Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 4 Cancer] Mimpi


__ADS_3

Pada akhirnya, Damian pun bisa beristirahat sendirian di dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang memang kelelahan akibat perjalanan jauh yang cukup lama. Sambil menengadah ke langit-langit, Damian memikirkan kembali ucapan Kutzo barusan.


Memang ia telah dua kali mengalami kejadian buruk saat bertemu dengan Roh Jahat. Nyawanya di ujung tanduk. Ia sadar bahwa kemampuan roh jahat itu sama sekali tidak bisa ditandingi oleh orang biasa. Setelah mengalami keadaan nyaris mati seperti itu, ucapan Kutzo menjadi lebih masuk akal. Akan tetapi, benarkah kalau umat manusia akan punah karena serangan Deimheim itu.


“Menambah pikiranku saja,” gumam Damian sembari memiringkan tubuhnya di atas tempat tidur kapuk yang keras.


Ia sedikit merindukan kasurnya yang lembut dengan bulu angsa. Namun, keadaan itu jelas tidak bisa dia dapatkan sekarang. Karena itulah Damian memilih untuk berusaha tidur saja dari pada pusing memikirkan masalah umat manusia, atau sekadar mengeluh karena kasur yang keras.


Berhubung kondisi tubuhnya yang memang sudah kelelahan, Damian pun tertidur dengan cepat. Awalnya ia tidak bermimpi apa-apa. Tidurnya begitu nyenyak tak terganggu. Namun, setelah beberapa saat, sebuah mimpi aneh mendatanginya.


Damian mendapati dirinya berada di Forum Ponza, sebuah alun-alun berbentuk persegi yang berada di tengah kota. Pemuda itu mengenali tempat tersebut karena pernah beberapa kali ia bekerja sebagai delator di sana. Forum itu biasanya digunakan sebagai tempat peradilan bagi kasus kriminal berat.


Banyak orang juga sering berlalu lalang di sana sehingga bisa melihat secara langsung hukuman yang diberikan pada pelanggar ketertiban. Bukan tanpa sebab lokasi tersebut dipilih sebagai tempat pengadilan terbuka bagi kasus berat. Para penduduk diharapkan bisa menjadi gentar sehingga mereka tidak melakukan perbuatan salah yang sama.


Akan tetapi, anehnya, saat ini Damian berdiri sendirian di tengah Forum. Tidak ada siapa pun yang tampak berkeliaran di sekitar sana. Padahal tempat itu adalah pusat kota yang sehari-hari dipadati penduduk. Karena ketidaklaziman itu, akhirnya Damian memutuskan untuk berkeliling. Terik matahari mewarnai kota Ponza hari itu.


Belum genap dua langkah Damian berjalan, arak-arakan awan gelap mendadak muncul dengan cepat, menutupi cahaya matahari sepenuhnya. Damian terhenyak. Ada yang tidak beres. Ia mencoba berteriak, memanggil siapa pun yang mungkin ada di sana. Namun, tetap tidak ada jawaban.

__ADS_1


Pemuda itu lantas mulai berjalan lagi, lalu berlari. Kegelisahan tiba-tiba muncul di hatinya. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang karena awan gelap yang semakin membuat suasana menjadi gulita. Damian mencoba berjalan ke tepi alun-alun, tetapi langkahnya seperti tertahan. Ia sadar bahwa dirinya tidak akan bisa keluar dari Forum tersebut.


Dengan usaha keras, Damian mencoba menggerakkan tubuhnya yang mendadak menjadi kaku. Tapi nihil. Semakin besar upayanya, semakin sulit baginya untuk bergerak, bahkan bernapas. Dadanya berubah sesak, dengan aliran hawa panas yang menyeruak membakar paru-paru. Apa yang terjadi?


“Ini hanya mimpi. Ini pasti mimpi,” ujarnya berkali-kali, mencoba meyakinkan diri bahwa kejadian yang dia alami hanyalah mimpi buruk yang akan mereda ketika ia terbangun.


Sayangnya, alih-alih bangun, Damian justru merasa semakin terjebak. “Kalau ini memang mimpi, kenapa aku merasa tubuhku terbakar sesakit ini,” gumamnya dengan suara parau yang lemah.


“Karkata.” Sekonyong-konyong sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.


Damian berani bersumpah bahwa ia tidak pernah mendengar kata itu seumur hidupnya. Setidaknya di kehidupannya yang sekarang. Akan tetapi, jauh di dalam kesadarannya, Damian yakin bahwa suara itu sedang memanggilnya.


“Si … siapa?” tanyanya sembari mengerjab-kerjab. Tubuh pemuda itu masih kaku dan sulit digerakkan. Akan tetapi ia tetap berusaha menoleh, mencari sumber suara yang memanggilnya.


Setelah melakukan daya upaya terbesarnya, Damian pun akhirnya berhasil menoleh. Namun, pemadangan forum kini sudah berubah sama sekali. Alun-alun itu kini dipenuhi oleh sosok-sosok orang yang pernah dia celakai dan dihukum atas kesaksian palsu Damian. Meski mereka memang merupakan orang-orang yang pernah bertindak jahat, tetapi hukuman mereka menjadi berlipat ganda gara-gara kesaksian atau bukti yang dibuat-buat oleh Damian.


Setidaknya ada lusinan pria wanita dengan wajah-wajah yang cukup dikenal oleh Damian. Mereka semua tampak kesakitan, mengerang dan berguling di tanah rumput sambil menggapai-gapai meminta pertolongan.

__ADS_1


“A … apa yang terjadi? Kenapa … kalian semua … .”


Kalimat Damian terpotong karena sosok orang-orang tersebut lambat laun berubah menjadi gelap. Kulit mereka menghitam, dan tubuh padatnya perlahan memudar, seperti berubah menjadi asap hitam pekat. Damian terbelalak menyadari bahwa orang-orang tersebut kini tengah berubah menjadi Deimheim, roh gelap yang mengincar nyawa manusia.


Damian mencoba berteriak, tetapi suaranya sama sekali tidak keluar. Sementara itu, para Deimheim yang baru lahir di depannya itu kini mulai beterbangan memenuhi langit dengan sosok hitam raksasa berkulit duri. Ini bukan kali pertamanya dia menghadapi Roh jahat. Namun, dengan jumlah sebanyak itu, ditambah kejadian sebelumnya yang mengerikan, membuat Damian benar-benar merasa takut.


Kakinya lemas tak bertenaga. Ia tahu bahwa tidak ada tempat untuk kabur lagi. Apakah orang-orang itu akan membalas dendam padanya? Berubah menjadi roh jahat dan memangsa tubuh Damian bulat-bulat.


Tanpa disadari, air mata mulai meleleh di pipi pemuda itu. Damian menangis. Mungkin rasa takut telah membuat hatinya lemah. Atau juga rasa bersalah karena telah membuat orang lain menjalani hukuman yang jauh lebih berat dari seharusnya, hanya karena iming-iming imbalan yang menggiurkan. Damian telah banyak melakukan tindakan buruk itu. Memanipulasi orang lain demi kepentingannya sendiri. Apakah ini akhir baginya?


Tubuh Damian berubah lemas. Ia pun ambruk berlutut di atas tanah sambil masih meneteskan air mata. Deimheim yang ada di sana hanya terbang mengitarinya, seolah mencari waktu yang tepat untuk memangsa. Di tengah kelautan tersebut, sebuah tangan wanita berkulit putih terulur padanya.


Damian perlu waktu beberapa detik untuk mencerna keberadaan uluran tangan di depan wajahnya tersebut. Ia lantas mendongak untuk melihat siapa yang muncul. Akan tetapi, wajah orang itu rupanya diliputi oleh cahaya yang luar biasa menyilaukan dan membuat mata Damian otomatis terpejam karenanya.


“Kembalilah, Karkata,” ucap sebuah suara di dalam kepala Damian.


Detik berikutnya, Damian sudah terbangun di tempat tidurnya dalam mansion Baron Brutus. Tubuhnya basah bersimbah keringat, dan air mata masih tersisa di wajahnya. Sontak Damian bangun terduduk. Dadanya masih terasa sesak. Ia berusaha menenangkan napasnya yang tersengal.

__ADS_1


“Mimpi apa itu barusan?” gumamnya di tengah keterkejutan.


__ADS_2