Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Jebakan


__ADS_3

Esok harinya, Chiara kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Kale masih ada di rumah hingga saat Chiara pergi ke toko barang antik. Awalnya ibu Chiara melarang gadis itu pergi, tetapi setelah Kale meyakinkan sang ibu bahwa Chiara memang akan menemui Rein, barulah gadis itu mendapat izin.


Pembicaraan dengan Kale semalam cukup mengganggu pikiran Chiara. Banyak hal berupa potongan misteri yang sulit dipecahkan. Termasuk saat ia melihat sosok Rein kemarin di koridor VIP Venetian. Ia tahu bahwa sia-sia saja menanyai Rein tentang hal tersebut. Pemuda itu mungkin tidak akan mengakuinya. Meski Chiara juga sebenarnya tidak terlalu yakin apakah orang yang dia lihat itu memang betul Rein atau bukan.


Sesampainya di toko barang antik, Chiara justru tidak melihat Rein di mana-mana. Pegawai toko itu berkata kalau majikannya sedang sakit sehingga tidak bisa datang ke toko. Chiara sedikit dilema, apakah ia perlu menjenguk Rein atau haruskah ia tetap pergi ke Venetian, mengingat seluruh uangnya sudah habis kemarin. Akhirnya Chiara pun memutuskan untuk ke kasino dulu, dan setelah mendapat cukup uang, dia bisa pergi menemui Rein.


Seperti biasa, Venetian ramai oleh pejudi hari itu. Keributan orang-orang yang terusir karena terlalu banyak berhutang juga terdengar di dekat pintu keluar. Chiara bergegas menuju salah satu meja judi untuk mulai bermain dan mengumpulkan uang.


Ben tidak menghampirinya hari itu. Di kejauhan, Chiara bisa melihat pria itu tengah berbisik-bisik dengan Lea, si rubah betina, sembari melirik ke arahnya. Ditilik dari ekspresi Ben, apa pun yang mereka bicarakan sepertinya bukan hal yang baik. Chiara berusaha untuk tidak mempedulikannya, dan tetap fokus bermain.


Beberapa ronde berlalu dengan baik. Chiara mendapat kemenangan yang cukup bagus hingga berhasil mengumpulkan banyak chip. Setiap kali melihat uangnya bertambah, hati Chiara menjadi ringan. Tak berapa lama setelah bermain, Ben pun menyambangi mejanya. Pria itu mengusir orang yang duduk di sebelah Chiara, lantas menggantikannya duduk di tempat tersebut.


“Maaf membuatmu menunggu. Apa kau pulang dengan selamat semalam?” sapa Ben sembari menunggu tebaran kartu dari bankir.


Chiara sebenarnya malas meladeni Ben. Akan tetapi, mengingat bantuan orang itu semalam saat menukar chip – sekalipun Ben mengambil untung terlalu banyak ­– Chiara pun sedikit meredam egonya.

__ADS_1


“Kau lihat sendiri kalau aku ada di sini sekarang,” jawab Chiara ketus.


“Syukurlah kalau begitu. Kita bisa bermain dengan seru hari ini,” ucap Ben sembari menyeringai aneh.


Chiara mengerutkan dahinya. Entah kenapa Ben terlihat berbeda hari ini. Ia terasa lebih berbahaya? Terlebih setelah melihat Ben dan Lea saling berbisik sembari melirik ke arahnya tadi. Rasanya sedikit janggal. Meskipun Ben memang mengenal hampir seluruh pemain judi di Venetian, dan Lea adalah salah satu yang dekat dengan pria itu. Namun firasat Chiara entah kenapa berkata lain hari ini.


Chiara menarik napas panjang dan mencoba menyingkirkan pikiran buruknya. Ia harus cepat-cepat mengumpulkan uang dan menjenguk Rein sebelum malam tiba. Ia tidak mau lagi jika harus pulang saat gelap dan bertemu dengan diabos lagi. Bisa-bisa dia berubah menjadi serigala seperti Kale. Memikirkan hal itu saja membuat Chiara bergidik.


Permainan pertama sejak Ben bergabung di meja itu pun selesai. Anehnya Chiara nyaris tidak bisa memenangkan pertandingan. Tebakan terakhirnya hampir meleset. Ben seperti sengaja membiarkan Chiara lolos di detik-detik terakhir. Chiara tahu Ben bukan orang semacam itu. Pria itu mungkin licik, tetapi Ben tidak pernah melakukan trik psikologis yang selihai itu.


Tapi apa ini? Kebapa Ben bisa mengalahkannya dalam hanya dalam tiga putaran? Chiara tidak terima. Harga dirinya terluka. Sudah bertahun-tahun ia mempertahankan gelar sebagai pemain terbaik yang tak terkalahkan di Venetian, Sang Ratu Judi. Ia tidak bisa dikalahkan dengan cara yang memalukan seperti ini.


Pada putaran keempat, Chiara kembali bertaruh. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya, guna membuat ancaman bagi musuh-musuhnya di meja tersebut. Chiara terus menaikkan taruhannya. Banyak orang kini berkumpul di meja tersebut, sekadar ingin menonton pertandingan yang berhasil membuat seorang Ratu Judi kalah.


Chiara kembali berapi-api. Ia harus mengambil kembali uangnya yang sudah dicuri oleh Ben. Degan penuh kedengkian, gadis itu terus mengawasi Ben sembari mencari tahu trik apa yang digunakan oleh pria itu untuk mengalahkannya. Namun Ben hanya menyeringai penuh cela. Ia mengedik pelan ke arah lutut Chiara, seolah menyuruh gadis itu untuk melihat ke bawah.

__ADS_1


Awalnya Chiara tidak terlalu mengerti. Namun Ben terus melakukannya berulang kali. Saat kemudian Chiara melihat ke bawah, tiba-tiba Ben menjatuhkan sapu tangannya. Dengan heran Chiara menatap Ben, tetapi pria itu justru tetap duduk tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Apa ini salah satu cara Ben melakukan tindakan perundungan terhadap dirinya?


Karena kesal, Chiara pun akhirnya menunduk ke bawah meja, berniat mengambil sapu tangan itu lalu melemparkannya ke wajah Ben. Akan tetapi, saat sapu tangan itu sudah ada di tangannya, gadis itu pun menyadari bahwa ada sebaris tulisan yang tercoret di sana.


“Berhenti bermain sekarang, sebelum terlambat. Orang-orang ini berniat menjebakmu dengan memanfaatkanku. Kau sudah kehilangan sponsor.”


Itu tulisan tangan Ben. Chiara tidak terlalu paham maksud dari tulisan Ben tersebut. Ia pun mengurungkan niatnya semula untuk melempar sapu tangan itu ke wajah Ben, dan hanya meremasnya dengan buru-buru, lalu kembali duduk di kursinya dengan tegang.


Chiara tetap mencoba menjaga ekspresi wajahnya sembari berpikir. Ben tampaknya hendak memperingatkannya. Orang-orang ini jelas membuat situasi yang sulit bagi Chiara. Entah atas alasan apa mereka semua berniat membuat gadis itu hancur hari ini.


Chiara juga tidak mengerti tentang istilah sponsor yang ditulis Ben melalui sapu tangannya. Ia tidak pernah merasa memiliki sponsor selama ini. Atau jangan-jangan ada seseorang yang diam-diam mensponsorinya selama bertahun-tahun? Lalu hari ini sponsor itu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti mendukungnya?


Siapa manusia lancang itu sebenarnya? Jangan-jangan kemenangannya selama ini bukanlah hasil dari kemampuan Chiara sendiri? Menadadak segalanya menjadi begitu rumit. Chiara tidak bisa memutuskan apakah ia harus tetap bermain atau berhenti saja. Chipnya sudah menipis, dan kalau dia kalah satu kali lagi saja, maka bisa jadi dia justru berhutang.


Ben terus melirik Chiara. Dan meskipun pria itu masih memasang seringai menyebalkan di wajahnya, tetapi Chiara kini bisa melihat kilasan kecemasan di mata Ben. Gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu. 

__ADS_1


__ADS_2