
Ruangan yang mereka masuki berbentuk oval dengan sebuah panggung di tengahnya. Tempat duduk penonton berbentuk podium sejumlah lima undakan, melingkar mengelilingi panggung.
Bianco memilih satu tempat duduk yang berada di paling belakang, dekat dengan pintu keluar. Ekhtuya mengikutinya dan duduk di sebelah Bianco.
Tidak ada penerangan apa pun di podium penonton. Area tersebut hanya terlihat remang-remang demi kenyamanan para pembeli yang rata-rata ingin identitasnya disembunyikan. Seluruh lampu hanya menyorot ke arah panggung.
Seorang pria yang bertugas sebagai juru lelang berdiri di balik podium kecil sambil membawa palu. Ia mengenakan setelan berwarna merah marun, lengkap dengan topi tinggi berwarna senada dan topeng putih polos yang menutupi separuh wajahnya.
Di sebelah juru lelang itu, berdiri seorang laki-laki berpakaian lusuh dengan wajah tirus dan tubuh sangat kurus. Kedua tangan dan kaki laki-laki itu diikat dengan rantai besi dengan pemberat besar. Ia tertunduk tanpa tenaga, seolah tidak punya gairah hidup lagi.
"Budak pesuruh ini akan dibuka dengan harga seratus keping perunggu. Silakan angkat tangan bagi yang berminat," seru sang juru lelang itu sembari mengangkat palunya.
__ADS_1
Sesaat belum ada orang yang tampak mengangkat tangan. Namun setelah lewat beberapa menit, beberapa orang mengangkat papan kayu bertuliskan nomor tempat duduknya. Orang-orang itulah yang telah tertarik untuk membeli si budak pesuruh tersebut.
"Harga manusia di sini benar-benar murah," komentar Ekhtuya tampak miris.
"Itulah yang terjadi kalau hidup terlalu miskin di Nuchas. Orang-orang yang tidak beruntung itu akhirnya menjadi budak belian di tempat ini. Nasibku sedikit lebih mujur karena mendapat pekerjaan dari salah satu keluarga terkemuka. Akan tetapi sejak aku dipecat, aku mungkin bisa berakhir seperti laki-laki itu," kata Bianco menerangkan.
Ekhtuya hanya menhela napas pelan. Ia belum pernah melihar kota yang sangat kejam seperti Nuchas. Nyawa manusia seolah tidak berharga di tempat ini. Orang-orang suku Nuchas bahkan lebih kejam dari para chogoru.
"Kalau kau harus merunut jalur jual beli orang-orang ini, artinya kau harus mengikuti para pembeli yang ada di sini. Tidak terlalu sulit sebenarnya, karena mereka rata-rata berasal dari suku La Glendale, daerah yang berbatasan dengan Nuchas," jelas Bianco lagi.
Bianco tak menjawab. Bahkan sejak awal ia merasa misi Ekhtuya sudah tidak masuk akal. Meski begitu, ada baiknya ia menghibur perempuan itu.
__ADS_1
"Tidak ada salahnya mencoba mencari tahu, Ekhtuya," ucapnya ragu.
Ekhtuya menghela napas putus asa. Tugasnya semakin hari semakin terasa sulit. Entah bagaimana ia bisa menyelesaikan misinya.
Akhirnya Bianco dan Ekhtuya memutuskan untuk mengikuti jalannya pelelangan hingga selesai. Saat budak terakhir ditampilkan, tiba-tiba seseorang menabrak Bianco dari belakang hingga terjatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap orang itu sembari membungkuk pelan.
Bianco tidak menjawab dan hanya bisa merasa waspada. Perasaannya tidak nyaman. Beberapa menit berlalu hingga kemudian dia sadar bahwa kantong uangnya sudah hilang! Orang tadi adalah seorang pencuri.
"Aku harus mengejar bajingan itu," geram Bianco sembari berdiri dari tempat duduknya dan mulai mencari pencuri berjubah gelap yang menubruknya tadi.
__ADS_1
Ekhtuya mengikuti Bianco dari belakang. Akan tetapi, mencari orang di tempat gelap itu tidaklah mudah. Belum lagi rata-rata pengunjung mengenakan jubah hitam yang seragam.
"Sialan! Semua uangku ada di sana. Apa yang harus kita lakukan?" geram Bianco penuh amarah.