, seperti apa rupanya. Bagaimana bentuk tubuhnya sekarang. Ia sudah lupa. Apa warna matanya, atau warna rambutnya, tidak ada yang dia ingat.

__ADS_1


Tiba-tiba air mata merembes melalui kedua mata Ānaru. Alirannya membasahi kedua pipinya, dan terus menetes ke lantai. Ānaru menangis tanpa suara. Ia terus menangis dan menangis hingga lama berselang. Ia tidak tahu bagaimana waktu berputar di tempat itu. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terbangun di sana. Meski begitu, tubuhnya tidak merasa lelah sama sekali. Setelah berjalan, berlari, dan menangis, Ānaru tetap merasa tubuhnya begitu ringan.


“Hamal…” suara desau angin kembali membisikkan sebuah nama.


Ānaru mendongak, masih dengan air mata yang meleleh tanpa bisa dia kendalikan.


“Siapa?! Siapa itu?!” seru Ānaru dengan suara tercekat.


Sekonyong-konyong di hadapan Ānaru, warna putih di tempat itu pelan-pelan memudar, digantikan dengan kemunculan guratan-guratan warna oranye yang terus menyebar. Pelan tapi pasti guratan oranye kekuningan itu mengubah keseluruhan warna di tempat itu. Hawa dingin dan sejuk yang sebelumnya dirasakan Ānaru mendadak berubah hangat dan terus memanas seiring dengan berubahnya warna tempat itu.


Pun kesunyian yang tadinya melingkupi tempat itu tiba-tiba dipenuhi suara-suara bisikan yang makin lama makin keras. Suara itu tumpang tindih sampai-sampai Ānaru harus menutup telinganya karena kebisingan yang mengganggu. Sambil memejam, Ānaru mencoba menghalau suara-suara yang mulai memekakkan telinga.


“Hamal…” sepotong suara kembali terdengar, namun tidak berasal dari desau angin, melainkan dari dalam kepalanya.


Ānaru bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati dinding. Ia mencoba mengamati gambar-gambar yang bergerak di dinding itu. Ternyata gambar-gambar itu adalah potongan adegan tentang kehidupan seorang pria paruh baya berambut panjang penuh uban. Pakaian pria itu mirip dengan baju yang dikenakan Ānaru namun dengan warna yang berbeda. Pakaian Ānaru berwarna hitam dengan hiasan burung enggang, sementara pria itu berwarna putih namun memiliki ornamen burung enggang yang sama.


Ānaru terus mengamati gambar-gambar tanpa suara itu. Ada adegan yang menunjukkan pria itu tengah menyembuhkan seseorang, lalu ada juga adegan pertarungan entah dengan siapa. Begitu banyak kejadian digambarkan pada tiap panel gambar itu hingga akhirnya, Ānaru menyaksikan panel terakhir milik pria itu. Ia tampak begitu renta dan hanya berbaring di atas tempat tidur rotan. Pria itu memejamkan mata dengan damai sementara beberapa orang di sisinya justru menangis pilu. Itulah adegan terakhir milik pria berambut panjang tadi.


Tapi gambar adegan tidak berhenti di situ. Di sebelah adegan kematian pria tadi, muncul adegan baru yang menampakkan gambar seorang bayi perempuan berambut gelap. Bayi itu menangis begitu kuat dalam pelukan ibu yang baru melahirkannya. Sekali lagi, Ānaru melihat kemiripan dari pakaian orang-orang di gambar bayi itu. Ornamen burung enggang.


Ānaru terus merunut gambar bayi itu dan mulai mehami bahwa itu adalah cerita kehidupan seorang perempuan sejak lahir hingga kematiannya. Perempuan itu sama spesialnya dengan laki-laki berambut panjang tadi, yang bisa menyembuhkan, pandai bertarung dan sebagainya.

__ADS_1


Semakin lama Ānaru berkeliling, Ānaru semakin kebingungan dengan maksud berbagai gambar yang ada di sana. Semuanya hanya menunjukkan siklus hidup dan mati orang-orang yang tidak dikenalnya. Hanya satu hal yang sama di antara mereka, semuanya mengenakan pakaian yang mirip dengannya.


“Hamal… mahi kotu kua maratia?[1]” suara di kepalanya berkata lagi.


Entah bagaimana Ānaru memahami bahasa itu. Ingatannya seperti digali sangat dalam hingga ke tahun-tahun yang tidak diketahuinya.


“Ewa kotu?!” seru Ānaru berteriak.


“Hamal…. Maratia tinga kotu ingoa[2],” kata suara dalam kepala Ānaru.


Sekonyong-konyong balok-balok kenangan menghantam ingatan Ānaru. Begitu banyak peristiwa tiba-tiba membanjiri kepalanya. Ia akhirnya imengingat namanya sendiri, Ānaru, seorang gembala di suku Khitai. Seluruh ingatan hidupnya langsung bermunculan begitu saja dan membuat kepalanya begitu pening dan kesakitan. Ānaru segera menggelepar ke lantai karena rasa nyeri tak tertahankan di kepalanya. Ia mengerang keras sejalan dengan banyaknya ingatan yang masuk.


Selama beberapa saat ia kesakitan, ingatan terakhir yang datang adalah kekalahannya saat bertarung dengan Kaharap di hutan mati. Rasa sakit terus menyerang hingga yang bisa dilakukan Ānaru hanyalah berbaring dengan mata tertutup. Napasnya tersengal dan keringat membanjiri tubuhnya. Detik berikutnya, samar-samar ia mendengar namanya dipanggil oleh suara perempuan.


“Ānaru… Ānaru…” suara itu terdengar cemas.


Ānaru mencoba membuka mata meski kepalanya masih berdenyut-denyut nyeri. Di hadapannya, kini ia melihat seorang perempuan berambut putih keperakan memanggil-manggil namanya sambil berderai air mata.


“Airyung…” desah Ānaru lirih.


...***...

__ADS_1


[1] Hamal… apakah kau sudah mengingatnya?


[2] Hamal… ingatlah arti namamu. 


__ADS_2