
Dalam hidup ini, terkadang apa yang diharapkan tidak terjadi. Justru sesuatu yang biasanya dihindari, malah datang tanpa diduga. Itulah yang kemudian dialami oleh Bianco. Pemuda itu menerka kalau nona mudanya akan datang sekitar dua bulan lagi. Atau paling cepat satu bulan setelah kejadian di arena torero. Selama waktu itu, Setidaknya Bianco bisa memberi gaji kepada Ekhtuya agar gadis itu bisa mencari tempat tinggalnya sendiri yang layak.
Akan tetapi kenyataannya, Beatris datang tepat ketika Ekhtuya bekerja di bar selama sepuluh hari. Bianco bahkan tidak mendapat pertanda apa pun terkait kedatangan wanita itu. Ekhtuya sedang mengurus pelanggan ketika pintu bar terbuka dan menampakkan sosok wanita berpenampilan elegan.
“Apa-apaan ini, Bianco?” tanya Beatris sambil menatap Ekhtuya yang mengenakan apron kerja milik Bianco.
Bianco hanya bisa menelan ludah. Lidahnya kelu dan ia tidak sanggup menjawab apa-apa. Otaknya dipaksa untuk berpikir cepat, tetapi tidak ada jawaban yang cukup masuk akal untuk mencegak kekesalan Beatris.
Wanita itu pun berjalan dengan pongah melewati Ekhtuya yang berdiri terdiam dengan rambut diikat tinggi. Ia lantas mendekati Bianco yang sudah tertunduk salah tingkah. Rasanya seperti tertangkap basah sudah melakukan tindak kriminal.
“Sudah kukatakan berkali-kali, Bianco. Aku tidak menerima pekerja wanita di bar ini. Kalau kau menemukan perempuan yang membutuhkan uang, kirim mereka ke rumah bordil. Tapi kau malah membawanya ke sini tanpa meminta izinku?” kata Beatris yang berbisik di telingan Bianco.
Bianco semakin kehilangan kata-katanya. Kemarahan Beatris mungkin akan membuat Bianco kehilangan posisinya saat ini. Namun lebih dari itu, Bianco bisa saja kehilangan kasih saying Beatris dan hal itu adalah yang terburuk untuknya saat ini.
“Maaf mengganggu percakapan kalian. Tapi Bianco tidak bersalah. Akulah yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Bianco hanya sedikit membantuku untuk beberapa waktu. Aku akan segera meninggalkan tempat ini sekarang juga kalau keberadaanku memang membawa masalah.” Tiba-tiba Ekhtuya sudah berdiri di dekat mereka sambil memeluk nampan.
Gadis itu memiliki tubuh mungil yang sedikit lebih pendek dari Beatris. Meski begitu, tidak ada yang meragukan kekuatan Ekhtuya. Andres dan Baltazar bahkan turut berdiri di sisi gadis itu, entah dengan maksud apa. Antara mencegah Ekhtuya mendapat kekerasan oleh Beatris atau justru sebaliknya.
__ADS_1
“Penampilanmu sangat asing, Nona. Apa kau perempuan yang sedang terkenal di antara para torero bodoh itu? Kau yang mengalahkan mereka saat membuat keributan di barku?” tanya Beatris kemudian.
“Jadi kau sudah tahu sejak awal kalau Ekhtuya berada di sini?” desah Bianco yang akhirnya mampu bersuara.
Beatris mendengkus pelan. “Nuchas ini suku yang kecil, Bian. Bagaimana mungkin aku tidak mendengar kabar burung yang selalu berkicau di sekitarku?” ucapnya sambil tersenyum simpul.
“Jadi alasanmu ke sini memang untuk membuat masalah dengan Ekhtuya?” tanya Bianco dengan suara rendah.
Beatris tampak sedikit tercengang. Ia tidak menyangka Bianco bisa mengatakan kata-kata yang mengonfrontasinya seperti itu. Entah mengapa ia merasa Bianco sedikit berubah dari biasanya. Pemuda itu sudah selalu patuh padanya selama bertahun-tahun. Namun sekarang Bianco tiba-tiba menanyakan hal yang terkesan membela perempuan yang baru dia kenal itu.
“Maksud saya, apakah Nona tidak berkenan dengan keberadaan perempuan suku Giyatsa itu? Kalau memang Nona ingin saya mengusirnya ... ,” ucap Bianco yang segera menyadari ekspresi buruk Beatrisia.
“Tidak perlu tegang begitu, Bian. Aku kemari hanya karena ingin melihat Nona ini dengan mata kepalaku sendiri. Maafkan aku karena sudah melakukan candaan yang keterlaluan,” ucap Beatris dengan senyuman.
“Baik, Nona,” jawab Bianco pendek.
“Kalau begitu bolehkah aku mengajakmu berbincang sebentar, Nona Ekhtuya?” tanya Beatris yang sudah beralih pada Ekhtuya.
__ADS_1
“Tentu saja. Saya juga ingin banyak berbincang dengan Anda,” sahut Ekhtuya yang justru tampak antusias.
Bianco sedikit waspada. Beatris tidak biasanya menghabiskan waktunya bersama orang lain yang menurutnya tidak penting. Namun kini jelas terlihat bahwa wanita itu sangat tertarik pada Ekhtuya.
“Bian, kau bisa menyediakan minuman untuk kami di lantai atas,” perintah Beatris pada Bianco.
Bianco hanya bisa mengangguk patuh. Ia pun melepas Ekhtuya yang berjalan mengikuti Beatris ke lantai dua dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa hatinya merasa cemas.
“Bian, apa kau yakin mereka berdua akan baik-baik saja? Apa kami perlu berjaga di lantai dua?” tanya Andres segera setelah kedua perempuan itu tidak terlihat lagi.
“Tidak perlu. Nona Beatris bukan wanita yang suka melakukan kekerasan pada orang lain,” tanggap Bianco sembari menuang minuman.
“Bukan Nona Muda yang kukhawatirkan. Tapi gadis Giyatsa itu. Kau tahu sendiri bagaimana kuatnya dia. Bukankah berbahaya membiarkan Nona Beatris sendirian bersama pembunuh sepertinya?” sergah Andres.
Bianco menarik napas panjang. Kata-kata Andres menyadarkannya bahwa ia kini justru lebih mengkhawatirkan Ekhtuya ketimbang Beatris. Bagaimana bisa dia menjadi lengah begitu? Apa perasaannya sudah berubah?
“Ekhtuya bukan orang yang mudah terpancing. Dia gadis yang tenang sepanjang nyawanya tidak terancam,” sahut Bianco kemudian.
__ADS_1
“Semoga kata-katamu benar, Bian,” ucap Andres masih dengan wajah cemasnya.
Bianco kembali menghela napas. Pikirannya mendadak penuh. Hal-hal rumit yang selama ini dia hindari kini justru menyergapnya. Bianco benar-benar lelah. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak membuat analisis lebih lanjut terhadap perasannya.