Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 4: Cancer] Surat


__ADS_3

Damian kembali kerumahnya saat hari mulai sore. Rupanya ia sudah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Cassia. Ayah dan kakak kakaknya belum tiba di rumah. Sepertinya pekerjaan mereka memakan waktu yang lebih lama dari Damian hari itu.


Ibunya sedang menghadiri pesta minum teh bersama dua kakak iparnya. Secara implicit, Damian ditinggal sendirian di rumah itu, hanya bersama para pelayan dan anak-anak kakaknya yang masih kecil. Pemuda itu sudah terlalu lelah untuk berurusan dengan anak-anak, karena itu Damian segera meluncur ke kamarnya sendiri sebelum bertemu dengan siapa pun.


Setelah mandi dan membersihkan diri, Damian merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang nyaman. Mendadak sebuah suara ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya.


“Masuk,” ucap Damian sembari bangkit berdiri lalu duduk di sofa.


Sera, pelayan pribadinya, masuk membawa beberapa pucuk surat untuknya. Sambil tersipu, gadis itu tak berani menatap ke arah Damian yang masih mengenakan jubah mandi.


“I, ini surat untuk Anda, Tuan Muda,” ucap Sera malu-malu.


Damian mendengkus geli melihat reaksi gadis itu. Sera memang adalah pelayan baru. Pelayan pribadinya yang lama kembali ke desa karena orang tuanya sakit keras. Meski begitu Damian menyukai pelayan barunya ini. Selain karena Sera masih muda dan polos, juga karena gadis itu memiliki wajah yang cantik menggemaskan.


“Letakkan saja di meja,” perintah Damian.


Sera mematuhi perintah tuannya itu lantas menaruh surat-surat yang dibawanya ke atas meja di hadapan Damian. Gadis itu lalu membungkuk sopan dan bersiap untuk pergi.

__ADS_1


“Apa kau tidak akan menatap wajah tuanmu sendiri?” tanya Damian mulai meggoda Sera.


Wajah Sera semakin memerah. Ia pun mendongak perlahan dan berusaha menatap ke arah Damian yang mengenakan jubah mandi dengan dada terbuka. “Ma, maaf, Tuan Muda, te, tetapi A, anda belum berpakaian … ,” cicit Sera dengan suara canggung.


Damian tertawa geli melihat reaksi Sera itu. Ia lantas bangkit berdiri dan berjalan mendekati Sera. “Kalau begitu bantu aku berpakaian. Itu tugas pelayan pribadi, kan,” ucap Damian sembari tersenyum.


Sera terkesiap. Gadis itu pun mengangguk dengan canggung. “Ba, baiklah,” ujarnya pendek. Ia lantas berjalan menuju lemari baju Damian dan memilih beberapa pakaian yang pantas.


Damian menunggu sembari melipat tangan. Meski masih muda, tetapi Sera punya tubuh yang bagus. Katanya gadis itu baru pertama kali bekerja di kediaman Castor. Pengalamannya mungkin tidak banyak, tetapi Damian memang memilih sendiri anak itu sebagai pelayan pribadinya.


Damian menemukan Sera saat ia sedang berjalan-jalan di pasar. Saat itu Sera bekerja sebagai karyawan di toko bunga langganan Damian. Saat itu, kebetulan pelayan pribadi Damian yang sudah paruh baya memutuskan untuk pulang ke desa. Damian memang sedang membutuhkan pengganti untuk melayaninya sehari-hari.


“I, ini bajunya, Tuan Muda,” ucap Sera sembari membawa sepasang pakaian rumahan yang tetap terlihat mewah.


“Baiklah,” sahut Damian sembari membuka jubah mandinya.


Tubuh liat Damian terpapar begitu saja di hadapan Sera. Ini bukan kali pertama gadis itu membantu Damian mengenakan pakaian. Sera juga sudah berkali-kali melihat tubuh Damian. Akan tetapi reaksi gadis itu tetap sama, membuat Damian terus-terusan ingin menggodanya. Karena alasan itu juga Damian tidak pernah menyentuh Sera. Ia tetap ingin mempertahankan kepolosan gadis itu.

__ADS_1


Sera mulai memakaikan pakaian Damian dengan tangan sedikit canggung. Beberapa kali kulit mereka bersentuhan. Napas Damian terasa begitu dekat dengan wajah Sera yang tertunduk fokus untuk mengancingkan kemejanya. Damian bisa mendengar detak jantung Sera yang berdebar kencang. Wajah gadis itu memerah dan tersipu malu setiap kali jemarinya menyentuh dada Damian.


Pemuda itu tersenyum melihat pelayan pribadinya bertingkah canggung. Tanpa sadar tangannya membelai pipi Sera yang memerah. Sera berjengit kaget dan membeku selama beberapa detik. Damian benar-benar ingin menciumnya. Tetapi ia menahan diri. Kalau ia nekat melakukannya, mungkin tindakannya akan lebih dari sekedar ciuman. Damian sudah cukup bercinta untuk hari itu.


Setelah menit-menit yang mendebarkan, akhirnya Sera berhasil menyelesaikan tugasnya. Gadis itu pun undur diri dan segera pergi dari kamar Damian secepat kilat. Damian sekali lagi mendengkus senang karena hiburan tersebut.


“Anak itu benar-benar menggemaskan,” ujarnya sembari memilah-milah surat yang ada di atas meja.


Sebagian besar adalah surat permintaan bantuan hukum untuk kasus-kasus ringan. Damian adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk membantu para bangsawan bermasalah agar bisa memenangkan kasus. Pemuda itu menyingkirkan jenis surat seperti itu. Ia sedang tidak berselera untuk mengambil banyak kasus.


Dua surat lainnya merupakan undangan pesta. Damian bertanya-tanya, siapa orang yang sudah nekat mengundangnya. Tidak banyak bangsawan yang suka mengundang Damian ke pesta mereka, kecuali jika mereka sedang membutuhkan bantuan. Damian yakin kalau dua undangan pesta ini juga berasal dari bangsawan yang akan meminta bantuannya. Kasus yang mungkin sulit untuk dibicarakan melalui surat.


Sekali lagi Damian menyingkirkan dua undangan pesta itu. Ia benar-benar belum ingin menangani kasus baru. Akhirnya, pemuda itu pun beralih ke surat terakhir. Sepucuk surat beramplop merah dengan stampel berlambang bunga lily, lambang keluarga Baron Brutus. Surat itu jelas berasal dari tunangan Damian, Lucelia Brutus.


Hanya surat terakhir itu yang dia buka. Tulisan tangan Lucelia yang rapi menyambut Damian begitu membuka surat tersebut. Tunangannya itu tinggal di daerah selatan yang jauh dari ibu kota. Meski berasal dari keluarga Baron, tetapi keluarga Brutus dikenal memiliki wilayah yang subur dan makmur. Karena itulah orang tua Damian mengajukan proposal pertunangan pada putri sulung keluarga tersebut.


Alasan lainnya adalah karena tidak ada bangsawan di ibu kota yang bersedia menerima Damian sebagai menantu. Meski berasal dari keluarga terpandang, Damian memiliki tiga kekurangan besar. Pertama, Damian adalah putra ketiga keluarga Duke Castor, yang artinya ia tidak akan mendapat hak penerus keluarga Duke.

__ADS_1


Alasan kedua, karena Damian memiliki pekerjaan yang dihindari banyak orang, seorang delator. Pekerjaan tersebut memang menimbulkan kebencian dan kewaspadaan orang-orang terhadap Damian. Karena itu tidak ada keluarga bangsawan mana pun yang bersedia memiliki menantu seorang delator.


Sementara alasan ketiga adalah karena hobi buruk Damian yang suka mengunjungi rumah bordil. Damian terkenal sebagai seorang playboy yang gemar bermain wanita. Meski ia berusaha membangun citra positif di kalangan bangsawan, teapi masalah itu tetap menyeruak hingga akhirnya Damian sudah tidak peduli lagi. Pada akhirnya hanya Baron Brutus sajalah yang bersedia menerima proposal pertunangan Damian dengan putri keduanya, Lucelia. 


__ADS_2