
Chiara sudah kembali menjadi dirinya. Ia memutuskan untuk menemui Rein untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke Leopolis untuk berkumpul dengan sebelas Pejuang Zodiak lain. Akan tetapi Chiara tidak berniat untuk kembali ke rumahnya.
Bersama Altan, Chiara mendatangi toko barang antik milik Rein. Toko itu tutup. Chiara tidak menemukan Rein di tempat tersebut. Gadis itu pun akhirnya langsung mendatangi kediaman keluarga Gillian. Di sana para pelayan menyambutnya seolah memang sudah menantikan kedatangan gadis itu.
Rein datang tergopoh-gopoh ketika pelayan memberitahunya tentang kedatangan Chiara. Pemuda itu tampak berantakan. Terakhir kali Chiara melihat Rein seputus asa itu ialah saat kematian ibunya.
“Kara! Kau … kau kembali. Syukurlah. Maafkan aku. aku tidak bermaksud membuatmu menderita,” ratap Rein sembari memeluk Chiara.
“Aku tidak akan membicarakan tetang hal itu, Rein. Segalanya memang harus terjadi seperti ini. Jangan menyesalinya,” ucap Chiara tenang.
Rein mulai menangis terisak-isak. Tampak jelas kalau sahabatnya itu sangat menyesal. “Kara … perbuatanku tidak termaafkan. Aku sudah melakukan hal bodoh … ,” rintihnya penuh penyesalan.
Chiara menarik napas panjang. “Kale meninggal. Keluargaku mungkin akan kehilangan dua anak tertuanya sekaligus. Selama ini kami adalah penopang ekonomi keluarga. Kalau aku dan Kale tidak ada, mungkin orang tua dan adik-adikku akan kesulitan,” ucap Chiara setelah Rein melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kau ada di sini sekarang. Mulai saat ini aku berjanji akan melindungimu. Tidak akan ada orang yang bisa menyentuhmu lagi, Kara.” Rein tampak sungguh-sungguh.
Chiara terdiam selama beberapa saat. Gadis itu melirik Altan. Setelah kebangkitan kekuatannya, Chiara tidak lagi marah pada Rein atau siapa pun. Ia tahu bahwa jalan hidup ini memang sudah dia pilih sebelum turun ke dunia. Penderitaan yang dia alami selama ini adalah gerbang untuk membuka ingatan akan kekuatannya. Karena itu, kesalahan Rein sama sekali tidak menyakitinya lagi. Alih-alih, Chiara merasa sedih karena harus meninggalkan mereka semua sekarang.
“Rein, aku tahu kau melakukannya karena peduli padaku. Aku mempercayaimu, dan meski akhirnya masalah menjadi begini menyakitkan, aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu setelah aku pergi nanti. Tolong jaga ibu dan adik-adikku,” ucap Chiara berpesan.
Kepedihan Rein semakin dalam. Ekspresinya penuh keputusasaan. “Kau … mau pergi kemana? Apa kau begitu marah padaku sampai harus meninggalkanku seperti ini? Meninggalkan keluargamu?”
Tatapan memohon dilontarkan Rein pada Chiara. Pemuda itu tidak ingin kehilangan Chiara sekali lagi. Akan tetapi ketetapan hati Chiara sama sekali tak tergoyahkan. Rein lantas mengalihkan padangannya kepada Altan. Pemuda asing yang tampak mencolok dengan rambut peraknya. Rein mengamati Altan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Altan hanya tersenyum ramah sembari mengangguk sopan.
“Kau … akan pergi dengannya?” desah Rein penuh selidik.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Chiara membela diri.
__ADS_1
Rein menghela napas dengan berat, lantas melepaskan rengkuhannya dari tubuh Chiara. “Jadi benar kau adalah Pejuang Zodiak?” tanya Rein muram.
“Kau tahu?”
“Kale pernah bercerita padaku tentang hal ini. Kurasa orang Giyatsa ini akhirnya memilihmu,” kata Rein tertunduk sedih.
Chiara tersenyum masam. “Pilihan antara aku dan Kale hanyalah menyelesaikan misi, atau mati. Di antara dua hal itu, Kale memilih yang lebih mudah,” ujar gadis itu getir.
Rein mendengkus kecil lantas tersenyum. “Entahlah. Kale selalu mempedulikanmu lebih dari yang kau kira.”
“Aku tahu,” jawab Chiara tersenyum hangat. “Jadi bisakah kau melindungi keluargaku. Menggantikan aku dan Kale?” Gadis itu memastikan sekali lagi.
Rein tersenyum lantas mengangguk. “Serahkan padaku.”
__ADS_1