Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 2: Taurus] Pertengkaran


__ADS_3

“Kau benar-benar tidur dengan gadis Giyatsa itu?” Sore itu Baltazar terus merepet pada Bianco. Berita menyerbar dengan cepat. Bahkan Baltazar yang biasanya ketinggalan banyak hal karena sibuk menghisap ganja atau obat-obatan lainnya, sekarang terus menempel padanya penuh rasa ingin tahu. Tanpa menebak pun Bianco sudah langsung tahu siapa pelaku pernyebarluasan gosip: Andres.


Pria itu punya mulut seringan bulu. Kalau saja kejadiannya sedikit terencana, mungkin Bianco akan sempat membungkam mulut Andres. Sayangnya hal-hal semacam ini biasanya terjadi pada momen-momen tak terduga. Baik ia maupun Ekhtuya terbawa keadaan hingga gagal menahan diri.


“Dari semua orang, kenapa harus perempuan itu? Kau memang penantang maut,” komentar Baltazar yang mendadak jadi cerewet.


“Dia punya nama, Bal. kenapa kau memanggilnya gadis Giyatsa atau perempuan itu?” protes Bianco yang entah kenapa terganggu akan hal sepele semacam itu.


“Jadi kau dan dia itu apa?” tanya Baltazar tanpa peduli pada kata-kata Bianco.


Bianco berdecak kesal. Inilah kenapa ia benci bila rasa penasaran Baltazar sudah terpancing. Orang ini hanya akan terus bertanya tanpa peduli pada perasaan lawan bicaranya.


“Tentu saja Bianco hanya main-main. Mana mungkin dia berpaling dari Nona Beatris. Dia sudah seperti Santo pemuja Beatris.” Andres mendadak muncul dari balik tangga.


“Aku tidak seperti itu, Andres,” sahut Bianco sambil menarik napas panjang. Hari ini sepertinya akan menyebalkan. Beruntung Ekhtuya masih mandi. Jadi gadis itu tidak perlu mendengar percakapan mereka.


“Akhirnya kau beranjak dewasa, Bian. Aku bangga padamu,” goda Andres sambil menepuk-nepuk bahu Bianco.


Kejadian semalam bahkan bukan kali pertama bagi Bianco melakukannya. Andres hanya menyindirnya karena selama ini Bianco tidak pernah menyentuh wanita lain selain Beatris.


“Jadi bagaimana rasanya, Bian? Apakah tubuh kecil gadis itu terasa … .” Ucapan Baltazar terpotong karena Bianco segera menarik kerah pria itu.


“Itulah kenapa kau sebaiknya tidak banyak bicara, Bal. Kepalamu itu hanya berisi hal-hal kotor,” geram Bianco sambil melotot marah.

__ADS_1


Baltazar diam saja. Ia menatap Bianco dengan ekspresi datar. Andres yang melihat potensi keributan di antara keduanya lekas menyeruak ke tengah.


“Sudah. Hentikan. Bal, sebaiknya kau tidak mencari masalah dengan Bianco. Dan kau, Bian, simpan dulu harga dirimu yang tidak berguna itu. Lebih baik tidak membuat masalah sebelum bar dibuka,” ancam Andres sambil melerai keduanya.


Bianco akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. “Ini bukan karena harga diriku yang tinggi. Kata-katanya seperti itu tidak pantas untuk diucapkan untuk perempuan manapun.”


Baltazar mendengkus pendek sambil menyeringai mencemooh. “Kebodohanmu itu yang membuat para wanita mempermainkanmu. Dasar laki-laki memalukan,” ujar Baltazar lantas berbalik pergi begitu saja, seolah Bianco sama sekali bukan orang yang pantas mendapat perhatiannya.


Bianco menggeram marah. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Kata-kata terakhir Baltazar menusuk hingga ke lubuk hatinya. Apakah Ekhtuya juga sama seperti Beatris yang hanya ingin memanfaatkannya? Mendadak kemarahan kembali menguasai Bianco.


“Jangan pikirkan kata-kata Baltazar. Orang itu memang suka bicara sembarangan. Kau tahu sendiri otaknya sudah rusak karena obat-obatan,” hibur Andres sambil menepuk punggung Bianco.


Bianco mengibaskan tangan Andres dengan kesal lantas beranjak ke meja barnya untuk mulai menyiapkan peralatan. Andres hanya menarik napas panjang sambil menggeleng pelan.


 


Ekhtuya muncul tak lama kemudian. Gadis itu segera menghampiri Bianco dan menyapanya dengan ceria. Bianco benar-benar ingin membalas sapaannya, tetapi kata-kata Baltazar sebelumnya masih terasa mengganggu. Akhirnya Bianco pun hanya membalas sapaan Ekhtuya dengan satu anggukan pendek. Gadis itu mengerutkan kening dengan bingung karena sikap Bianco yang berubah dingin. Akan tetapi Ekhtuya memilih untuk menahan diri. Mungkin Bianco hanya ingin bersikap profesional saat bekerja.


Akan tetapi, hingga waktunya menutup bar, Bianco tetap terus menghindari Ekhtuya. Bahkan hingga esok paginya Bianco tidak juga mengajaknya bicara. Karena kesal, gadis itu pun nekat mendatangi Bianco yang tengah sarapan di kamarnya.


“Jadi kau ada masalah apa lagi denganku?” tanya Ekhtuya yang masuk ke kamar Bianco tanpa mengetuk.


Bianco yang tengah mengangkat sendok supnya akhirnya meletakkannya kembali ke mangkuk. Ia tahu Ekhtuya akan mendatanginya cepat atau lambat.

__ADS_1


“Tidak ada. Aku baik-baik saja. Apa kau sudah sarapan? Duduklah. Kita bisa makan bersama,” kata Bianco tanpa menoleh.


Ekhtuya mendengkus kesal. Namun gadis itu mengikuti saran Bianco dan duduk di hadapannya sambil melipat tangan.


“Aku tahu kau pasti memikirkan hal-hal yang tidak penting lagi, kan?” tebak Ekhtuya tepat mengenai sasaran.


“Aku tidak memikirkan apa pun,” sahut Bianco tampak acuh.


“Lalu kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Apa kau berusaha menjauhiku? Apa itu yang selalu kau lakukan pada para perempuan yang sudah kau tiduri?” cecar Ekhtuya dengan nada sinis.


Bianco membanting sendok supnya di atas meja kayu. Bunyi brakkeras segera membuat suasana ruangan semakin tegang. Meski begitu, Ekhtuya sama sekali tidak merasa terintimidasi. Alih-alih, gadis itu justru semakin tajam menatap Bianco.


“Sepanjang hidupku, aku hanya pernah tidur dengan dua perempuan. Yang pertama hanya memanfaatkanku hingga aku kehilangan harga diriku. Dan yang kedua itu kau,” kata Bianco dengan suara rendah.


Ekhtuya mengangkat sebelah alisnya. “Jadi, apa kaitannya itu dengan sikapmu yang menyebalkan ini?”


Helaan napas Bianco terdengar semakin berat. Ia tahu bahwa rasa sakit yang ditimbulkan Beatris padanya telah membuat pemuda itu mencurigai Ekhtuya. Padahal mungkin Ekhtuya bukanlah perempuan kejam seperti nona mudanya. Meski begitu ia benar-benar tidak bisa mengontrol pikiran buruknya saat ini.


“Bian, aku tidak peduli apakah kau akan memperlakukanku dengan baik atau tidak. Itu terserah padamu saja. Tapi kau harus tahu hal ini: aku akan bersikap sesuai dengan yang kau lakukan terhadapku. Jadi kalau kau ingin menghindariku, aku juga tidak akan berusaha mendekatimu lagi,” kata Ekhtuya tegas. Perempuan itu lantas bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Bianco seorang diri.


Bianco tertegun selama beberapa saat. Tidak pernah ada perempuan yang bersikap tegas padanya. Selama ini Beatris hanya selalu bersikap sesuka hatinya dan bila Bianco memprotes atau merajuk, Beatris selalu membujuknya dengan beragam cara. Bujukan-bujukan Beatris yang seperti ular itulah yang akhirnya meracuni Bianco hingga membuatnya begitu menderita selama bertahun-tahun.


Akan tetapi, sekarang Ekhtuya bersikap sebaliknya. Secara terang-terangan perempuan itu mengungkapkan isi hatinya. Hal tersebut membuat jantung Bianco mendadak berdebar-debar. Ini pertama kalinya ia menjadi begitu serakah karena menginginkan seorang perempuan. 

__ADS_1


__ADS_2