Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Berubah


__ADS_3

Rasa sakit hati membuat Chiara tidak banyak bergerak lagi. Kekecewaan, keputusasaan dan kemarahan membuat gadis itu hanya bisa menangis. Tubuhnya berguncang karena isak tangisnya yang tak putus-putus.


Hatinya terluka. Selama ini ia dibohongi oleh orang yang paling dia percayai. Kenapa Rein tega melakukan itu padanya? Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Chiara merasa sudah ditinggalkan sendirian. Ketakutan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Hidupnya sudah hancur.


Di tengah tangisannya, pintu kamar kembali terbuka. Chiara menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya dengan perut buncit masuk ke dalam kamar. Sontak gadis itu kembali mencoba berontak. Ia tahu apa yang akan dilakukan pria itu kepada dirinya.


“Wah, melihat kau menangis sampai seperti itu, artinya ini memang pengalaman pertamamu, ya. Lihat bagaimana mereka mengikatmu dengan begini kencang. Biar aku bantu melepaskan ikatanmu, juga seluruh pakaianmu,” ujar pria itu dengan wajah mesum.


Chiara berteriak dan menjejak. Namun pria tersebut menindihnya sedemikian rupa hingga gadis itu sulit bergerak.


“Jangan terlalu melawan. Kau bisa melukai tubuh indahmu,” kata pria itu sembari mulai mengendusi rambut dan tengkuk Chiara.


Penutup mulut Chiara berhasil terlepas. Gadis itu pun mulai bisa berkata-kata.


“Lepaskan aku, dasar Kakek Tua Mesum!” pekiknya dengan suara parau. Air mata masih membasahi wajah Chiara. Namun ia menolak untuk menyerah.


Sang pria tua itu mulai hendak melucuti pakaian Chiara. Ketakutan melanda gadis itu. Ia tidak ingin tubuhnya disentuh oleh manusia menjijikkan ini. Sakit hati dan kemarahannya seperti berakumulasi menjadi satu. Kenapa hal-hal buruk harus selalu menimpanya? Apa salahnya sampai harus bernasib seperti ini?


Amarah Chiara tidak terbendung lagi. Setiap sentuhan pria tua di tubuhnya seperti membangkitkan sel-sel emosinya menjadi begitu kuat. Ia ingin menghancurkan semua orang yang sudah membuatnya menderita.

__ADS_1


Chiara berteriak keras. Teriakan yang lebih seperti raungan penuh amarah, hingga membuat pria tua itu tanpa sadar menghentikan gerakannya. Ia terkejut karena suara Chiara tiba-tiba berubah menjadi mengerikan.


Emosi Chiara masih terus membara. Ia kepalkan kedua tangannya kuat-kuat, lalu melepaskan ikatannya dengan tenaga yang entah dari mana datangnya. Seluruh tali yang membelit tubuh Chiara pun hancur berkeping-keping karena dorongan energi aneh yang muncul dari tubuhnya.


Energi tersebut juga melontarkan tubuh sang pria tua hingga terlempar sejauh lima meter dari ranjang. Tubuh pria tua itu pun membentur dinding dan jatuh terkulai di atas lantai.


Chiara bangun dari tempat tidurnya dengan mata merah yang nyalang. Ia sudah dikendalikan oleh amarahnya sendiri. Dengan gontai gadis itu berjalan terseret-seret menuju tubuh pria tua yang tadi hendak memperkosanya.


“Apa … kenapa kau … berubah menjadi makhluk mengerikan? Pergi! Jangan mendekat!” cicit pria tua itu gemetar ketakutan.


Chiara menyadari bahwa tangan kanannya mendadak berubah menjadi berat. Dia melirik ke arah tangannya yang kini rupanya sudah ditumbuhi bulu abu-abu keperakan. Gadis itu tertegun sejenak. Ia berhenti melangkah dan menoleh ke cermin di sebelahnya. Ia bukan lagi gadis bertubuh kecil yang lemah. Wujudnya kini sudah berubah menjadi seekor manusia serigala berbulu perak, lengkap dengan moncong bertaring tajam.


Chiara mundur beberapa langkah karena terkejut. Ia lantas mengamati dengan mata kepalanya sendiri bahwa gaunnya yang sudah terkoyak-koyak tadi kini berganti dengan bulu lebat yang memenuhi seluruh tubuhnya. Di tangan kanannya, sebuah gada besi berduri tergenggam erat, siap untuk digunakan.


Sambil mengendap-endap, pria itu mencoba melarikan diri. Chiara menyadari gerakan pria tersebut dan langsung meraung marah. Tanpa pikir panjang, dia ayunkan gada berduri itu ke arah sang pria. Serangan Chiara menghancurkan kepala pria tersebut hingga berkeping-keping. Pria tua itu bahkan belum sempat berteriak ketika akhirnya mati dengan kondisi mengenaskan.


Kemarahan Chiara sama sekali belum tuntas. Ia masih begitu ingin menghancurkan sesuatu. Gadis itu pun akhirnya mengamuk dalam wujud serigalanya. Ia melolong, meraung, lalu menghantamkan gada berdurinya ke segala arah.


Seluruh perabot di kamar tersebut hancur berkeping-keping. Ranjang, sofa, lampu Kristal, semuanya hancur tak berbentuk. Ruangan itu pun berubah gelap karena Chiara menghancurkan semuanya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar tersebut kembali terbuka. Orang-orang yang tak dikenal Chiara masuk ke dalam dan melihat kondisi kamar tersebut yang sudah hancur lebur.

__ADS_1


Mereka semua begitu terkejut ketika melihat mayat dengan kepala hancur tergeletak bersimbah darah. Chiara sudah tidak ada di sana, digantikan dengan sosok makhluk buas bermata merah.


“Diabos!” seru salah satu dari orang-orang tersebut saat melihat Chiara. Mereka semua lantas lari tunggang langgang sambil berteriak tentang adanya roh jahat yang masuk ke dalam kamar.


Chiara akhirnya berhenti mengamuk. Ia tercenung sekali lagi sambil menatap kedua tangan berbulunya.


“Diabos … ? Aku berubah menjadi roh jahat … ?” rintih Chiara dengan suara serak mengerikan.


Gadis itu melolong lagi. Ketakutannya bertambah, seiring dengan rasa marah karena merasa telah berubah menjadi roh jahat.


Tiba-tiba jendela kaca yang ada di sisi ruangan itu pecah berkeping-keping. Chiara segera menoleh karena suara pecahan kaca yang sangat keras menarik perhatiannya. Dua orang sosok pemuda muncul dari balik jendela, lalu melompat masuk ke dalam ruangan. Siluetnya tampak tidak asing. Salah satu dari mereka berambut perak. Chiara segera mengenali orang tersebut.


“Al … tan … ,” desis Chiara dengan suara serigalanya.


“Kara?! Apakah itu kau? Ini aku, Kale. Kau sudah menghilang dua hari dari rumah. Aku meminta bantuan Altan untuk mencarimu. Maaf karena aku baru datang sekarang,” ucap sosok lainnya yang berdiri di sebelah Altan.


Chiara melemparkan pandangannya ke sosok tersebut. Dan benar saja, pemuda itu rupanya Kale, adik kembarnya. Air mata besar-besar kembali menetes di wajah serigala Chiara. Gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi. Semuaranya terasa begitu rumit.


“Tidak apa-apa. Sekarang semua sudah aman. Aku akan melindungimu, kemarilah, Kara,” kata Kale sembari berjalan mendekat secara perlahan.

__ADS_1


Akan tetapi, Chiara tetap ketakutan. Ia sudah dikhianati oleh semua orang. Gadis itu tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Bagaimana kalau Kale juga bekerjasama dengan orang-orang jahat itu lagi? Bagaimana kalau dia dijual lagi? Semua ketakutan dan kecemasan Chiara kembali muncul. Akhirnya, ketika Kale sudah selangkah lagi di dekatnya, Chiara memutuskan untuk kabur.


Gadis itu melompat keluar melalui jendela kaca tanpa berpikir panjang. Rupanya ia berada di lantai tiga gedung Venetian. Dengan sigap Chiara melompati atap-atap bangunan seolah tubuhnya sudah terlatih untuk melakukannya. Kale meneriakkan namanya di belakang, tetapi Chiara sudah tidak mempedulikannya lagi. 


__ADS_2