
Setelah selesai bersiap-siap, Damian akhirnya berangkat dengan kereta kudanya. Kusir yang sudah menolaknya kemarin dia pecat tanpa diberi pesangon. Kini ia sudah punya kusir baru yang usianya lebih muda. Ia memilih sendiri anak itu karena mudah diancam dan selalu menuruti keinginan tuannya. Damian memang sangat ketat mengatur orang-orang yang bekerja bersamanya.
Damian berkendara menuju mansion kediaman Viscountess Gausse. Dia harus memperbaiki kesalahannya semalam yang tidak bisa datang karena insiden serangan Deimheim. Sang Viscountess menyambut kedatangan Damian dengan sumringah, seolah sudah menantikan pemuda itu sejak lama.
“Lord Castor, saya menunggu Anda sejak semalam,” sambut sang Viscountess setelah menemui Damian di ruang tamu kediamannya.
Dua cangkir the mengepul hangat menemani percakapan mereka, berikut beragam kue dan kudapan yang ditata dengan cantik. Seluruh pelayan sudah disuruh keluar dari ruangan luas tersebut. Kini Damian hanya duduk berdua saling berhadapan dengan wanita yang baru menjanda tersebut.
“Maafkan saya, Lady Gausse. Semalam saya mengalami insiden saat hendak data kemari. Karena itu saya tidak bisa memberi kabar sebelumnya,” jawab Damian terlihat tenang.
Viscountess terlihat kaget. “Oh, astaga. Perjalanan malam memang sangat berbahaya, Lord. Saya benar-benar khawatir ketika Anda mengusulkan untuk mengunjungi saya malam itu. Tapi saya bersyukur karena Anda nampaknya baik-baik saja sekarang,” ucapnya penuh kecemasan.
“Yah, saya beruntung. Berkat kejadian itu saya memang menjadi lebih berhati-hati. Maaf karena telah membuat Anda cemas.”
“Sudah sewajarnya saya mencemaskan Anda. Lord Damian telah menyelamatkan saya di persidangan. Sekarang saya bisa tidur dengan tenang setelah mantan suami saya pergi dari rumah ini,” sahut sang Viscountess serius.
“Kabarnya mantan suami Anda kembali ke wilayah keluarga Baron di perbatasan.”
“Benar. Setelah menjalani hukuman itu, mana mungkin dia berani menampakkan wajahnya di ibu kota. Diarak telanjang itu sangat memalukan. Saya sendiri muak melihatnya, meskipun ketika menyaksikan wajah menggelikan pria itu juga membuat saya puas,” timpal sang Viscountess penuh emosi.
“Syukurlah semua sudah bisa selesai sesuai dengan yang Anda harapkan. Kesalahan sekecil apa pun tetap harus menerima hukuman. Saya berharap Anda akan mendapatkan pengganti yang lebih baik, Viscoutess Gausse,” ujar Damian sembari menghirup cangkir tehnya.
__ADS_1
Ekspresi sang Viscountess berubah menggoda. Dengan senyuman genit Viscountess itu melirik Damian, pemuda tampan yang lima empat tahun lebih muda darinya. “Anda bisa memanggil saya dengan lebih santai, Lord. Bagaimana pun kita sudah cukup akrab sejak mengerjakan kasus ini. dan sekarang saya juga sudah tidak bersuami. Karena itu, saya harap kita bisa menjadi lebih dekat,” ucap wanita itu dengan suara lembut yang memprovokasi.
Damian meletakkan cangkir tehnya, lantas tersenyum simpul. Pemuda itu beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang Viscountess.
“Kalau begitu, apa mulai sekarang aku bisa memanggilmu Elleanore?” ucapnya sembari membungkukkan badan ke arah sang janda Viscountess yang masih muda dan cantik itu.
“Tentu saja, Damian,” sahut sang Viscountess sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher Damian. Keduanya pun mulai berciuman.
Selepas pertemuannya dengan Viscountess yang menggairahkan, Damian pun kembali berkendara menuju salah satu guild rahasia tempatnya mencari informasi yang paling sulit di dapatkan juga mengambil beberapa kasus yang bisa dia kerjakan selanjutnya. Guild tersebut berada di sebuah gang kumuh yang ada di ujung pasar.
Agar tidak menarik perhatian, Damian meminta untuk diturunkan di alun-alun lalu menyelinap tanpa disadari siapa pun. Begitu berada di tempat yang sepi, Damian lantas mengenakan jubah hitam untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia Pemuda itu lantas menyusuri kawasan kumuh di ujung pasar Ponza.
“Ada yang bisa di bantu, Tuan?” ucap sang penjaga bar, seorang lelaki jangkung dengan kumis tebal dan rambut coklat.
“Segelas Mad Tonic dengan Rosemary.” Itu adalah sebuah sandi untuk bertemu dengan sang pimpinan guild.
Ekspresi ramah dari sang penjaga bar sekilas berubah serius. Akan tetapi pria berkumis itu kembali tersenyum bisnis lalu keluar dari balik meja barnya.
“Silakan ikuti saya, Tuan,” ucap pria itu sembari memandu Damian menuju sebuah pintu yang ada di belakang ruangan bar tersebut.
__ADS_1
Damian mengikuti tanpa ragu. Ini bukan kali pertamanya datang ke sini dan melakukan prosedur tersebut. di balik pintu kayu usang itu, sang penjaga bar tadi membawa Damian memasuki sebuah lorong panjang yang remang-remang. Di kanan kiri lorong tersebut berjaja beberapa pintu lain menuju ke gudang-gudang bahan makanan. Akhirnya mereka pun sampai di akhir lorong. Sang penjaga bar mengetuk pintu yang ada di ujung koridor tersebut sebanyaj tiga kali.
“Masuk.” Sebuah suara terdengar dari dalam ruangan.
Sang penjaga bar membuka pintu dengan hati-hati. “Lord Castor mencari Anda,” ucap pria itu memberi tahu.
Terdengar suara kursi bergeser. Sepertinya sang pemilik ruangan itu bangkit berdiri dari tempatnya bekerja. “Persilakan dia masuk,” ucap pria dalam ruangan.
Sang penjaga bar lantas mundur selangkah dan membuka pintu lebih lebar. Ia mempersilakan Damian masuk ke dalam sebuah ruangan kayu kecil yang berisi sebuah meja kerja dan satu set kursi kayu sederhana.
“Damian. Apa yang membawamu ke sini? Kudengar kasus keluarga Gausse sudah selesai. Apa kau mau mengambil kasus baru? Tapi biasanya kau yang menyuruh kami datang ke kediaman Castor,” sambut seorang pemuda berambut panjang yang diikat ke belakang kepala. Pemuda itu tampak ceria dan mengenakan pakaian katun sederhana yang tidak menarik perhatian.
“Aku hanya ingin jalan-jalan, Derrick,” sahut Damian lantas duduk di kursi dan melepas jubahnya. “Apa kau benar-benar tidak berniat memindahkan lokasi barmu? Daerah ini sangat sumpek dan panas. Aku sampai harus mengenakan penyamaran untuk masuk ke sini. Sangat memalukan bagi seorang bangsawan berkeliaran di daerah kumuh,” lanjutnya menggerutu.
Derrick yang sudah duduk kembali di balik meja kerjanya tertawa pendek. “Justru itulah tujuannya. Guild ini bukan hanya milik orang-orang kelas atas. Kau sendiri tahu kalau informasi jauh lebih banyak di dapatkan dari tempat minum kumuh seperti ini.” sahut pemuda berambut hitam itu.
Damian menghela napas sembari melonggarkan kancing pakaiannya karena gerah. Mau tidak mau dia juga setuju dengan logika yang disampaikan Derrick. Sementara Damian kegerahan, Derrick mengambil beberapa perkamen untuk dia berikan pada tamunya tersebut.
“Jadi kuduga kau kemari untuk kasus baru. Aku sudah menyiapkan beberapa yang cocok untukmu. Ini … .” gerakan Derrick terhenti ketika mengamati leher dan dada Damian yang sedikit terbuka. Pemuda itu lantas menyeringai tipis sembari menatap Damian dengan penuh makna.
“Kau menerima bayaran yang menarik, Damian Castor,” goda Derrick dengan seringai tipis.
__ADS_1
Damian melirik dadanya yang sedikit terbuka dan menemukan beberapa bekas ****** yang terlihat mengintip di leher dan dadanya. Pemuda itu mendengkus ringan tanpa menjawab apa-apa.
“Jadi bagaimana rasanya bercinta dengan seorang janda bangsawan?” lanjut Derrick masih terus menggoda Damian.