Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 4: Cancer] Perkelahian


__ADS_3

Surat dari Lucelia berisi sama seperti surat-suratnya yang lain. Menanyakan kabar lalu menceritakan hari-harinya di kediaman Brutus. Tampaknya gadis itu jauh lebih antusias untuk menikah dengan Damian. Mereka belum pernah bertemu karena proposal pertunangan selama ini hanya dikirimkan melalui surat. Mungkin nanti, saat acara debutant Lucelia baru Damian bisa secara resmi melihat wajahnya.


Untuk saat ini, mereka hanya bisa saling berkirim surat. Damian menghela napas pelan. Ia membaca surat itu dengan bosan. Sayangnya ia harus segera menuliskan balasan agar tidak membuat tunangannya khawatir. Ia harus bersikap baik agar hubungan mereka tetap terjaga.


Akhirnya Damian pun mengambil pena dan mulai menuliskan balasan. Surat panjang yang penuh perhatian. Damian pandai membuat kata-kata, terutama yang berisi rayuan pada seorang gadis.


 


Luceliaku yang manis,


Membaca suratmu membuatku ingin segera mengambil rkuda dan pergi ke kediaman Brutus. Aku begitu penasaran untuk bisa segera bertemu denganmu. Tulisan tanganmu yang cantik menuliskan cerita-cerita menarik yang membuatku semakin tidak sabar untuk berkunjung ke sana. Hidup bersamamu pasti sangat menyenangkan.


Kau bertanya bagaimana kabarku di Castor? Aku baik-baik saja, terutama setelah membaca suratmu. Kau selalu menghujaniku dengan banyak perhatian melalui surat yang kau kirim. Bagaimana mungkin aku tidak gembira setelah menerimanya?


Kuharap kau juga baik-baik saja di Brutus. Aku ingin membuat surat-suratku menjadi hal yang berharga untukmu, seperti yang kulakukan pada surat-suratmu. Karena itu aku hanya akan mengatakan hal-hal yang manis saja. Tolong rindukan aku sebesar perasaanku yang selalu menginginkanmu.


Tunanganmu,


Damian Castor


 


Damian menutup suratnya dengan tanda tangannya yang meliuk elegan. Pemuda itu pun kembali memanggil pelayan pribadinya, Sera, untuk mengirimkan surat tersebut. Kali ini Damian tidak banyak menggodanya. Ia sudah puas melihat wajah Sera yang bersemu merah setiap melihatnya.

__ADS_1


Rutinitasnya hari itu pun selesai. Damian sudah bersiap untuk beristirahat sejenak sebelum waktu makan malam nanti. Ia sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika mendadak pintu kamarnya menjeblak terbuka begitu saja.


Damian terbangun dengan kaget. Sontak ia melihat ke arah pintu kamarnya dan mendapati Titus sudah masuk dengan wajah marah. Kakak pertamanya itu sekilas tampak menyapukan pandangannya untuk mencari Damian.


“Ada apa, Kak? Kenapa masuk ke kamarku tanpa permisi,” tegur Damian sembari bangkit dari ranjangnya


Titus yang sudah menemukan Damian pun segera menyerbu mendekat, seperti predator yang menemukan mangsanya. Pria itu lantas mencengekeram kerah Damian dengan kuat sembari menatap nyalang.


“Kau … sejak pagi aku menunggu saat-saat ini. Apa kau tahu sudah sesabar apa aku padamu, Damian? Untuk apa kau memprovokasi ibu dan mempermalukanku di depan semua orang,” geram Titus tampak gusar.


Damian hanya mendengkus pelan melihat tingkah kakak pertamanya yang selalu tidak sabaran itu. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Titus, tetapi tangan kakaknya terlalu kuat menggenggam kerah bajunya. Padahal Damian lebih tinggi dari Titus, tetapi tetap saja, kekuatan fisik kakaknya saat emosi tetap luar biasa.


“Aku tidak melakukan apa-apa kak. Kenapa kau selalu berpikir buruk tentangku?” ucap Damian mengelak.


“Semua orang tahu bagaimana sifatmu, Damian. Apa yang kau dapat dari ini? menjelek-jelekkanku di belakang punggungku? Dasar pengecut.” Titus terus melampiaskan amarahnya yang tak terbendung.


Titus berdecih penuh cela. “Memangnya ibu akan peduli kalau bukan kau yang membujuknya? Selama ini ayah dan ibu tidak pernah ikut campur dalam urusanku, kecuali kalau kau yang menyalakan sumbunya, dasar provokator,” geramnya penuh amarah.


Damian menanggapi ocehan Titus dengan senyuman yang mengejek. “Sejak awal, kalau kakak tidak ingin dikritik, jangan melakukan hal buruk,” komentar pemuda itu penuh cela.


Detik berikutnya, kepalan tinju Titus mendarat di pipi Damian. Pemuda itu tidak sempat mengelak karena kakaknya mencengkeram kerah bajunya dengan kuat. Damian terdorong ke belakang hingga dua langkah. Beruntung ia tidak sampai jatuh ke lantai.


Akan tetapi, Titus sepertinya belum puas hanya dengan satu pukulan. Kakak Damian itu menyergap lagi sembari melemparkan pukulan lain. Kali ini Damian bisa meghindari pukulan Titus dan menahannya dengan tangan. Tubuh Damian memang beberapa inci lebih tinggi, juga lebih besar. Hal itu memberikan sedikit keuntungan.

__ADS_1


Meski begitu Titus tetap tidak menyerah. Ia terus menyerang dengan tangan yang lain, menendang, dan melakukan segala cara untuk menyakiti Damian. Damian tentu saja tidak bisa membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan kakaknya. Kini Damian pun turut melawan. Mereka berdua lantas terlibat dalam perkelahian yang intens.


Mereka bergulat hingga terlempar ke lantai. Titus lagi-lagi berhasil melayangkan pukulan ke wajah Damian, membuat bibir dan hidung pemuda itu berdarah. Damian tak tinggal diam. Ia juga memukul wajah kakaknya dan membuat mata kiri Titus lebam.


Perkelahian itu pun akhirnya didengar oleh para pelayan yang berjaga di depan kamar Damian. Siergen, butler keluarga mereka, menyerbu masuk ke kamar dan berusaha melerai mereka berdua. Tetapi Siergen sendiri tidak berhasil membuat mereka berdua terpisah, alih-alih tubuh butleritu justru ikut terlempar jatuh  karena terkena tendangan Titus sekaligus pukulan Damian.


Tak berapa lama kemudian, Sir Leichester, komandan ksatria keluarga Castor, muncul bersama dua orang anggotanya. Berkat mereka bertigalah akhirnya perkelahian dua kakak beradik itu berhasil dipisahkan.


Damian sudah tampak kacau dengan baju compang camping dan rambut berantakan. Wajahnya penuh lebam dan berdarah-darah. Titus pun tak kalah babak belur. Ia bahkan menjadi sulit berdiri karena perutnya sukses dipukul oleh Damian, tepat di ulu hati. Rasa nyerinya pasti tak tertahankan.


“Mari kembali ke kamar Anda, Tuan Muda,” kata Leichester kepada Titus. Komandan Ksatria itu memapah sang pewaris keluarga Duke Castor tersebut dengan penuh hormat. Meski begitu ia tidak menanyakan apa-apa terkait insiden tersebut.


Dengan pandangan penuh kebencian, Titus akhirnya pergi dari kamar Damian. Ia menatap tajam ke arah adik bungsunya itu sebelum benar-benar menghilang di balik pintu bersama tiga ksatria pengawalnya.


Setelah kepergian Titus, Siergen dan beberapa pelayan lain pun buru-buru membantu Damian berdiri. Mereka memapah tuan muda bungsunya ke sofa untuk diobati. Sera tampak tergopoh-gopoh datang membawa satu kotak obat untuk Damian.


“Sebenarnya, apa yang terjadi, Tuan Muda. Kenapa kalian bertengkar di dalam kamar,” ucap Siergen khawatir. Butler itu kini sudah duduk di hadapan Damian, bersiap untuk merawat luka-lukanya.


“Kau seperti tidak mengenal Titus saja. Orang itu memang kasar,” gerutu Damian penuh emosi.


“Meski begitu, Tuan Titus tidak pernah marah tanpa alasan. Beliau memang ringan tangan, tetapi biasanya ada alasan khusus yang membuat beliau sangat marah. Selain itu tekanan dari dewan legislatif akhir-akhir ini juga membuatnya sedikit sensitif,” ujar Siergen kemudian.


Damian berdecak kesal. “Jadi kau membelanya sekarang? Karena dia anak pertama dan calon pewaris kediaman ini? pergilah Siergen. Aku tidak ingin melihatmu sekarang. Biar Sera yang merawatku. Yang lain keluar dari kamar ini,” perintah Damian kesal.

__ADS_1


“Bukan begitu, Tuan Muda. Hanya saja … .” Siergen masih berusaha membujuk.


“Keluar,” ulang Damian memberi perintah sekali lagi. Akhirnya Siergen dan para pelayan lainnya pun menurut. Mereka semua keluar dari kamar Damian dan hanya menyisakan Sera yang tetap berdiri di dekat Damian dengan raut wajah khawatir. 


__ADS_2