
Chiara kembali ke kamar tidurnya, tanpa mempedulikan apa yang terjadi di bawah. Gadis itu jarang menangis. Namun saat itu, air matanya sudah tak terbendung lagi. Chiara melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, lantas menangis sambil membenamkan wajah ke bantal.
Melihat bagaimana cara Rein kembali membantu keluarganya, membuat Chiara malu. Ia mengutuk ayahnya yang telah membuat masalah bagi keluarganya. Gadis itu pun merutuk pada adiknya, Kale, yang tidak pernah berada di rumah, terutama saat harus menghadapi masalah berbahaya seperti barusan. Ia juga membenci dirinya sendiri karena selama berhari-hari tidak menghasilkan uang.
Chiara terus menangis sampai matanya terasa begitu pedih dan bengkak. Suara ketukan pintu terdengar tak lama kemudian. Chiara tak bergeming. Gadis itu tetap membenamkan wajahnya di atas bantal tempat tidurnya. Orang yang mengetuk pintunya melangkah masuk, lalu duduk di sebelah Chiara.
“Apa kau masih marah padaku?” tanya suara seorang pria, yang sangat dikenali oleh Chiara: Rein.
Chiara tak menjawab. Rein menepuk bahunya, yang bergerak naik turun karena menahan isak tangis.
“Maafkan aku karena sudah bertindak tanpa memikirkan perasaanmu. Kara, kau tahu kalau aku benar-benar tulus padamu. Kau satu-satunya teman yang kumiliki. Orang yang paling kupercayai melebihi siapa pun juga. Karena itu kukira kau juga merasakan hal yang sama,” ujar Rein pelan.
__ADS_1
Chiara mencoba menguatkan hatinya. Ia tidak suka terlihat lemah di hadapan orang lain. Setelah mengusap air matanya yang membasahi seluruh wajah, gadis itu bangkit dari atas tempat tidur dan duduk membelakangi Rein.
“Bagiku kau juga satu-satunya temanku. Dan untuk saat ini, aku tidak ingin hubungan kita melewati batas itu,” gumam Chiara dengan suara bergetar.
Rein menelan ludah, kelu. Ia sudah bisa memperkirakan jawaban Chiara. Meskipun ia tahu persis apa alasan gadis itu menolaknya, Rein tidak bisa memaksakan kehendaknya.
“Baiklah. Aku tidak akan menyinggung tentang pernikahan lagi sampai kau sudah siap. Yang penting kau tahu perasaanku. Aku menyayangimu dengan tulus. Karena itu aku akan tetap menunggumu,” sahut Rein sedikit membujuk.
“Tentu saja. Datanglah kapanpun kau mau ke tokoku. Lakukan saja seperti biasanya. Mari kita anggap pembicaraan kemarin tidak pernah ada,” kata Rein akhirnya memutuskan untuk mengalah.
Chiara tersenyum samar, masih dalam keadaan memunggungi Rein. “Terima kasih, Rein,” ungkapnya lega.
__ADS_1
Rein menarik napas panjang. Ia tahu bahwa tidak mudah membuat Chiara menerimanya sebagai pasangan hidup. Chiara punya harga diri yang terlalu tinggi. Dan keadaan keluarga mereka berdua membuat gadis itu selalu merasa rendah diri. Padahal di mata Rein, Chiara adalah perempuan yang sempurna, terlepas seperti apa pun latar belakangnya.
“Untuk uang yang kau berikan pada para preman tadi, aku akan menggantinya dengan tabunganku yang kusimpan di ruang rahasia. Mungkin belum bisa sepenuhnya mengganti seluruh biaya yang kau keluarkan, tapi aku akan bekerja keras mulai hari ini,” ungkap Chiara sembari membalikkan badan dan menatap Rein dengan mata sambab.
Setelah tujuh hari lamanya tidak melihat wajah Chiara, kerinduan Rein membuncah. Meski begitu, wajah sembab Chiara membuat pemuda itu pilu. Ditambah lagi ucapan Chiara yang seolah-olah mengganggapnya seperti orang lain, hingga berniat mengembalikan uangnya.
“Kau tahu kalau aku tidak ingin kau terbebani dengan bantuanku. Kau tidak perlu mengembalikannya. Anggap saja bantuan dari seorang teman,” bujuk Rein.
Namun Chiara lantas memasang ekspresi terluka lagi di wajahnya. Rein menarik napas panjang yang berat. Gadis itu sekarang pasti merasa dirinya sedang dikasihani. Padahal Rein tidak berpikir demikian. Ia tulus membantu Chiara. Sayangnya, Chiara tidak mudah diyakinkan. Karena itu Rein pun memilih untuk mengalah lagi.
“Baiklah, baiklah. Aku akan menerima uangmu kalau kau bersikeras. Tapi aku tidak akan menariknya sekaligus. Bayarkan saja sepersepuluh setiap bulannya,” lanjut Rein memberi jalan tengah. Chiara sudah hendak memprotes. “Itu keputusan akhirku. Kau juga harus menghargainya, Kara,” tutup Rein tak terbantahkan.
__ADS_1