Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Sosok


__ADS_3

Permainan hari itu memuaskan Chiara. Ia membawa pulang banyak uang, seperti biasa. Akhirnya, setelah hari beranjak senja, Chiara bersiap untuk pulang. Gadis itu menukarkan chipnya di meja resepsionis yang ada di ujung ruangan. Sembari menunggu, Chiara mengedarkan pandangannya. Kasino sudah mulai sepi, karena Venetian biasanya tutup saat malam. Orang-orang tidak berkeliaran ketika hari gelap karena ancaman diabos.


“Kau benar-benar membawa pulang jackpot.” Benedict berjalan menghampiri Chiara sembari membawa chipnya sendiri, mengantre untuk menukar dengan uang.


Pendapatan Benedict tak kalah banyaknya. Di Venetian, hanya mereka berdua yang bisa membawa pulang banyak uang. Orang-orang lainnya tidak secerdik itu untuk bisa mempertahankan kekayaan mereka.


“Urus urusanmu sendiri, Ben,” sahut Chiara dingin.


Matanya tertuju pada koridor lantai dua yang terlihat dari bawah. Ia tidak memperhatikan ocehan Ben yang tak putus-putus. Selama waktu itu, mendadak Chiara menangkap sosok yang dia kenal. Chiara segera menfokuskan pandangannya ke arah yang dituju. Dan benar saja, ia melihat Rein, berjalan melewati koridor lantai dua sendirian. Pemuda itu mengenakan tuksedo berekor berwarna hitam yang rapi. Topeng kecil menutupi separuh wajahnya, tetapi Chiara yakin bahwa sosok itu adalah Rein.

__ADS_1


Tanpa berpikir dua kali, Chiara segera meninggalkan meja penukaran dan melesat menuju tangga lantai dua. Ben melihatnya dengan kebingungan.


“Hei, kau mau kemana?! Bagaimana dengan uangmu?” seru Ben meneriaki Chiara.


Akan tetapi gadis itu tidak mempedulikannya. Ia mengangkat gaunnya sedikit agar bisa berjalan dengan cepat. Sosok pemuda di lantai dua sudah tidak terlihat lagi. Sepertinya ia berbelok di tikungan lorong lantai dua. Talia menaiki tangga, lantas berputar menyusuri koridor tersebut. Namun ia tidak menemui siapa pun selain beberapa pelayan yang berjalan hilir mudik untuk melayani para tamu yang masih ada di ruang VIP.


“Kemana dia? Aku yakin aku melihat Rein. Apa dia masuk dalam ruangan?” gumam Chiara pada dirinya sendiri. “Apa aku harus masuk ke semua ruang VIP ini untuk mengecek?” lanjutnya mengeluh.


Ben datang tak lama kemudian. Pria berkumis tipis itu membawa dua kantong uang besar di tangannya, tampak terengah-engah karena habis berlari.

__ADS_1


“Kau sedang apa? Hari sudah gelap. Kau tidak mau pulang?” ujar Ben dengan suara tersengal.


Chiara hanya meliriknya sinis, tanpa menjawab apa-apa. Ben lantas mengulurkan satu kantong yang dibawanya. “Ini, uang hasil penukaranchipmu. Aku menguranginya sedikit sebagai biaya administrasi. Hey, aku membantumu untuk mengambil ini dan bahkan mengantarkannya, kau tidak bisa protes,” ujar Ben ketika melihat Chiara melotot.


Gadis itu berdecih kesal lantas menyambar kantong uang yang diulurkan oleh Ben. Ditengoknya sekilas ke dalam kantong, dan sialnya, Ben mengambil lebih dari seperlima dari total jumlah uangnya.


“Benar-benar tidak pernah melewatkan kesempatan, ya, Ben,” desis Chiara kesal.


Ben meringis urakan. “Kau memang sangat mengenalku, Chiara,” ucapnya ringan. “Kau tidak mau pulang? Sudah gelap sekarang. Akan berbahaya kalau kau pulang sendiri. Aku bisa mengantarmu sebelum diabos-diabos merajalela.”

__ADS_1


“Aku bisa pulang sendiri. Pergilah,” perintah Chiara tanpa menoleh lagi. Ia masih penasaran dengan sosok yang dia lihat tadi. Jelas-jelas itu Rein. Dan kalau memang Rein sedang berada di Venetian, Chiara akan menangkapnya dengan kedua tangannya sendiri.


“Terserah kau saja. Kalau begitu aku pergi dulu. Hati-hati pada diabos,” ujar Ben sembari berbalik lalu berjalan pergi meninggalkan Chiara. 


__ADS_2