Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Pulang


__ADS_3

Cahaya di setiap rumah kembali menyala. Jalanan tidak lagi gelap dan kini Chiara bisa melihat kedua tangannya yang berubah menjadi logam. Gadis itu sontak kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa terbelalak ngeri karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada tubuhnya.


“Bagaimana kau melakukannya?” Tiba-tiba sebuah suara tak asing terdengar dari atas kepala Chiara.


Gadis itu mendongak, masih dengan raut kebingungan. Seorang pemuda berambut perak melompat turun dari atap bangunan di dekat Chiara. Rupanya Altan.


“A, Altan … ,” rintih Chiara tak berdaya. Dua tangannya masih menyatu dalam wujud bola besi. Akan tetapi entah mengapa besi itu sama sekali tidak terasa berat.


“Tunggu. Kau mengenalku?” Altan balik bertanya.


Sekilas Chiara lupa bahwa dirinya kini tengah berada dalam penyamaran. Tentu saja Altan tidak mengenalinya. Meski begitu ia memutuskan untuk berkata jujur saja pada pemuda Giyatsa itu. Toh keadaannya sudah seperti ini.


“Ini aku. Kara. Orang yang kau selamatkan tempo hari. Di dalam kamar. Seekor diabos masuk ke kamarku saat tengah malam,” terang Chiara terbata-bata.


Altan mengernyitkan dahinya sejenak sembari mengamati Chiara dari atas ke bawah. Penampilan gadis itu memang sudah berubah total. Bahkan rambut gelap Chiara kini sudah berubah jadi abu-abu.


“Kalau kau tidak percaya, aku bisa membuktikannya. Ini cuma riasan saja,” tandas Chiara terus berusaha meyakinkan.


Altan menggeleng pelan sembari tersenyum. “Bukan begitu. Aku percaya padamu. Meski penampilanmu berubah, tapi kau punya aroma yang sama.”


“A … roma?” tanya Chiara ragu-ragu. Seingatnya ia sudah memakai parfum yang berbeda sebelum pergi tadi. Ah, tapi masalah utamanya sekarang bukan itu. Ia harus mengembalikan dulu tangannya yang jadi benda aneh ini.


“Anu, Altan … apa kau tahu kenapa tanganku jadi begini? Bagaimana cara mengembalikannya?” rintih Chiara memelas.


Altan berjalan mendekat. “Ini pertama kali aku melihat tangan manusia berubah menjadi pemukul besi berduri. Apa kau … .”


Kalimat Altan terputus. Saat Altan sudah berada cukup dekat dengan Chiara, mendadak kedua tangan gadis itu berangsur pulih. Bola besi berduri itu lenyap dan kedua tangan mungil Chiara sudah kembali lagi.


“Dia kembali! Terima kasih Altan!” pekik Chiara kegirangan. Tanpa sadar gadis itu melompat dan memeluk Altan erat-erat.


“Eh, uh … sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang terjadi,” sahut Altan canggung.

__ADS_1


Chiara segera menyadari tindakannya dan buru-buru melepaskan diri dari Altan. “Astaga! Maafkan aku. Aku panik setengah mati tadi. Lalu tiba-tiba benda aneh itu menghilang saat kau mendekat. Jadi aku cuma terlalu senang,” ucapnya tersipu malu.


Altan tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Tapi lain kali sebaiknya kau tidak sembarang memeluk pria yang baru dikenal. Itu bisa berbahaya.”


Chiara mengangguk dengan wajah memerah.


“Jadi namamu Kara?” tanya Altan.


Chiara mengangguk sekali lagi.


“Kenapa kau berkeliaran malam-malam?”


“Aku baru mau pulang ke rumah. Pekerjaanku selesai lebih lama dari biasanya,” kilah Chiara mencari alasan. Ia tidak mungkin menjelaskan kalau dia baru saja kembali dari tempat judi.


“Oh begitu. Lain kali kau harus pulang sebelum gelap. Sekarang, ayo kutemani kau sampai rumah,” tawar Altan.


Chiara mengiyakan. Sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan pemuda ini. Setiap pertemuan mereka selalu melibatkan peristiwa tak terduga. Entah kenapa Chiara menjadi begitu penasaran pada Altan. Jangan-jangan tangannya yang berubah tadi juga berkaitan dengan pemuda ini. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa tangannya bisa berubah menjadi bola besi berduri. Ini sama sekali tidak masuk akal.


Altan tertawa kecil. “Rasanya seperti kau memang terbiasa mengundang laki-laki masuk ke kamarmu.”


“Eh, bukan begitu maksudku. Aku hanya penasaran. Setiap kali bertemu denganmu, selalu ada kejadian tak terduga.” Chiara berusaha untuk membuat nada suaranya senormal mungkin. Padahal ia menyembunyikan rasa malu luar biasa.


“Aku sibuk mengejar chögörü belakangan ini. Orang yang kucari adalah buruan mereka. Jadi kupikir dengan mengikuti mereka, aku bisa bertemu dengan orang itu. Anehnya dua chögörü yang kuintai justru membawaku padamu. Dan kejadian tadi … ,” ungkap Altan sembari melirik kedua tangan Chiara yang bertaut.


Chiara menyadari arah tatapan Altan dan sontak menepisnya. “Hah? Kau pikir aku seorang Pejuang Zodiak? Mana mungkin. Aku cuma orang biasa dari keluarga miskin,” tampiknya cepat-cepat.


“Penampilanmu sekarang jauh lebih mewah dari sebagian besar penduduk Valas,” komentar Altan blak-blakan.


Chiara kembali salah tingkah. “Ah, ini karena urusan pekerjaan.


“Begitukah? Aku jadi sedikit penasaran dengan pekerjaanmu. Terlebih setelah kau dengan mudahnya mengundangku ke kamarmu setiap malam,” goda Altan dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


Chiara merona lagi. “Tidak. Bukan. Pekerjaanku sama sekali berbeda dengan apa yang kau bayangkan sekarang. Bukan seperti itu!” seru Chiara panik.


Altan tertawa kecil. “Yah, bagaimanapun itu urusanmu. Tapi tetap saja aku tertarik dengan bagaimana tanganmu bisa berubah menjadi gada besi berduri. Itu mustahil dilakukan oleh orang biasa.”


“Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Ini pertama kalinya aku mengalami hal ini. Sewaktu diserang oleh diabos tadi, pikiranku tiba-tiba sangat kacau. Dan aku hanya sembarang melempar kantong uangku lalu … .” Mendadak Chiara menyadari sesuatu. “Tunggu. Di mana kantong uangku?” pekiknya kemudian.


Chiara berbalik dan menyapukan pandangannya ke seluruh tempat. Ia baru menyadari bahwa kantong uangnya sudah tidak ada di tangan. Ini benar-benar mimpi buruk yang sesungguhnya. Uang itu hasil kerja kerasnya seharian ini, setelah selama satu minggu dia tidak menghasilkan apa-apa. Chiara lebih baik mati daripada harus kehilangan kantong uang tersebut.


“Maksudmu tas kain kumal yang terlihat berat tadi?” tanya Altan.


“Iya! Apa kau melihatnya?”


“Sepertinya itu terjatuh tak jauh dari tempat kau diserang oleh chögörü. Mungkin terlempar saat tanganmu berubah jadi gada besi berduri.”


“Aku harus kembali dan mengambilnya,” ucap Chiara yakin.


Gadis itu pun berderap kembali menyusuri jalan yang dia lalui tadi. Beruntung kantong uangnya masih utuh, teroggok di pinggir jalan batu tanpa berkurang sedikit pun. Chiara mendesah lega dan memeluk kantong uang itu seolah benda itu adalah hartanya yang paling berharga.


“Sepertinya kau mendapat banyak uang saat bekerja,” komentar Altan yang mengikuti Chiara dari belakang.


“Uang ini sudah seperti nyawaku. Aku bisa mati kalau tidak punya uang,” tandas Chiara tanpa keraguan sedikitpun.


Altan mendengkus geli. “Kau benar-benar gadis yang menarik, Kara.”


“Kuanggap itu pujian, Altan.”


“Tentu saja itu pujian.”


Mereka berdua pun kembali berjalan menyusuri jalan batu menuju rumah Chiara. Sepertinya malam itu ia tidak bisa mendatangi toko barang antik untuk mencari Rein. Chiara hanya mampir ke pinggir pasar dan menghampiri sebuah bak air besar untuk menghapus riasannya. Baju mewahnya ia buang begitu saja karena toh ia masih punya banyak gaun mewah lainnya. Chiara kini hanya menggunakan kain lusuh yang ia temukan menggantung di jemuran rumah salah satu penduduk.


Altan mengamatinya berubah penampilan tanpa banyak berkomentar. Mungkin pemuda itu merasa bahwa kehidupan pribadi Chiara bukanlah urusannya. Apa pun itu, Chiara benar-benar merasa berterima kasih pada Altan. Selain karena ia tidak banyak bertanya, juga karena Altan sudah dua kali menyelamatkan nyawanya. Chiara berhutang budi pada Altan dan berjanji untuk membalasnya suatu saat nanti. Entah bagaimana caranya. 

__ADS_1


__ADS_2