
Tiba-tiba penutup wajah Chiara ditarik terbuka begitu saja. Cahaya yang mendadak menerpa wajahnya membuat gadis itu menutup mata karena terlalu silau. Kedua matanya belum beradaptasi dengan kondisi.
“Ratu judi yang terkenal sekarang tergolek tak berdaya di sini. Betapa menyedihkan.” Sebuah suara wanita dengan nada mengejek terdengar di dekat Chiara.
Gadis itu mengerjap beberapa kali agar matanya segera terbiasa dengan cahaya. Ia lantas mendongak dan melihat Lea sudah berdiri di hadapannya, menyeringai puas sembari memainkan rambut perak Chiara yang sudah berantakan.
Chiara kembali berontak. Ia menggerak-gerakkan tubunya sembari mengeluarkan suara yang tidak jelas.
“Malang sekali. Baiklah, akan kuizinkan kau mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kau benar-benar hancur,” ucap Lea sembari membuka penutup mulut Chiara dengan kasar.
“Kenapa kau lakukan ini, Lea? Aku tidak pernah mengganggumu!” sergah Chiara dengan suara parau. Entah sudah berapa lama ia pingsan. Sepertinya sudah cukup lama karena sekarang ia menyadari tenggorokannya sangat kering.
Lea menanggapi pertanyaan Chiara dengan tertawa. Tawa yang sangat licik. “Tentu saja aku tidak punya dendam pribadi padamu. Aku hanya menjalankan pekerjaanku. Chiara yang polos, sungguh kasihan. Kau tidak pernah tahu apa-apa selama bertahun-tahun ini. Itulah akibatnya kalau kau menjadi gadis serakah yang hanya memikirkan tentang uang. Di dunia gelap ini, setiap orang harus punya kecerdasan untuk melindungi diri sendir,” ucap Lea sembari mengusap wajah Chiara.
Chiara menampik tangan Lea dengan memalingkan wajahnya. “Sialan kau, Lea!” rutuk Chiara marah. Wajahnya kini sudah merah padam. Bukan hanya karena kemarahan, tapi juga karena bekas-bekas ikatan yang terlalu kencang.
__ADS_1
“Akan kuceritakan sedikit, karena aku tidak mau kau hanya menyalahkanku saja,” lanjut Lea. “Selama ini kau bisa bermain dengan aman karena seorang sponsor menjaminmu di Venetian. Orang itu tentu sangat kaya dan berpengaruh sehingga ia bisa membuat bosku, pemilik kasino ini, tidak berani macam-macam padamu. Dia membayar sejumlah besar uang untuk kasino kami, dengan syarat agar kau bisa terus mendapat kemenangan dan membawa pulang banyak uang. Begitulah seluruh pendapatanmu berputar.
“Memangnya selain kau, ada orang lain yang selama bertahun-tahun tidak pernah kalah? Apa itu masuk akal? Bahkan para pejudi di Venetian itu biasanya terus berganti setiap beberapa tahun sekali. Tapi kau jadi pelanggan tetap kami lebih dari lima tahun. Hal itu saja sudah janggal. Semua orang tahu tentang rahasia itu, kecuali kau, Putri Kecil. Kau justru bangga dan menganggap semuanya adalah hasil pencapaianmu sendiri. Bodoh sekali,” terang Lea penuh ejek.
“Siapa? Siapa orang itu? Yang mensponsoriku selama ini?” geram Chiara. Ia sudah muak membahas tentang sponsor ini. Chiara harus tahu siapa orang yang telah membodohinya selama ini.
Lea kembali tertawa mencela. “Seharusnya kau tidak sebodoh itu. Coba pikirkan, baru-baru ini kau bertengkar dengan siapa tentang kebiasaan berjudimu? Siapa orang yang mendadak menentangmu melakukan judi? Atau mungkin karena kau tidak mau membalas budi padanya? Misalnya dengan menikahinya? Seharusnya kau bisa menjaga sikapmu kalau ingin hidup dengan baik, kan.”
Chiara tidak yakin tentang orang yang dimaksud oleh Lea. Namun entah bagaimana ia bisa menebaknya. Tebakan yang sangat berbahaya. Jika benar orang itu yang telah menjadi sponsor Chiara … .
Lea tertawa keras sekali. “Akhirnya kau bisa menggunakan otakmu. Selama ini tuan muda itu yang melindungimu, Nona Chiara. Aku tahu kalau kalian sudah dekat sejak masih kecil. Dia datang pada kami beberapa hari yang lalu, meminta bantuan agar kau bisa berhenti berjudi. Aku tahu dia berniat menikahimu. Tapi kuduga kau menolaknya. Harga dirimu itu yang menghancurkanmu. Apa salahnya menjadi Nyonya keluarga Gillian? Padahal masa depan yang cerah sudah menantimu. Kau justru merusaknya.”
Hati Chiara seperti teriris-iris. Kenapa Rein tega melakukan hal ini padanya?
“Apa Rein juga yang menyuruh kalian menculikku seperti ini?” tanya Chiara dengan sisa hati nuraninya.
__ADS_1
“Oh, tentu tidak. Kami hanya melakukan bisnis seperti biasa. Kau mengambil terlalu banyak dari Venetian. Dan karena Lord Gillian sudah membuangmu, maka kau harus membayar sisanya dengan tubuhmu. Kau hanya perlu menghibur seorang saudagar kaya dari luar kota beberapa kali. Setelah itu kau bebas. Atau kau bisa melanjutkan profesi barumu kalau memang tertarik. Bayarannya juga lumayan,” sahut Lea sembari mengedip.
“Nah, sekarang, tunggulah dengan tenang, ya, Chiara. Tamumu akan segera datang,” tutup Lea sembari mengenakan kembali penutup mulut dan wajah Chiara. Gadis itu berontak. Tapi karena tubuhnya yang terikat, ia tidak bisa berbuat banyak.
Saat tengah bergulat dengan Lea, mendadak pintu kamar itu menjeblak terbuka dengan keras. Baik Chiara maupun Lea terkejut dengan suara pintu yang dibanting. Mereka berdua otomatis menoleh ke arah pintu tersebut.
“Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik! Apa yang sekarang kalian lakukan pada Kara!” seru sebuah suara.
Rupanya Rein datang dengan penuh amarah. Ekspresinya begitu penuh penyesalan ketika melihat Chiara terikat tak berdaya. Pemuda itu menghambur masuk, tetapi serombongan pria berbadan kekar sudah mengikuti Rein dan menyeretnya keluar.
“Lepaskan aku! Kalian mau uang?! Aku akan membayar sebanyak yang kalian mau! Lepaskan Kara!” teriak Rein berusaha memberontak.
Hati Chiara begitu pedih. Ia tidak sanggup melihat Rein tanpa merasa begitu marah. Gadis itu pun memalingkan wajahnya, tidak ingin pemuda itu melihatnya menangis.
“Kara! Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku hanya ingin kau berhenti berjudi. Maafkan aku … ,” rintih Rein yang mulai melorot lemas dalam pitingan dua orang pria kekar.
__ADS_1
“Wah, wah. Sepertinya Tuan Muda itu belum menyerah terhadapmu ya. Yasudah. Biar kuurus masalah pemuda itu. Kau baik-baiklah di sini,” ucap Lea lantas meninggalkan Chiara tanpa memasang penutup wajahnya. Chiara ditinggal sendirian lagi di dalam kamar asing.