
“Masuk! Jangan coba-coba kabur!”seru seorang uluwero berbadan besar pada Ānaru.
Tubuhnya kemudian dilemparkan ke dalam ruangan kumuh tanpa cahaya. Satu-satunya obor berada di luar ruangan, tempat beberapa uluwero penjaga berdiri. Jeruji bambu menjadi penyekat ruangan gelap itu dengan ruangan lainnya. Beberapa jerami kering tampak bertebaran di lantai.
Ānaru yang tersungkur kemudian dikurung di dalam sana tanpa mengerti apa yang terjadi. Luka-lukanya belum diobati, tapi meski begitu sudah tidak terasa terlalu menyakitkan.
“Sialan!” umpat Ānaru sambil meninju tanah.
“Bersenang-senang di penjara, Ānaru?” tiba-tiba Kaharap muncul di depan pintu ruangan Ānaru dipenjara.
“Brengsek kau, Kaharap! Apa yang kau rencanakan?” seru Ānaru menggeram marah.
Kaharap menyeringai penuh kemenangan. “Tentu saja menghancurkanmu, bocah budak. Kau pikir kau pantas menjadi uluwero?”
Ānaru meraung marah, lantas menyerbu ke arah Kaharap. Namun jeruji bambu menahan gerakannya. Ānaru juga sudah kehabisan tenaga untuk bisa menghancurkan bambu besar yang mengurungnya itu.
“Sialan! Kau menfitnahku!” sergah Ānaru penuh amarah.
“Aku tidak melakukannya, banyak orang menyaksikan kau melakukan gerakan aneh saat bertarung. Itu jelas-jelas bukan gerakan manusia. Aku hanya menawarkan alasan yang masuk akal dibalik ke anehan itu. Satu-satunya jawaban yang paling mungkin adalah kalau kau kerasukan Roh Jahat,” ujar Kaharap tersenyum licik.
“Apa yang membuatmu begitu membenciku, Kaharap?” tanya Ānaru sembari menggeretakkan gigi menahan kemarahan.
Kaharap tertawa keras menanggapi pertanyaan Ānaru. “Aku tidak membencimu, Ānaru. Aku hanya bersenang-senang denganmu. Bukankah kau menikmatinya?” ujar Kaharap lantas kembali terbahak.
“Bajingan brengsek… Akan kubalas… aku pasti akan membalas semua perbuatanmu…” gumam Ānaru dengan mata berkilat penuh kebencian.
__ADS_1
Satu malam berlalu di dalam penjara. Paginya, Ānaru dibangunkan dengan siraman air dingin ke tubuhnya. Seorang uluwero sudah berada di dalam sel-nya, membawa ember kayu. Ānaru mengerjap kaget.
“Bangun! Hari ini kau akan diadili!” seru uluwero itu lantas mengikat kedua tangan Ānaru dengan tambang kuat.
Ānaru kemudian diarak menuju lapangan desa. Di ujung lapangan, singgasana Kepala Suku lengkap dengan berbagai hiasan bulu burung enggangnya, sudah tegak berdiri. Putri Aroha duduk di singgasananya sementara puluhan penduduk desa berdiri mengitari lapangan, berusaha menonton kejadian langka itu.
Ānaru dilemparkan ke tengah lapangan dengan tangan terikat. Ia dipaksa berlutut oleh dua orang uluwero yang menyeretnya. Ānaru mengedarkan pandangannya sekilas. Di salah satu sisi lapangan, tampak mencolok dengan warna dominan putih, Airyung berdiri dengan wajah cemas.
Di sebelah Airyung, Ānaru juga melihat Ngaio serta… matu dan uma-nya. Ānaru langsung tertunduk malu. Ia benci dirinya sendiri hari itu. Impiannya untuk pulang dengan membawa status sebagai uluwero harus kandas. Alih-alih sekarang kedua orang tuanya justru harus menyaksikan anak semata wayang mereka yang tidak berguna menjadi pesakitan di persidangan.
“Jelaskan keadaan pemuda ini,” suara Putri Aroha membahana di tengah kasak-kusuk para penonton. Sontak orang-orang segera terdiam. Keheningan kemudian menyelimuti tempat itu.
Seorang uluwero maju ke hadapan Putri Aroha lantas mulai menjelaskan keadaan.
“Dalam kejadian tersebut, setidaknya enam ekor kinokambe berkumpul memangsa para penduduk. Tiga kinokambe berhasil dilumpuhkan oleh para uluwero dengan bantuan orang asing suku Giyatsa…”
Ānaru mendengus pelan. Pasti hanya Airyung yang menghancurkan tiga kinokambe itu. Pikir Ānaru dalam hati. Ia lantas kembali fokus mendengarkan kalimat sang uluwero.
“Tiga ekor yang lainnya, diduga telah dikalahkan oleh pemuda ini, Ānaru,” tutup sang uluwero mengakhiri penjelasannya.
Putri Aroha tampak mengerutkan dahi. Parasnya yang tegas memancarkan ekspresi penuh tanda tanya.
“Kalau dia berhasil mengalahkan kinokambe, kenapa dia dipenjara sampai harus diseret ke persidangan?” tanya beliau kemudian.
__ADS_1
“Masalahnya adalah, beberapa saksi melihat Ānaru melakukan gerakan bela diri yang tidak biasa. Beberapa bersumpah melihat pemuda ini terbang, melesat dengan cepat, hingga menghilang dan berpindah tempat dengan kecepatan tidak masuk akal. Semua gerakannya mirip dengan gerakan kinokambe yang sangat cepat.
“Terlebih lagi, Ānaru baru menunjukkan kemampuan itu beberapa detik setelah seekor kinokambe menerkamnya. Satu saksi terpercaya mengatakan bahwa dia melihat kinokambe itu masuk ke dalam tubuh Ānaru,” kata uluwero itu sambil melirik Kaharap.
Ānaru menyumpah dalam hati. Jelas-jelas dia yang telah menyelamatkan Kaharap dari terkaman kinokambe itu. Dan bahkan Ānaru melenyapkan Roh Jahat tersebut dengan belatinya, di depan mata Kaharap. Tapi apa yang dia katakan? Kerasukan? Sungguh konyol! Ānaru menyesal telah menyelamatkann Kaharap. Tahu begini dia seharusnya membiarkan Kaharap mati dimangsa kinokambe.
“Aku belum pernah mendengar bahwa kinokambe bisa merasuki manusia,” ungkap Putri Aroha. Beliau kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ānaru.
“Apa kau kerasukan kinokambe?” tanya Putri Aroha tanpa basa-basi.
“Tidak, Putri. Saya melenyapkan kinokambe itu dengan tangan saya sendiri. Tidak ada satu ekor pun yang masuk ke tubuh saya. Kinokambe sewajarnya memangsa manusia, bukan merasukinya,” jawab Ānaru penuh percaya diri.
Segera setelah kalimatnya selesai, suara kasak-kusuk penonton mulai terdengar lagi. Salah satu di antara penonton itu maju ke depan dan bicara dengan suara keras. Tentu saja orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kaharap.
“Kalau begitu jelaskan pada kami kemampuan super cepatmu itu. Kekuatan itu mustahil dimiliki manusia biasa,” ujar Kaharap tampak puas dengan kata-katanya.
Ānaru menggeretakkan gigi marah mendengar tuduhan Kaharap. Ia melirik Kaharap dengan tatapan membunuh yang sangat kuat. Tapi Putri Aroha sedang menunggu jawabannya. Mau tak mau Ānaru harus menahan amarahnya sekali lagi.
“Kekuatan itu, muncul dengan sendirinya saat nyawa saya terancam. Saya juga tidak mengetahui darimana asal kekuatan itu. Semua terjadi begitu saja,” jawab Ānaru jujur.
Suara kasak-kusuk penonton terdengar semakin keras. Ada yang memihak Ānaru, namun banyak pula yang merasa takut padanya. Mereka terus berkata-kata dan menyuarakan pendapat masing-masing hingga akhirnya Putri Aroha mengeluarkan suara lantang yang langsung membuat semua orang terdiam.
“Pemuda ini memang punya kekuatan aneh yang mencurigakan. Meski begitu, ia tetap berjasa melenyapkan tiga ekor kinokambe dalam satu malam. Kemampuan yang bahkan tidak dimiliki oleh uluwero terbaik Khitai,” kata Putri Aroha dengan suara kharismatiknya yang biasa.
“Aku tidak akan memutuskan masalah ini sekarang. Apakah pemuda ini harus dihukum atau diberi penghargaan? Aku akan memanggil Tetua Suku yang bertapa di Hutan Timur untuk mendapatkan nasehatnya. Sementara waktu, biarkan pemuda ini berada di penjara. Aku akan mengumumkan keputusannya setelah bertemu dengan Tetua Suku,” tutup Putri Aroha yang kemudian berdiri dari singgasananya. Beliau lantas berbalik pergi, kembali ke kediamannya.
__ADS_1
Hiruk-pikuk penonton langsung menyebar. Orang-orang mulai bicara sambil menunjuk-nunjuk Ānaru. Di sisi lain, Ānaru kembali dibawa oleh dua orang uluwero kembali ke penjara, menantikan nasib apa yang akan menimpanya setelah ini.
...***...