
Chiara tersentak bangun dari tidurnya. Suasana kamar yang gelap menyambut gadis itu. Mimpi aneh tadi terasa begitu nyata. Chiara masih bisa merasakan aroma bunga krisan dan suara bisikan yang membangunkannya.
Gadis itu mengerjap beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya di tengah kegelapan. Kejadian-kejadian janggal terus dia alami beberapa hari ini, termasuk mimpi anehnya barusan. Entah kenapa Chiara merasa mimpi tadi begitu berkesan. Sepotong nama yang dibisikkan oleh seseorang dalam kepalanya terasa sangat familiar, seolah itu adalah bagian dari dirinya.
Setelah selama beberapa waktu membiarkan kesadarannya pulih sepenuhnya, Chiara pun bangkit dari tempat tidurnya. Ia pergi keluar kamar untuk mengambil air minum. Perutnya lapar karena semalam ia tidak makan.
Rumahnya gelap. Ibu dan adik-adik Chiara sepertinya masih terlelap. Gadis itu mencari sisa makanan di ruang makan. Siapa tahu masih ada roti kering yang tersimpan. Namun ia tidak menemukan apa-apa di sana. Kantong uang yang dilemparkan ibunya kemarin pun sudah tidak terlihat. Meski marah, ibunya tetap mengambil uang Chiara. Betapa munafik.
“Apa kau lapar?” sebuah suara mengejutkan Chiara.
Ternyata Kale sudah berdiri di belakangnya. Adik kembarnya itu melempar sebutir apel padanya. Chiara menangkap apel itu, masih segar dan utuh.
“Ibu memutuskan untuk menghukumu dengan tidak memberimu makan. Jadi aku menyimpan beberapa makanan,” lanjut Kale sembari duduk di meja makan. Pemuda itu pun menyalakan lentera agar suasana tidak terlalu gelap lagi.
“Kenapa kau belum tidur?” tanya Chiara mengikuti adiknya duduk di meja makan. Digigitnya apel iu karena sudah begitu lapar. Ia memutuskan untuk sedikit bersikap baik pada Kale karena telah memberinya sebutir apel.
“Aku baru terbangun. Mimpi aneh. Saat mau mengambil minum aku melihatmu mengendap-endap mencari makanan, seperti tikus pencuri.”
Chiara mendengkus pelan. “Bahkan tikus pun tidak bisa tinggal di rumah kita karena tidak ada apa pun yang bisa dimakan di sini.”
“Kau benar,” sahut Kale tertawa kecil. “Kenapa kau terbangun malam-malam?” lanjutnya bertanya.
“Aku juga bermimpi aneh. Bukan mimpi menyeramkan. Tapi aneh. Rasanya terlalu nyata untuk sekadar mimpi biasa.”
“Begitukah? Mungkin kita memimpikan hal yang sama. Aku bermimpi sedang berada di taman bunga krisan. Tempat itu rasanya sangat familiar. Seseorang memanggil namaku … tapi aku lupa … Jo… Ja … .”
__ADS_1
“Jauza,” sambung Chiara melengkapi kalimat Kale.
“Iya. Itu. Jauza. Bagaimana kau bisa tahu?” sergah Kale heran.
Chiara pun tak kalah heran. “Aku juga memimpikan hal yang sama persis,” gumamnya tak percaya.
Mereka berdua terdiam selama beberapa waktu. Apa masuk akal kalau dua orang memimpikan hal yang sama persis di waktu yang sama? Meskipun mereka berdua kembar, namun kejadian semacam ini sepertinya tidak lazim terjadi.
Dan nama itu. Jauza. Chiara berani bersumpah ia tidak pernah mendengar nama itu seumur hidupnya. Akan tetapi rasanya begitu familiar. Kale bahkan mendengar hal yang sama, dan menganggap nama itu adalah namanya sendiri.
“Kenapa kau berpikir kalau itu namamu?” tanya Chiara kemudian.
Kale menggeleng pelan. “Entahlah. Aku hanya merasa begitu. Suara itu seperti memanggilku. Nama yang sudah sangal lama sekali kusandang, nyaris kulupakan.”
Sejujurnya Chiara juga merasakan hal yang sama. Apakah ikatan mereka sebagai saudara kembar memang bisa sekuat ini? Namun mengapa hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya?
“Kudengar kau ditolong oleh pemuda berambut perak itu. Kau juga mengenal Altan?” tanya Kale.
Chiara tak menyangka kalau adiknya ternyata juga mengenal pemuda Giyatsa tersebut. Hal itu menggelitik rasa penasaran Chiara untuk menggali lebih dalam.
“Bagaimana kau mengenalnya?” Chiara bertanya dengan terkejut.
“Yah … kami bertemu beberapa kali minggu lalu. Dia juga sempat menyelamatkanku saat hampir diserang oleh seekor diabos. Sepertinya orang Giyatsa itu memang penangkap roh jahat, karena dia juga menyelamatkanmu dari serangan diabos,” terang Kale. “Tapi ngomong-ngomong, ada kejadian aneh saat itu. Entah bagaimana aku bisa berubah wujud,” ungkapnya lirih.
“Berubah wujud?” tanya Chiara.
__ADS_1
Kale mengangguk pelan. “Aku tidak pernah mengalami ini sepanjang hidupku. Tapi dua malam yang lalu, saat aku diserang oleh diabos di jalanan pasar, tiba-tiba tubuhku berubah menjadi semacam manusia serigala. Bahkan aku punya gada berduri sebagai senjata.”
Chiara otomatis menjatuhkan apelnya hingga ke lantai. Ia kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa Kale juga mengalami hal yang serupa dengannya, atau justru lebih parah. Pertanda apakah ini? Apa mungkin keluarganya memang memiliki darah penyihir atau semacamnya? Atau leluhurnya yang punya kemampuan aneh dan tersembunyi? Beragam pertanyaan memenuhi benak Chiara hingga ia tak tahu mana dulu yang harus dilontarkan.
“Karena ketakutan, aku akhirnya pulang ke rumah. Kurasa sebaiknya aku tidak keluar-keluar dulu beberapa hari ini. Aku masih sangat shock. Tapi begitu Altan muncul, wujudku kembali seperti semula.
“Terdengar konyol, kan. Kau mungkin tidak mempercayainya, Kara. Ini memang sulit dipercaya. Tapi aku benar-benar mengalaminya. Pengalaman aneh itu,” kisah Kale sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Chiara masih tertegun. Secara perlahan ia menggeleng menanggapi cerita Kale. “Aku seratus persen mempercayaimu, Kale. Karena aku juga mengalami hal yang sama,” gumam gadis itu sembari menerawang, mengingat kedua tangannya yang berubah menjadi gada besi berduri.
“Kau juga berubah menjadi serigala? Kapan? Semalam? Saat Atan mengantarmu pulang?” cecar Kale tertarik.
“Tidak seekstrim itu. Hanya tanganku yang berubah menjadi gada besi berduri. Saat itu aku sudah hampir mati karena diterkam oleh diabos. Lalu aku memikirkan koin-koin emasku, uang yang sudah susah payah kukumpulkan. Dan tiba-tiba, tanganku berubah menjadi gada besi,” kisah Chiara terus terang.
Kale mengdekus pelan menahan tawa. “Kita ini benar-benar saudara kembar ternyata. Aku juga memikirkan tentang uang saat itu. Diabos itu membuat uang-uangku terjatuh ke selokan. Dan aku marah sekali. Saat itu aku berpikir untuk menghancurkannya karena membuat seluruh keping emasku berceceran di air kotor. Sesaat kemudian bulu-bulu muncul di tubuhku. Aku meraung seperti hewan buas. Saat sadar aku sudah menjadi setengah serigala.”
Chiara mengangguk setuju. Kalau berada di posisi Kale, ia pun juga akan marah. Keping-keping emas kesayangannya tidak boleh terluka. Akan tetapi, bukan itu yang penting sekarang.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada kita? Aku yakin kejadian tersebut berkaitan dengan mimpi kita barusan,” telisik Chiara mengalihkan pikirannya dari uang.
“Altan berkata tentang Pejuang Zodiak,” jawab Kale sedikit ragu.
“Apa kau pikir kita adalah Pejuang Zodiak? Itu … terlalu absurd.”
Kale mengangguk pelan. “Memang. Lagipula setahuku Pejuang Zodiak hanya ada satu dari setiap suku. Kita berdua jelas sama-sama berasal dari Valas. Kalau memang salah satu dari kita adalah Pejuang Zodiak, lalu yang lainnya apa?”
__ADS_1
“Entahlah. Ini membingungkan,” gumam Chiara kemudian.