
“Apa yang terjadi?” gumam Ānaru dengan suara parau.
“Kau mengamuk di tengah hutan,” ujar Airyung masih setengah terharu.
Gadis itu lantas membantu menegakkan badan Ānaru yang terlentang di atas tanah. Sebuah kekacauan tampak di hadapan Ānaru. Hutan mati itu kini berubah seperti bekas medan pertempuran besar. Pohon-pohon kering tercabut dari akarnya dan berserak sembarangan. Lubang-lubang besar di tanah yang tampak seperti bekas ledakan menganga memenuhi area tersebut. Tempat itu sepenuhnya porak poranda.
“Batu Carnelian yang kubawa tiba-tiba memancarkan cahaya lalu terasa begitu panas seperti bara api. Dia membakar kantung bajuku sampai berlubang seperti ini,” ujar Airyung sambil menunjukkan lubang bekas terbakar di kantung mantelnya.
“Aku sedang bermalam di tempat ini saat itu. Di tengah kebingungan itu tiba-tiba kau datang dengan sosok gelap mengerikan. Awalnya kupikir kau adalah chögörü. Tapi karena api unggunku masih menyala, aku tahu kalau kau bukanlah Roh Jahat,” lanjut Airyung yang kini menuangkan segelas air sulingan embunnya untuk diminum Ānaru. An
“Kita bertempur selama beberapa saat karena sosok gelapmu itu terus mencoba menyerangku. Tapi aku tidak bisa mengalahkanmu, dan inilah hasil pertempuran kita.” Airyung berbicara sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Lalu bagaimana aku bisa kembali menjadi diriku sendiri?” tanya Ānaru kemudian.
Ia sudah lebih segar sekarang, setelah minum air embun milik Airyung. Meski begitu badannya masih lemas akibat sinkronisasi dengan Kristal Carnelian.
“Pada satu titik, ketika akhirnya aku terpojok, bukannya melukaiku, kau malah hanya merebut Kristal Carnelian yang sedang kugenggam. Cahaya Kristal itu semakin terang setelah benda itu menyentuh tanganmu. Setelah itu aku tidak bisa melihat apa-apa karena mendadak muncul cahaya yang sangat menyilaukan. Detik berikutnya tubuhmu muncul kembali dalam keadaan pingsan,” terang Airyung menyeka air matanya yang sudah nyaris mongering.
“Lalu dimana Kristal Carnelian itu?” tanya Ānaru lagi.
__ADS_1
Airyung menunjuk perut Ānaru yang kini sudah bertelanjang dada. Ānaru dengan bingung menoleh ke arah perutnya. Di atas otot perutnya yang kencang itu, tepatnya di atas area pusar, kini tertoreh sebuah simbol aneh. Simbol itu berwujud segitiga merah yang mengarah ke bawah di dalam lingkaran kuning cerah dengan sepuluh kelopak oranye. Simbol itu tidak terlalu besar namun tetap terlihat dengan jelas dari atas, menandakan tattva api.
“Apa ini?” tanya Ānaru sambil mencoba menggsok-gosok simbolnya, namun tidak ada yang terjadi. Simbol itu tetap utuh terpatri di kulitnya.
“Simbol itu muncul saat Kristal Carnelian masuk ke dalam tubuhmu,” jelas Airyung.
“Masuk? Bagaimana caranya?”
“Masuk begitu saja, sesaat sebelum tubuhmu bersinar terang, batu itu melayang masuk ke perutmu, seolah itu memang bagian dari tubuhmu. Aku juga baru pertama kali menyaksikan peristiwa semacam itu,” ucap Airyung. “Sangat mendebarkan,” lanjutnya berkomentar dengan mata membulat.
“Sepertinya kau cukup menikmati tontonan itu,” ucap Ānaru sambil tersenyum simpul.
“Bagaimana tidak? Aku menemukan orang yang kucari-cari selama ini. Dan ternyata orang itu berada di dekatku selama ini! Aku bisa pulang ke Giyatsa dengan bangga,” ujar Airyung benar-benar girang.
Ia kembali teringat peristiwa di rumah tâkuta malam itu. Entah bagaimana kondisi orang tuanya sekarang. Matunya ada di dalam rumah yang terbakar, sementara umanya menangis histeris saat melihatnya berubah. Seegalanya seperti berada di luar kendali Ānaru. Dan meskipun akhirnya ia mendapati fakta bahwa dirinya ternyata adalah seorang Pejuang Zodiak, namun entah kenapa ia tidak merasa terlalu senang.
Kehidupan masa lalunya kini kembali ia ingat. Rasa kesepian dan kehilangan adalah bagian dari hidup seorang Pejuang Zodiak. Kekuatan yang besar tentu saja diiringi oleh resiko yang besar pula. Itulah pengorbanan yang harus dialami seorang Pejuang Zodiak. Terasing dari komunitasnya dan harus bisa hidup jauh dari siapapun, karena kekuatannya, selain mengandung cahaya, juga memiliki kegelapan.
“Aku tidak tahu bagaimana cerita persisnya, tapi sudah tugasku untuk melindungimu sebagai Pejuang Zodiak, Ānaru. Karena itu, kemanapun kau akan pergi setelah ini, aku akan tetap bersamamu. Kita masih punya waktu sampai datangnya bulan Skirof. Kita bisa berangkat setelah semua urusanmu di Khitai selesai,” kata Airyung memecah lamunan Ānaru.
__ADS_1
Ānaru mengangguk menanggapi. Ia sedikit merasa lega karena kini Airyung berada di sisinya. Pada setiap kehidupan sebelumnya, ia selalu sendirian. Kekuatannya terlalu berbahaya untuk orang lain. Ānaru bisa tanpa sengaja menyakiti orang-orang yang dikasihinya. Karena itu, secara instingtif Ānaru tahu, bahwa nantinya pun ia harus meninggalkan kedua orang tua dan bahkan suku Khitai yang dia cintai ini. Ia harus mengemban jati dirinya yang sebenarnya sebagai Hamal.
Hamal adalah kode namanya mula-mula. Dalam setiap reinkarnasi, ia memilih beragam nama dengan maksud yang berbeda-beda. Namanya saat ini adalah Ānaru, yang memiliki makna keberanian. Itu artinya ia harus memiliki lebih banyak rasa berani dalam menghadapi apapun yang akan menghalangi jalannya. Termasuk berani untuk meninggalkan kehidupan nyamannya bersama matu dan umanya di Khitai.
“Sudah berapa lama aku pingsan?” tanya Ānaru sembari bangkit berdiri lantas membersihkan tubuhnya dari debu dan tanah kering yang menempel.
“Tidak lama. Kita berkelahi baru semalam. Lalu dini hari tadi tubuhmu menyatu dengan Kristal Carnelian. Sekarang masih jauh dari tengah hari. Jadi mungkin kau pingsan hanya sekitar satu atau dua jam,” kata Airyung menjelaskan.
Ānaru mengangkat sebelah alisnya. Benarkah hanya sesingkat itu? Ia merasa sudah terjebak dalam kegelapan dirinya lama sekali. Tapi Ānaru tidak terlalu memikirkan hal itu lagi. Untuk saat ini, ia harus secepatnya kembali ke rumah tâkuta itu guna melihat kondisi uma dan matunya.
“Kalau begitu, kita pergi ke rumah tâkuta itu dulu. Kurasa arahnya ke sana,” ujar Ānaru sambil menunjuk ke arah barat daya.
Entah kenapa, meski ia melintasi hutan mati tanpa kesadaran penuh, namun ia tetap bisa mengetahui lokasinya secara persis. Ānaru seperti mendapat kemampuan navigasi otomatis dalam kepalanya. Ia begitu mengenal tanah ini seperti darah dagingnya sendiri.
“Kalau begitu naiklah kemari, Ānaru,” ucap Airyung setelah berhasil menunggangi Tsagan.
“Kuda itu bahkan lebih lambat dariku, Airyung. Kau naiklah Tsagan sambil menyusulku ke arah bale milik tâkuta,” ujar Ānaru sambil melakukan peregangan tubuh senderhana.
“Kau yakin akan berlari kesana?” tanya Airyung tak percaya.
__ADS_1
“Tentu saja. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah kalah lagi darimu, Airyung,” ucap Ānaru sambil tersenyum simpul.
Detik berikutnya, Ānaru segera memasang kuda-kuda, bersiap untuk melesat. Dengan satu hentakan kaki, tubuhnya segera terlontar sangat cepat ke arah yang akan mereka tuju. Dalam beberapa detik saja, Airyung sudah tidak bisa melihat Ānaru lagi. Gadis itu hanya bisa melongo kaget melihat kecepatan Ānaru yang tak ada bandingnya itu.