
Chiara memperbaiki jendela kamar seadanya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki engselnya yang sudah aus. Jendelanya tidak bisa tertutup rapat. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memakukan sepotong kayu bekas untuk mengunci kedua daun jendela itu. Sebagai gantinya, kini jendelanya tidak bisa dibuka sama sekali.
Chiara beringsut di sandaran tempat tidurnya. Rasanya melelahkan setelah mengerjakan banyak pekerjaan rumah hari itu. Hari sudah sore dan sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Namun ia tidak berselera untuk makan apa-apa hari itu. Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Rein siang tadi. Rasa kesal membuncah di dadanya.
Gadis itu bukannya tidak menyangka kalau Rein akan mengangkat topik tersebut. Hanya saja ia tidak siap. Ia tahu bahwa hubungannya dengan Rein memang ada di tahap yang sangat dekat. Akan tetapi tidak ada unsur romansa yang dia rasakan bersama Rein. Chiara tentu menyayangi Rein sebesar pemuda itu menyayanginya juga, Ia tahu itu. Tapi apakah ia mencintainya? Chiara tidak yakin.
Satu-satunya ambisi Chiara adalah keluar dari kemiskinan keluarganya. Rein tentu bisa menjanjikan hal itu. Sayangnya hatinya begitu berat menerimanya. Ia tidak merasa sepadan bersanding dengan Rein. Chiara tidak cocok untuknya. Apalagi ia tahu bagaimana sikap orang tuanya. Ia seolah dijual sebagai penjamin untuk keluarganya yang miskin akibat ulah ayahnya. Chiara ingin bangkit dari keterpurukan itu dengan kekuatannya sendiri. Bukan melalui jalan instan yaitu menikah dengan keluarga Gilian. Kalau pun ia nantinya akan bersama Rein, Chiara ingin memastikan hal itu terjadi setelah ia berada di posisi yang sama. Bukan dalam kondisi serba kekurangan.
Hal lain yang membuat Chiara marah adalah fakta bahwa Rein baru-baru ini menghabiskan waktunya bersama perempuan lain. Bahkan di depan matanya. Meski ia mempercayai pemuda itu sebesar rasa percayanya pada diri sendiri, tapi masa depan sukar ditebak. Pernikahan tentu jauh berbeda dengan persahabatan. Chiara menyadari hal itu hari ini. Bagaimana rasa cemburu begitu membakarnya ketika mengetahui bahwa Rein dekat dengan perempuan lain.
Pikiran buruk terus membayangi gadis itu dan membuatnya jengah untuk memikirkan tentang pernikahan. Rein semestinya tidak membahas hal tersebut dengan begitu mudahnya. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana kacaunya keluarga Chiara, Rein seharusnya bisa lebih berhati-hati untuk mengajaknya menikah.
Suara ketukan pintu memecah lamunan Chiara. Kale masuk menemui kakaknya yang dirundung kegalauan.
“Makan malam sudah siap, Kak.” Adiknya itu tampak senewen entah apa penyebabnya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Chiara tanpa menggerakkan tubuhnya.
“Ini rumahku juga. Apa masalahnya?” sergah Kale ketus.
Chiara tidak menjawab. Kale sepertinya juga sedang menghadapi masalah di luar sana sampai-sampai adiknya itu harus makan malam di rumah.
“Jadi kau bertengkar lagi dengan Rein?” Kale menebak tepat sasaran.
“Tidak ada urusannya denganmu.”
__ADS_1
Kale mendengkus pendek. “Sangat mudah menebak suasana hatimu. Kau jadi cepat marah kalau bertengkar dengan Rein. Kenapa kalian tidak menikah saja?”
Chiara otomatis melemparkan bantal gepengnya ke arah Kale. Pemuda itu menangkapnya dengan mudah.
“Berhenti bicara soal pernikahan. Aku muak mendengarnya,” geram Chiara kesal.
“Jadi akhirnya Rein melamarmu?” Kale berjalan masuk kamar dan melempar kembali bantal gepeng yang sudah berwarna kecoklatan. Padahal warna aslinya seharusnya putih bersih.
“Melamar bukan kata yang tepat. Ia hanya membicarakan tentang pernikahan seperti mengajak berbelanja ke pasar loak.” Tanpa sadar Chiara mengeluarkan curahan hatinya.
“Itu karena Rein sudah sangat nyaman denganmu,” tutur Kale yang kemudian merebahkan tubuhnya di ujung tempat tidur.
Chiara merasa sikap Rein sedikit ganjil. “Kenapa tiba-tiba kau ikut campur masalah ini?”
Kale berdecih pelan menanggapi. “Kau pikir kenapa aku ada di rumah sekarang? Rein memintaku untuk menghiburmu. Entah menghibur atau membujuk. Mungkin keduanya. Dia pikir kau mungkin tidak suka kalau dia sendiri yang harus datang langsung ke sini,” terangnya jujur.
“Menyingkirlah. Ini tidak ada urusannya denganmu,” gerutu Chiara sembari menendang adiknya agar pergi dari sana.
Kale beringsut bangun dengan kesal. “Pikirkan baik-baik. Harga dirimu itu tidak bisa memberi makan kita semua,” kata Kale sembari berjalan keluar kamar.
“Omong kosong,” desis Chiara penuh emosi.
Kale akhirnya meninggalkannya sendiri. Ucapan Kale justru semakin memicu kemarahan Chiara. Semua orang sepertinya memang menganggapnya sebagai barang jaminan. Mengeruk kekayaan dari keluarga Gilian. Chiara membenci status itu. Rein juga tidak keberatan dengan fakta tersebut. Kenapa orang-orang selalu menganggapnya remeh?
Pada akhirnya Chiara melewatkan makan malam. Ia tidur lebih cepat karena terlalu banyak berpikir. Tapi gara-gara itu, Chiara justru jadi terbangun saat tengah malam. Mimpinya menyebalkan, tentang pernikahan yang tidak dia inginkan. Karena itu ia pun terbangun dengan suasana hati yang buruk.
__ADS_1
Rasa lapar akhirnya memaksa Chiara untuk bangkit dari tempat tidur. Mungkin ibunya menyisakan sepotong roti kering yang keras di meja makan. Chiara sudah turun dari tempat tidur ketika mendadak ia mendengar suara ketukan yang membuatnya terlonjak kaget.
Gadis itu menajamkan pendengarannya, khawatir kalau-kalau ia hanya berhalusinasi mendengar ketukan. Namun suara tersebut muncul lagi. Bukan dari pintu kamarnya, melainkan jendela. Chiara berubah waspada. Ketakutan merambati tubuhnya dan membuat gadis itu buru-buru menyambar benda apa pun yang bisa menjadi senjata. Ia hanya menemukan palu di atas meja yang tadi dia gunakan untuk memperbaiki jendela dan belum dia kembalikan.
“Si … siapa?” tanya Chiara dengan suara gentar.
“Ini aku. Altan. Aku hanya ingin memastikan apa jendela kamarmu sudah diperbaiki,” suara laki-laki terdengar dari balik jendelanya.
Chiara mengingat pemuda berambut perak yang menolongnya kemarin. Kenapa pemuda itu harus berada di luar jendela lantai dua pada tengah malam?
“Sepertinya kau baik-baik saja. Tadi Kalau begitu aku pergi. Maaf mengganggu waktumu,” ujar Altan dari luar.
“Tu, tunggu,” pekik Chiara tiba-tiba. Entah kenapa gadis itu ingin membiarkan Altan tetap berada di sana. Padahal ia tahu kalau hal itu mungkin berbahaya. Tidak ada perempuan normal yang membiarkan seorang pemuda asing masuk ke kamarnya di tengah malam dan melalui jendela pula.
Akan tetapi Chiara menepis stereotip itu. Ia mencongkel paku dan membuka segel kayu yang mengunci kedua daun jendelanya. Saat melakukannya pun Chiara sadar bahwa itu bukan tindakan yang bijak. Tapi ada dorongan tidak wajar dalam dirinya untuk menemui Altan. Rasanya ia terlalu penat akhir-akhir ini karena ulah orang-orang terdekatnya. Chiara hanya ingin bertemu orang baru yang mungkin bisa membuatnya terhibur. Atau terancam. Entahlah. Emosi penuh adrenalin itu membuatnya bergairah saat ini.
“Kau datang lagi?” tanya Chiara begitu berhasil membuka jendelanya.
Altan menggantung di sisi bingkai jendela. Rambutnya yang keperakan berkibar diterpa angin malam. Kedua matanya yang berwarna abu-abu terlihat berkilau karena pantulan cahaya bulan. Pemuda itu sangat cocok dengan suasana malam yang gelap. Siluetnya terlihat memukau dengan tubuh atletis dan otot-otot kuat di lengannya. Sebuah busur tergantung di punggung Altan, berikut sekantong anak panah dengan bulu burung elang di ujungnya.
“Aku sedang berjaga di sekitar sini lalu mendengar suara langkah kaki dari dalam kamarmu. Jadi kuberanikan diri untuk mengetuk,” sahut Altan terus terang.
Chiara tersenyum. Ia tidak tahu kenapa ia merasa senang karena seseorang peduli pada keselamatannya.
“Masuklah,” ujarnya sambil mundur ke belakang, membiarkan Altan untuk melompat masuk melewati jendela.
__ADS_1
Altan menurut. Ia lantas mengayunkan tubuhnya dan menapak pada bingkai jendela. “Kalau begitu, permisi,” ucapnya sembari menapak masuk ke dalam kamar.