Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Perpisahan


__ADS_3

Setelah umanya cukup tenang, Ānaru pun meminta tâkuta untuk membawanya ke balai pengobatan. Ia ingin melihat kondisi matunya. Sang tâkuta segera membawa pemuda itu ke sebuah ruangan yang berada di bagian belakang rumah.


“Sejak kapan kau mengenaliku, tâkuta. Atau harus kupanggil Moroa. Itu namamu saat masih muda dulu,” kata Ānaru pada sang tâkuta.


“Saya menyadarinya saat mengobati anda dalam penjara. Chakra manipūra anda yang begitu jernih segera mengonfirmasi kecurigaan saya. Senang anda bisa kembali lagi, Hamal,” ujar tâkuta itu tampak penuh hormat.


“Jangan memperlakukanku dengan kaku begitu, Moroa. Aku masih Ānaru yang sama. Masa-masa di saat aku menjadi gurumu sudah berlalu. Sekarang aku bisa kembali karena aku harus membayar kesalahanku di kehidupan sebelumnya,” ujar Ānaru kemudian.


“Meski begitu, anda menghilang begitu saja, dan tak pernah kembali ke suku ini lagi. Desas-desus yang beredar mengatakan bahwa jiwa para Pejuang Zodiak telah terjebak di dalam dimensi kegelapan. Namun melihat anda bisa dilahirkan kembali, itu artinya masih ada harapan untuk mengembalikan kedamaian di tanah ini.”


“Jiwa kami sudah tercemar kegelapan, Moroa. Kau juga melihatnya kemarin, saat aku tenggelam dan berubah menjadi kegelapan. Beruntung aku bisa menemukan batu Kristalku tak lama setelahnya. Akan sangat berbahaya bagi Pejuang Zodiak lain jika kekuatan mereka bangkit sebelum menemukan Kristal Zodiak mereka. Mereka bisa menimbulkan banyak kekacauan.”


“Karena itulah anda harus menemukan mereka secepatnya, Hamal.”


Ānaru menarik napas panjang. Kata-kata tâkuta itu memang benar, ia harus segera menemukan rekan-rekannya yang lain sebelum mereka termakan kegelapan jiwa mereka.


“Aku akan menyelesaikan dulu urusanku disini, setelah itu aku akan pergi bersama Airyung,” kata Ānaru kemudian.


Sang tâkuta hanya mengangguk memberi jawaban. Tak lama kemudian tâkuta itu pun menyibak tirai bambu di sebuah ruangan. Di dalam sana terbaring tak berdaya seorang laki-laki yang langsung dikenali Ānaru sebagai matunya di kehidupan ini.

__ADS_1


Pemuda itu mendekati sisi dipan dan menatap matunya dengan prihatin. Matunya begitu lemah dan sekarat. Aura jiwanya meredup dan jelas terlihat sudah tinggal menunggu waktu hingga matunya tidak lagi bisa bertahan.


“Apa anda akan menyembuhkannya, Hamal?” tanya sang tâkuta.


“Sudah terlambat, Moroa. Aku bisa menyembuhkan penyakit, tapi tidak bisa mengingkari takdir. Sebentar lagi sudah saatnya bagi matu untuk…” Ānaru tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Meski ingatan masa lalunya telah kembali dan membawa beragam kebijaksanaan, namun ia tetaplah memiliki jati diri sebagai Ānaru, anak muda yang sangat menyayangi orang tuanya. Kenyataan bahwa matunya mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama tetap terasa menyakitkan baginya. Meski begitu, Ānaru tetap mencoba menahan kesedihannya. Kerongkongannya terasa panas karena rasa sedih yang menyesakkan.


“Saya akan menjaga beliau hingga saat-saat terakhirnya, Hamal. Saya juga akan menjaga uma anda dengan baik,” ucap tâkuta itu mencoba menghibur.


“Terimakasih, Moroa. Terimakasih…” desah Ānaru dengan suara bergetar.


 


 


Maka dengan diiringi air mata umanya, Ānaru pun terpaksa harus pergi meninggalkan desa itu. Entah apakah mereka masih bisa bertemu lagi di masa depan. Beragam emosi mendera Ānaru, mulai dari rasa bersalah, rasa sedih karena menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan kedua orang tuanya lagi, ditambah rasa khawatir akan nasib para Pejuang Zodiak lainnya.


Semua itu bercampur menjadi satu hingga membuat pemuda itu tak lagi dapat membendung kesedihannya. Walaupun begitu, Ānaru hanya menunjukkan air matanya saat ia tingga berdua dengan Airyung berjalan menuju desa utama. Airyung yang sudah terbiasa menghadapi kesedihan orang lain terus berusaha menghibur Ānaru sepanjang perjalanan.

__ADS_1


“Tâkuta itu terlihat cukup bisa diandalkan. Ia pasti bisa menjaga orang tuamu dengan baik. Para penduduk desa itu juga sepertinya sangat patuh pada tâkuta itu,” ucap Airyung mencoba menenangkan kekhawatiran Ānaru.


Ānaru mendengus pelan. Ia masih sedih, tapi tak meneteskan air mata.


“Tâkuta itu dulunya adalah muridku. Dia masih sangat kecil saat kedua orang tuanya meninggal. Mungkin ia baru berusia sekitar enam tahun. Dia berkeliaran dari desa ke desa untuk bertahan hidup. Aku menemukannya saat ia tersesat di hutan. Sejak saat itu aku merawatnya dan mengajarkan beberapa kemampuan penyembuh dan pertahanan diri padanya. Tapi aku akhirnya pergi meninggalkannya setelah kami hidup bersama selama beberapa tahun. Tak kusangka ia bisa mengembangkan kemampuannya sampai sejauh itu,” terang Ānaru kemudian.


“Dia memang kelihatan hebat. Ngaio bilang, tâkuta itulah tetua suku kalian yang sebenarnya. Namun keluarga Kaharap mengancamnya dan menobatkan orang lain sebagai tetua suku. Karena itu mereka bisa mengendalikan keputusan Putri Aroha dalam berbagai kebijakan suku,” kata Airyung.


Ānaru tercenung sejenak. Apakah itu artinya tindakannya membunuh Kaharap bisa membantu sukunya dari kejahatan keluarganya? Ānaru tidak terlalu yakin, meski begitu ia tahu kalau kematian Kaharap memang tak terhindarkan. Apa yang sudah dilakukan Kaharap terhadapnya selama ini patut mendapat hukuman setimpal. Kaharap bahkan sudah membuat banyak uluwero tewas sia-sia dalam usaha mencarinya di tengah hutan mati.


 


Perjalanan menuju desa utama memakan waktu empat hari berkendara dengan Tsagan. Ānaru memilih untuk menyamakan kecepatannya dengan Airyung dan tidak melesat sendirian karena ia tidak ingin terlalu lama menunggu di desa utama sendirian. Jika ia berjalan bersama Airyung, ia bisa lekas pergi meninggalkan desa tanpa perlu menunggu. Terlalu lama berada di desa hanya akan semakin menyakiti hati Ānaru. Terlebih tempat itu memiliki banyak kenangan dalam hidupnya.


Akhirnya, pada hari keempat, mereka pun akhirnya tiba di pintu masuk desa utama. Tampak beberapa uluwero sudah siap menyambut mereka di gerbang bambu khas suku Khitai. Ānaru dan Airyung segera melompat turun dari tunggangan mereka lantas menuntun Tsagan berjalan pelan ke arah para uluwero.


“Ānaru, kami sudah menunggu kedatanganmu,” ucap salah seorang uluwero dengan bahasa Khitai.


Ānaru lantas mengangguk lalu menyuruh Airyung menunggunya di rumah Ngaio sekaligus menambatkan Tsagan di kandang milik gadis tersebut. Airyung menurut. Gadis itu pun berpisah dengan Ānaru yang pergi mengikuti seorang uluwero menuju kediaman Kepala Suku.

__ADS_1


Putri Aroha tampak duduk di singgasananya saat Ānaru masuk ke dalam rumahnya. Namun, begitu melihat kedatangan Ānaru, sang putri langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya.


“Pemuda penggembala, benarkah kau adalah Pejuang Zodiak Aries dari suku kita?” tanya Putri Aroha tanpa basa-basi.


__ADS_2