Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Melarikan Diri


__ADS_3

Di tengah kegelapan malam, Ānaru mengendap-endap keluar dari penjara. Anehnya tidak ada satu uluwero pun yang terlihat sedang berjaga. Biasanya ada satu atau dua orang yang bertugas di area penjara. Tetapi pertanyaan Ānaru segera terjawab. Dua orang uluwero terbaring pingsan di depan pintu masuk penjara. Ānaru yakin sepenuhnya kalau adalah hasil perbuatan Airyung.


Pelarian mereka tampaknya berjalan mulus. Tengah malam memang waktu yang tepat untuk pergi tanpa disadari. Orang-orang terlalu takut pada kinokambe, terlebih setelah kejadian tempo hari. Bahkan uluwero penjaga gerbang juga tidak ampak dimana-mana. Ānaru dan rombongannya keluar dengan mudah dari desa, tanpa disadari siapapun.


Kejadian akhir-akhir ini memang cukup mencengangkan. Setelah kematian Tangaroa, para uluwero kehilangan semangat mereka dan memilih untuk menyelamatkan diri alih-alih menjaga desa. Penobatan uluwero baru dan pemilihan pimpinan uluwero juga ditunda karena kejadian mengerikan pada saat ujian terakhir.


“Kurasa kita bermalam dulu di sini. Memang belum terlalu jauh dari desa. Tapi di malam gelap seperti ini, pasti tidak ada yang menyadari kalau kau sudah menghilang. Paling cepat pagi hari nanti mereka baru akan mulai mencari kita. Saat itu kita sudah bisa pergi jauh,” usul Airyung sembari menuntun Tsagan, kuda putihnya.


Ānaru mengangguk setuju. Matu dan umanya juga sudah terlihat lelah. Mereka berdua sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh. Airyung kemudian mulai membuat api unggun. Keempatnya berkumpul mengelilingi api unggun untuk mendapat kehangatan di malam dingin itu.


“Ānaru, maafkan matu. Seharusnya aku tidak mengusirmu. Sekarang nasibmu jadi seperti ini,” kata matunya dalam bahasa Khitai.


“Tidak, matu. Ini bukan salahmu. Aku memang berniat menjadi uluwero. Dan aku jadi seperti ini bukan karena aku dirasuki kinokambe,” jawab Ānaru.


“Sekalipun kau kerasukan kinokambe, kami tetap tidak ingin melihatmu mati, Ānaru. Orang tua mana yang sanggup melihat anaknya pergi meninggalkan mereka lebih dulu. Seharusnya kau yang menguburkan kami,” ujar umanya setengah terisak.


“Sudahlah, uma. Aku baik-baik saja sekarang. Aku justru khawatir pada kalian. Apa yang harus kita lakukan sekarang. Kita tidak punya tujuan,” ucap Ānaru.


Pemuda itu lantas berbalik pada Airyung.


“Apa rencanamu, Airyung?” sergah Ānaru bertanya.


“Sebenarnya aku tidak berniat mengajak kedua orang tuamu. Tapi Ngaio bilang akan berbahaya untuk mereka kalau kita meninggalkannya. Aku sendiri masih harus berkeliling pulau ini untuk menemukan orang dalam ramalan. Aku tidak bisa menyerah sekarang, Ānaru,” ungkap Airyung yang kemudian menarik napas panjang.


Ānaru mengangguk setuju. Kondisi mereka memang tidak baik. Terutama karena ia jadi harus melibatkan banyak orang atas ambisinya. Sebagian dirinya kini menyesali pilihan yang sudah dia buat, terutama karena keinginannya menjadi uluwero justru berbuntut panjang.


“Tapi bagaimana dengan Ngaio. Dia juga terlibat. Orang-orang pasti akan curiga padanya juga,” kata Ānaru khawatir.


“Ngaio bilang dia akan aman karena ada Kaharap,” jawab Airyung singkat.

__ADS_1


Hati Ānaru mencelos. Bahkan di saat seperti ini, Kaharap lebih bisa diandalkan daripada dirinya. Ia hanya pembuat masalah, sementara Kaharap mampu melindungi Ngaio.


“Aku punya kerabat di desa timur hutan mati. Mungkin kita bisa kesana sementara waktu,” kata matu Ānaru tiba-tiba.


“Baiklah, matu. Aku akan menurutimu,” ucap Ānaru. Ia sudah lelah memberontak. Selama ini pilihan hidupnya hanya membawa kepahitan. Setidaknya saat ini ia ingin menjadi anak yang baik untuk kedua orang tuanya, meskipun terlambat.


Tak lama setelah berbincang ringan, matu dan uma Ānaru sudah tidur beralaskan tanah. Beruntung mereka memakai baju tebal. Meski begitu, Ānaru tetap merasa getir melihat mereka tidur di udara terbuka.


“Kenapa Putri Aroha memberikanku hukuman mati?” tanya Ānaru pada Airyung.


“Katanya Kepala Sukumu bertemu dengan tetua entah siapa. Tetua itu berkata bahwa keberadaanmu membawa kutukan Roh Jahat yang akan membahayakan suku Khitai. Dari yang kudengar, keluarga Kaharap terlibat dalam pemanggilan Tetua Suku itu,” terang Airyung dalam keremangan api unggun.


“Memuakkan,” desis Ānaru marah. “Apalagi yang dia inginkan dariku?”


“Sudahlah. Yang penting sekarang kau selamat. Aku bisa saja mengalahkan orang-orang sukumu. Tapi itu artinya kata-kata tetua suku itu akan jadi kenyataan. Dan reputasimu semakin hancur,” lanjut Airyung mencoba menghibur.


“Bertahan hidup. Itu sudah cukup. Atau kau juga bisa ikut denganku mencari orang terpilih. Aku bisa membawamu mengelilingi benua. Ayolah, masalah ini tidak separah yang kau bayangkan. Duniamu tidak akan hancur hanya karena kau diusir dari sukumu. Aku juga kemungkinan besar akan diusir dari sukuku karena gagal menemukan orang dalam ramalan,” kata Airyung sambil mengangkat bahu.


Ānaru mendengus pelan sambil tersenyum kecil. “Kenapa kau mempercayaiku?” tanyanya kemudian.


“Memangnya kau benar-benar kerasukan kinokambe?” Airyung balas bertanya.


Ānaru menggeleng. “Saat di penjara aku bertemu dengan tâkuta… maksudku dukun penyembuh. Dia menjelaskan soal kondisiku,” ungkap Ānaru.


Pemuda itu lantas menjelaskan semua yang dikatakan sang tâkuta saat ia di penjara. Airyung menyimak dengan seksama penjelasan Ānaru.


“Apa itu mungkin?” tanya Airyung memberikan tanggapan.


Ānaru mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi itu jauh lebih masuk akal daripada kerasukan kinokambe. Setidaknya aku tidak terlihat terlalu buruk, kan?”

__ADS_1


Airyung tertawa kecil. “Yah, apapun itu, aku tinggal mengalahkanmu kalau mendadak kau berubah menjadi roh jahat. Untuk saat ini aku juga cukup tertarik dengan kemampuanmu,” ujarnya.


“Jadi apa rencanmu setelah ini, Airyung?” tanya Ānaru kemudian.


“Sekarang aku akan mengantar kalian dulu ke tempat yang aman. Setelah itu, aku tidak punya rencana khusus. Mungkin kembali berkeliling pulau,” jawab Airyung.


“Bukankah itu artinya kau tidak punya rencana apa-apa?” balas Ānaru.


Airyung mendesah pelan. “Aku sudah kehilangan ide menemukan orang dalam ramalan itu. Tidak ada petunjuk yang masuk akal. Apakah aku harus bertemu dukun penyembuhmu dulu ya. Siapa tahu dia punya masukan,” ucap Airyung mulai melantur.


“Memangnya tidak ada ciri-ciri khusus orang itu harus seperti apa,” tanya Ānaru.


Airyung menggeleng. “Sudah lama Pejuang Zodiak menghilang. Dari cerita jaman dulu, mereka hanya muncul begitu saja dan kekuatannya nanti akan beresonansi dengan Kristal Carnelian. Itulah pertanda kebangkitan tanda zodiaknya,” jelas Airyung.


“Kalau begitu kau tinggal menemukan orang yang beresonansi dengan Kristal itu kan,” simpul Ānaru.


“Tapi aku tidak punya gambaran bagaimana bentuk resonansi mereka. Kristal ini setenang batu biasa selama aku membawanya.”


“Bersabarlah. Semua pasti ada waktunya,” hibur Ānaru.


Airyung tersenyum kecil menanggapi. “Kau menghiburku lagi. Padahal kondisimu tidak lebih baik dariku,” kata Airyung geli.


Ānaru mengangkat bahu. “Sesama orang putus asa hanya bisa saling menguatkan,” ucapnya bijak.


Airyung tertawa. “Entah kau sudah berubah atau memang seperti ini sifat aslimu, Ānaru. Kau orang yang baik. Meskipun sedikit lebih mudah marah dan terprovokasi,” komentar gadis itu.


“Aku tahu,” jawab Ānaru. 


...***...

__ADS_1


__ADS_2