Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Kematian


__ADS_3

.Chiara terus berlari menjauh. Malam itu tidak ada siapa pun yang menghalangi jalan Chiara. Semua orang bersembunyi di dalam rumah karena hari sudah gelap. Chiara melompat dari satu atap bangunan, ke atap bangunan lagi. Ia tidak tahu kemana tujuannya. Gadis itu hanya ingin menjauh dari semua orang. Ia benci semua orang. Terlebih ia paling membenci dirinya sendiri.


Di belakang Chiara, Altan dan Kale mengikutinya. Altan bisa mengimbangi kecepatan lompatan Chiara di atas atap bangunan. Sementara Kale mengejarnya dengan mengendarai seekor kuda hitam. Entah kuda dari mana.


Chiara terus bergerak enjauh hingga tanpa sadar dirinya kini sudah keluar dari desa. Bangunan-bangunan batu perlahan berkurang hingga akhirnya habis sama sekali. Chiara kini berada di sebuah padang gersang yang ditumbuhhi beberapa batang pohon kering tak berdaun.


Gadis itu sebenarnya tidak berniat menghentikan laju lompatannya. Akan tetapi mendadak seberkas bayangan hitam menyambarnya dari samping. Chiara terguling jatuh di tanah. Debu dan pasir masuk ke dalam mulut serta matanya.


Belum sempat gadis itu bangkit dari tanah, bayangan hitam lain menyerangnya dari depan. Chiara kembali terguling jatuh. Bayangan-bayangan hitam lantas mulai berkumpul di sekitarnya dan terus menyerang secara bertubi-tubi.


Bulu duri yang sangat tajam melukai seluruh tubuh Chiara yang tak berdaya untuk melawan balik. Selama beberapa waktu, Chiara menjadi bulan-bulanan makhluk hitam bermata merah itu. Chiara yakin bahwa makhluk-makhluk itu adalah diabos yang tengah mengincarnya.


Sebuah anak anak panah keperakan melesat melewati tubuh Chiara dan mengenai salah satu darim makhluk tersebut. Anak panah lain kembali meluncur dan melenyapkan roh jahat yang terus menyerang Chiara.


Berkat bantuan kecil itu, Chiara pun akhirnya punya keberanian untuk melawan. Diayunkannya gada besi ke sembarang arah dan mengenai dua ekor diabos sekaligus. Chiara perlahan bangkit dan terus melayangkan serangan serta cakaran ke roh-roh jahat tersebut.


“Jangan ganggu saudaraku!” Sebuah teriakan melengking terdengar bersamaan dengan datangnya derap langkah kuda.


Kale muncul dari kegelapan, menunggangi kuda hitam dengan separuh tubuh sudah berubah menjadi serigala. Dia ayun-ayunkan gada besinya sembari menyongsong ke arah Chiara. Begitu sudah cukup dekat, Kale pun melompat dari kudanya, lalu mulai bertarung melindungi saudara kembarnya.


Roh-roh jahat berkumpul begitu banyak. Entah darimana datanganya mereka, yang jelas seluruh diabos itu sepertinya memang datang karena tertarik pada Chiara maupun Kale. Altan terus menembakkan anak panahnya dari kejauhan dan melenyapkan sebagian besar roh jahat. Chiara serta Kale juga berkontribusi besar dalam menghancurkan banyakdiabos.


Sayangnya, tenaga mereka secara perlahan melemah. Chiara merasa begitu kelelahan setelah bertarung selama beberapa menit. Hal serupa nampaknya juga terjadi pada Kale. Adik kembarnya itu kini sudah mulai berubah kembali menjadi manusia.


“Kara! Pergilah bersama Altan! Di sini tidak aman! Roh jahat ini mengincar kita!” perintah Kale yang kini tubuh bagian atasnya sudah kembali menjadi manusia. Ia hanya bisa menjejak dan menendang para roh jahat itu.

__ADS_1


Chiara juga merasa tubuhnya mulai berubah. Kaki dan tangannya tidak lagi berbulu. Gaunya yang robek-robek kembali menyelimuti tubuhnya yang penuh luka.


“Apa yang terjadi?” tanya Chiara yang sudah tidak lagi membawa gada besi.


“Altan! Lindungi Kara!” seru Kale dari kejauhan.


Altan menuruti permintaan Kale. Dengan sigap pemuda itu pun melesat ke arah mereka berdua dan menyambar pinggang Chiara untuk membawanya pergi menjauh.


“Kale! Bagaimana dengan Kale! Selamatkan dia juga!” seru Chiara panik. Ia memberontak dari pelukan Altan, berusaha menggapai adiknya. Namun Altan mendekapnya begitu kuat.


Chiara semakin menjauh dari Kale. Pada detik terakhir penglihatannya, Chiara melihat Kale tersenyum sedih dan melambai padanya, seolah menyampaikan salam perpisahan. Detik berikutnya, seekordiabos menyambar tubuh Kale. Adiknya itu pun lenyap seketika.


Chiara berteriak histeris. Air matanya kembali meleleh. Ia meneriakkan nama Kale berkali-kali dengan pilu. Namun Altan sama sekali tidak mengindahkannya. Pemuda Giyatsa itu tetap melesat membawa Chiara ke tempat yang aman.


...***...


 


 


Wig abu-abunya tergeletak di atas meja di dekat tempat tidurnya. Dan seluruh tubuh Chiara sudah tertutup kain pembebat. Aroma rempah yang kuat menguar dari seluruh luka-lukanya yang tertutup. Rasanya juga sudah tidak terlalu perih, alih-alih justru terasa sejuk dan nyaman.


Chiara mencoba bangkit dan duduk di atas ranjang. Tubuhnya terasa sakit saat digerakkan. Akan tetapi gadis itu tetap memaksakan diri. Ia melihat berkeliling, tetapi tidak menemukan siapa pun.


Tak berapa lama kemudian, dari balik pintu tertutup tirai kain, muncul Altan yang datang membawa sebaskom air jernih.

__ADS_1


“Kau sudah bangun?” tanya Altan sembari meletakkan baskom tersebut di sebelah Chiara. “Aku akan merawat lukamu sebentar.


“Ini di mana?” tanya Chiara belum sepenuhnya sadar. “Apa yang terjadi?” rintihnya terus bertanya.


“Aku membuat pondok kayu sederhana di dekat hutan. Ini tempat tinggalku selama di Valas. Permisi, ya,” terang Altan sembari meraih kaki Chiara, hendak membuka kain pembebatnya untuk mengganti obat.


Chiara membiarkan Altan melakukan perawatan rutin pada luka-lukanya, sembari merangkai kembali ingatannya. Chiara lantas mengingat saat terakhirnya melihat Kale. Sontak gadis itu pun bertanya dengan panik pada Altan.


“Kale! Di mana adikku?” sergah Chiara sembari menggoyang-goyangkan bahu Altan.


Pemuda itu terdiam sejenak, lantas menatap Chiara dengan sedih. “Kale memintaku untuk memilihmu, Kara,” ucap Altan muram.


“Apa … maksudnya? Kenapa dia memintamu untuk memilihku? Memilih untuk apa?”


Altan tampak menarik napas panjang yang berat. “Banyak yang harus kau ketahui, Chiara. Kale, adikmu, telah mengorbankan diri untuk menyelamatkanmu. Kalian berdua rupanya adalah Pejuang Gemini yang sedang kucari. Namun jiwa kalian terbelah dalam diri dua anak kembar. sementara, batu Zodiak yang ada hanya bisa memilih salah satu dari kalian. Karena itulah Kale memintaku untuk memilihmu,” terang Altan panjang lebar.


“Omong kosong macam apa … ,” desah Chiara yang kata-katanya terputus oleh gerakan tangan Altan yang menyuruhnya untuk melihat ke dalam baskom.


“Lihat dirimu melalui pantulan air ini,” perintah Altan kemudian.


Chiara menurut meski dengan ragu-ragu. Ia pun melihat wajahnya di pantulan air dalam baskom. Wajahnya kacau, penuh luka dan lebam. Kedua matanya juga bengkak, entah karena bekas pukulan atau karena kebanyakan menangis. Sepertinya keduanya. Akan tetapi yang paling menarik perhatian Chiara adalah sebuah simbol aneh berwarna biru yang ada di lehernya.


Chiara yakin simbol itu tidak ada di sana sebelumya. Ia mencoba menggosok-gosok simbol tersebut, tetapi sama sekali tidak bisa hilang.


“Apa ini?” sergah Chiara masih sembari menggosok-gosokkan tangannya di leher.

__ADS_1


“Itu adalah simbol chakra zodiakmu. Itu adalah tanda bahwa kau adalah seorang pejuang Zodiak.”


__ADS_2