
Dua hari sudah Ānaru mendekam dalam penjara. Para penjaga hanya memberikan makanan satu kali. Itupun makanan menjijikkan yang lengket dan berbau aneh. Saat siang menjelang, seorang tâkuta, dukun penyembuh suku Khitai, datang dan merawat luka-lukanya. Tâkuta itu sudah sangat tua. Seluruh rambutnya sudah putih, dan ia juga harus berjalan dengan bantuan tongkat.
Tâkuta itu membawa semacam ramuan rempah beraroma kuat untuk dibalurkan pada luka-luka Ānaru. Berbeda dengan ramuan Airyung yang terasa dingin saat diaplikasikan, ramuan basah milik tâkuta itu justru terasa perih ketika terkena kulitnya yang terluka. Ānaru mengernyit setiap kali tâkuta itu mengoleskan obat herbalnya.
“Kenapa kau lemah sekali, anak muda. Ini cuma luka kecil yang bahkan tidak menembus terlalu dalam,” kata tâkuta itu dengan bahasa Khitai. Suaranya parau khas orang tua.
Apa orang tua ini meremehkannya? Ānaru masih ingat dengan jelas ketika bulu-duri kinokambe itu tertusuk hingga menembus perut dan dadanya. Rasa sakit itu tidak mungkin dilupakan Ānaru. Tapi sekarang seorang tâkuta tua berkata kalau lukanya tidak terlalu dalam? Padahal darahnya sudah keluar begitu banyaknya hingga rasanya Ānaru hampir mati kehabisan darah.
“Lihat, luka di punggungmu bahkan sudah mulai kering,” lanjut sang tâkuta dengan suara parau.
Ānaru dengan kesal melirik luka di dadanya, berniat untuk membuktikan kata-kata tâkuta tua itu. Tapi betapa terkejutnya Ānaru, karena ternyata lubang di perut dan dadanya benar-benar sudah menutup! Luka tusukan yang seharusnya menembus hingga punggungnya kini tinggal menyisakan goresan ringan yang mengering.
“Kenapa lukaku bisa sembuh secepat ini?” tanya Ānaru tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Itu karena tubuhmu kuat, anak muda. Aku bisa melihat aliran energi di chakra manipūra mu mengalir dengan baik. Ia mulai terbuka dan memberi efek yang bagus untuk penguatan tubuh,” terang tâkuta itu.
“Chakra manipūra?” tanya Ānaru tak mengerti.
Orang tua itu mengangguk-angguk. “Benar, nak. Itu chakra ketiga yang terletak di atas pusar,” ucapnya kemudian.
Ānaru tidak terlalu paham tentang hal itu. Sepertinya tâkuta itu memang mengerti banyak hal tentang ilmu pengobatan.
“Bagaimana kau tahu kalau aku punya energi semacam itu?” tanya Ānaru kemudian.
__ADS_1
“Setiap orang punya tujuh chakra utama. Tapi pada kebanyakan manusia, energi itu terblokir karena beberapa sebab. Seumur hidupku, baru sekarang aku melihat orang yang memiliki aliran energi manipūra sejernih ini. Untuk mata terlatih seperti orang tua ini, kau terlihat seperti dilingkupi cahaya berwarna kuning yang berasal dari perutmu.
“Itulah energi chakra manipūra yang sudah terbuka. Energi itu memberi vitalitas dan kekuatan pada tubuh, termasuk mempercepat penyembuhan bagian yang terluka. Menurutku, kau bukan orang biasa nak. Kau punya takdir yang hebat di masa depan,” jelas tâkuta tua itu panjang lebar.
Ānaru menjadi lebih tertarik pada penjelasan itu. Ia menduga-duga, apakah hal itu juga yang membuat dia mendapat kemampuan teleportasi? Sejak semalam ia terus memikirkan penjelasan akan kecepatannya yang tidak masuk akal itu. Jika yang dikatakan orang tua itu benar, artinya dia sama sekali tidak kerasukan roh jahat.
“Kenapa aku memiliki energi itu?” tanya Ānaru penasaran.
“Perlu latihan yang sangat keras untuk menyelaraskan ketujuh chakra di tubuh. Tapi kau sudah bisa melakukannya di usia yang begitu muda. Aku hanya bisa memastikan satu hal, nak. Kau sudah membawa kekuatan itu sejak lahir. Mungkin jiwamu memang sudah memilikinya jauh sebelum kau berada di dunia ini. Kau punya takdir yang tidak biasa.”
Jawaban orang tua itu tidak memuaskan Ānaru. Tapi Ānaru menduga, tâkuta itu pasti tidak akan bersedia memberikan penjelasan lebih dari itu. Meski begitu, sepanjang hidupnya Ānaru tidak pernah percaya pada takdir yang sudah digariskan. Semua orang bisa berjuang dan mengubah takdirnya sendiri. Dan Ānaru memang sedang melakukannya. Apapun takdir yang dikatakan orang tua ini, Ānaru tidak berniat mengikutinya. Terlebih jika takdir itu hanya akan membawanya semakin terpuruk.
Ānaru tidak dirasuki roh jahat. Seorang penyembuh tua menjelaskan kemampuannya meski dengan istilah yang tidak terlalu dipahami Ānaru. Walau begitu, setidaknya bila nanti Putri Aroha memanggilnya kembali untuk menentukan hukumannya, Ānaru bisa memberikan alasan itu, dan menyuruh tâkuta tua tadi bersaksi atas dirinya.
Tapi kekhawatiran tidak terlalu menganggu Ānaru. Sejujurnya Ānaru lebih yakin kalau Putri Aroha akan membebaskannya. Bahkan mungkin Ānaru akan mendapat penghargaan karena sudah berhasil mengalahkan tiga ekor kinokambe dalam semalam. Putri Aroha sendiri mengatakan bahwa selama ini hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh uluwero terbaik Khitai sekalipun.
Sayangnya, hingga larut malam, tak ada kabar apapun yang didengar oleh Ānaru. Baik hukuman atau pembebasan, keduanya sama sekali tidak diketahui Ānaru. Pemuda itu akhirnya hanya bisa mempertimbangkan kemungkinan adanya sidang lagi besok pagi, untuk mengumumkan keputusan Putri Aroha.
Tiba-tiba di tengah kegelapan ruangan penjaranya, Ānaru mendengar keletak kunci dibuka. Samar-samar Ānaru melihat bayangan beberapa orang yang berkerumun di depan sel-nya. Tidak lebih dari tiga orang. Salah satu siluet itu bahkan sangat akrab dengan Ānaru.
“Airyung? Apa itu kau?” tanyanya sembari bangkit duduk dari posisi tidurnya.
__ADS_1
“Sssttt…” bisik Airyung menyuruh Ānaru untuk tidak berbicara terlalu keras.
“Kenapa kau ada di sini? Siapa orang-orang di belakangmu?” bisik Ānaru bertanya.
Namun sebelum pertanyaannya terjawab, Ānaru sudah terperangah lebih kaget lagi.
“Matu…uma…” bisik Ānaru tak percaya. “Kenapa kalian ada di sini?” lanjut Ānaru berbisik.
“Ānaru… Anakku…” rintih uma-nya kemudian memeluk Ānaru sambil berlinangan air mata.
“Uma kenapa ada di sini?” tanya Ānaru dalam bahasa Khitai.
“Aku tidak mengerti bahasa sukumu, Ānaru. Karena itu aku tidak tahu perkembangan masalahmu. Tapi siang tadi orang tuamu mendatangi rumah Ngaio. Dengan bantuan Ngaio yang menterjemahkan ucapan mereka, aku mengetahui bahwa ternyata Kepala Suku-mu akhirnya memutuskan untuk memberikan hukuman mati padamu. Orang tuamu ini mencariku karena ingin meminta tolong padaku untuk menyelamatkanmu.” Airyung menjelaskan panjang lebar dengan suara setengah berbisik.
Ānaru tak bisa percaya apa yang barusan didengarnya. “Tapi aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku sudah punya jawaban untuk keanehan di tubuhku,” ucap Ānaru tidak terima.
“Sttt… aku tahu, aku tahu. Karena itulah kami di sini sekarang. Kita harus kabur sebelum pagi datang. Eksekusimu akan dilakukan pagi ini,” desis Airyung.
“Kabur? Kau gila? Bagaimana mungkin aku kabur dari sini? Kita mau kemana?” sergah Ānaru.
“Sstt.. sudahlah, turuti saja kata-kataku saja. Kau tidak lihat kedua orang tuamu sangat khawatir,” kata Airyung kembali mendesis.
Ānaru tidak bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang tuanya dalam gelap. Meski begitu, ia merasakan pelukan ibunya yang gemetaran sambil menangis. Sepertinya ia memang tidak punya pilihan lain selain menurut.
__ADS_1
...***...