Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Pengakuan


__ADS_3

Sekembalinya mereka dari Venetian, baik Chiara maupun Rein masih terlihat bersungut-sungut. Mereka berdua kembali ke toko barang antik tanpa saling bicara satu sama lain. Chiara sudah mengurus pelayan yang dia curi identitasnya, tak lupa membuat pelayan itu melupakan semua kejadian yang dia alami dengan hipnotis. Kini Chiara sudah mulai melepas penyamaran ‘Ratu Judi’nya dan kembali menjadi sosok Kara, gadis miskin sederhana yang tidak menarik.


Chiara keluar dari toko melalui pintu belakang sementara Rein mengikutinya dengan membawa kotak perkakas. Gadis itu melotot tajam pada Rein, mengindikasikan bahwa ia tidak ingin pemuda itu pergi mengikutinya.


“Kenapa kau mengikutiku?” protes Chiara kesal.


“Kau bilang jendala kamarmu harus diperbaiki,” sahut Rein tak kalah sebal.


“Tidak perlu. Aku bisa mengurusnya sendiri.”


“Jangan banyak protes,” desak Rein lantas mengunci pintu tokonya.


Chiara berdecak tak sabar. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan Rein. Namun kalau mengingat peristiwa semalam, bulu kuduknya kembali bergidik. Ia tidak ingin bertemu dengan diabos lagi. Atas alasan tersebut akhirnya Chiara terpaksa menyisihkan rasa sebalnya. Hubungannya dengan Rein memang selalu dinamis. Mereka sering bertengkar tetapi lekas berbaikan. Keduanya sudah sama-sama nyaman dengan kehadiran masing-masing. Tidak ada hal yang membuat mereka bisa terlalu lama memendam amarah.


Kecuali fakta bahwa Rein hampir dimanipulasi oleh Lea. Chiara berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat perhitungan dengan wanita rubah itu. Berani-beraninya dia mengusik Rein. Chiara berharap kejadian hari ini bisa membuat sahabatnya itu belajar bahwa dunia perjudian memang sangat berbahaya bagi jiwa-jiwa yang naïf. Sebaiknya Rein tidak pergi ke Venetian lagi setelah ini.


“Apa besok kau akan berjudi lagi?” tanya Rein tepat seperti membaca pikiran Chiara.


“Kenapa kau bertanya?” sahut Chiara defensif.


“Tidak. Hanya ingin tahu saja. Besok mungkin aku juga akan menutup toko. Lagipula membosankan menjaga toko tanpa ada pembeli yang datang. Aku hanya menghabiskan waktu memoles guci-guci tua itu.”


“Jadi?” tanya Chiara lagi, segera memahami arah pembicaraan Rein.


“Mungkin aku akan ke Venetian,” sahut Rein tanpa rasa bersalah.


Chiara memijit pelipisnya untuk mengusir rasa pening yang sudah dia rasakan sejak pulang dari kasino. Jalanan yang padat membuat keningnya semakin berdenyut-denyut. Bahkan tanpa Rein membicarakan masalah itu saja, kepala Chiara terasa hampir pecah.


“Sebenarnya apa tujuanmu ke sana, Rein? Seumur hidupmu kau tidak pernah tertarik pada tempat itu. Sekarang kenapa tiba-tiba kau sangat terobsesi? Kau bahkan tidak tahu cara bermain kartu,” sergah Chiara sembari menghindari orang-orang yang berjalan dalam kerumunan.


Mereka tengah melewati pasar. Aroma buah-buahan yang membusuk menguar dari jalanan. Beberapa pria dan wanita berpakaian compang-camping duduk di sisi jalan yang kumuh sambil meminta-minta. Anak-anak kecil berlarian menembus kerumunan sambil mencari celah untuk mencopet. Sungguh pemandangan yang membuat sakit kepala.

__ADS_1


Padahal di belahan Valas yang lain, orang-orang kaya menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya. Akan tetapi kaum miskin yang tidak beruntung seperti mereka hidup penuh tekanan. Hanya menunggu hari-hari sebelum mereka mati, entah karena kelaparan, penyakit atau dimangsa roh jahat. Kalau saja Chiara tidak punya keterampilan berjudi, mungkin keluarganya akan berakhir seperti orang-orang itu. Dua adiknya yang kecil akan menjadi pencopet. Ibu dan ayahnya menjadi pengemis dengan baju yang robek-robek dan penuh tambalan. Sementara dirinya sendiri mungkin akan dijual ke prostitusi.


Hanya mengandalkan pekerjaan ayahnya sebagai curator tidak akan cukup untuk membiayai semua kebutuhan hidup mereka. Dan karena itu ia tidak bisa berterima kasih secara tulus pada keluarga Gilian. Toh sumber pendapatan ayahnya dari keluarga Rein sama sekali tidak digunakan untuk kehidupan Chiara dan adik-adiknya.


“Aku hanya ingin bergaul,” jawab Rein setelah sekian menit memikirkan jawaban yang tepat.


Lamunan Chiara terbuyar. Gadis itu menarik napas panjang dengan berat. Ada satu lagi orang bodoh yang harus dia urus setelah ini. Rein terlalu naïf untuk terjun ke dunia gelap. Dan meskipun Chiara setuju kalau Rein mungkin kesepian, tetapi jalan yang dia pilih sepertinya keliru. Tidak ada orang normal yang mencari teman di tempat perjudian.


“Bergaulah dengan manusia, Rein. Bukan dengan rubah atau serigala berbulu domba,” sahut Chiara lelah.


“Kau punya banyak teman di sana,” kilah Rein keras kepala.


“Sudah kukatakan berkali-kali, mereka bukan temanku. Satu-satunya temanku hanya kau,” tandas Chiara memberi penekanan agar Rein memahami betapa seriusnya kata-kata itu.


Rein tersenyum simpul, senang karena Chiara menganggap dirinyalah satu-satunya teman yang gadis itu miliki. Meski faktanya, Rein juga cuma punya Chiara sebagai temannya. Setidaknya mereka berdua punya rasa saling memiliki. Ikatan tak kasat mata yang membuat Rein merasa cukup spesial.


“Kalau begitu kau juga rubah?” tanya Rein kemudian.


“Tentu aku harus menjadi serupa dengan mereka untuk bisa bertahan dalam kawanan itu. Tapi bukan berarti kami suka dengan identitas tersebut. Kawanan rubah saling berkhianat dan menusuk dari belakang. Setelah apa yang kau alami barusan, seharusnya kau sudah bisa memetik pelajarannya, Rein.”


“Aku punya banyak waktu untuk belajar menjadi rubah,” ujar Rein ringan.


Sebenarnya dimana letak kesalahannya? Kenapa tiba-tiba Rein bertingkah menyebalkan. Pada dasarnya Rein memang selalu menyebalkan. Tapi dua hari terakhir dia super menyebalkan.


“Aku tidak melakukannya semata-mata untuk bersenang-senang, Kara. Aku hanya ingin lebih mengenalmu, mengetahui tentang hal-hal yang kau sukai dan kehidupanmu saat tidak bersamaku,” kata Rein setelah melihat Chiara menghela napas lagi.


“Kenapa kau harus melakukan hal semacam itu? Kita sudah kenal sejak lahir. Dua puluh tahun lebih kita berteman. Apa lagi yang tidak kau ketahui tentangku? Sungguh alasan yang tidak masuk akal,” ujar Chiara gusar.


“Aku ingin tahu sisimu yang suka berjudi. Aku ingin memahaminya,” ungkap Rein terus terang.


“Untuk apa?” tanya Chiara yang kini benar-benar penasaran.

__ADS_1


“Setidaknya kita perlu saling memahami kalau mau hidup bersama. Aku ingin mengurangi intesitas pertengkaran kita di masa depan. Kita tidak bisa terus bertengkar setelah tinggal bersama, kan.”


Chiara menghentikan langkahnya di tengah-tengah hiruk pikuk perdagangan pasar. Dengan dramatis gadis itu menatap sahabatnya yang turut berhenti.


“Kenapa?” tanya Rein sambil menautkan kedua alisnya.


“Kau yang kenapa. Apa maksudmu kita harus hidup bersama? Tinggal bersama? Kau mau merekrutku sebagai pelayan di rumahmu?” tanya Talia tak kalah heran.


Rein berkacak pinggang sambil menepuk dahinya. “Kenapa kau harus jadi pelayan di rumahku? Ada banyak orang yang lebih cakap darimu di Valas.”


“Jadi?” tanya Chiara sambil berdoa dalam hati agar Rein tidak mengatakan hal yang seperti perkiraannya.


“Tentu saja sebagai Nyonya rumah.” Kata-kata itu meluncur mulus dari mulut Rein seolah-olah hal tersebut adalah kondisi paling wajar yang sudah seharusnya terjadi.


Chiara, di sisi lain, langsung mengumpat dalam hati karena perkiraannya benar. seharusnya ia sudah menduga sejak makan malam dua keluarga tempo hari. Sebenarnya siapa yang merencanakan ini dari awal? Orang tuanya? Tuan Gillian? Atau bahkan sahabatnya sendiri itu? Chiara tidak bisa menerka dari mana akar mula ide tentang pernikahan ini muncul. Yang jelas ia sudah tahu harus menjawab apa.


“Jangan bersikap konyol, Rein. Kau seharusnya menikahi gadis yang lebih layak,” jawab Chiara sembari berbalik pergi.


Rein menahannya dengan menggenggam pergelangan tangan Chiara. “Apa maksudmu? Kupikir kita punya pemikiran yang sama tentang hubungan ini. kedua orang tua kita juga tidak menentang usul ini.”


“Kau … sudah mengatakannya pada ayahmu? Orang tuaku?”


“Tidak secara eksplisit. Tapi jelas mereka tahu arti kedekatan kita. Kau pikir di usia kita sekarang, masih masuk akal kalau kita sekedar menjadi sahabat?”


“Kau benar-benar sinting. Bisa-bisanya kau mengatakan hal ini setelah nyaris tidur dengan wanita lain,” sergah Chiara benar-benar marah.


Selain alasan tersebut, fakta bahwa mereka ada di tengah pasar saat Rein mengatakan hal itu juga sangat mengganggu bagi Chiara. Tidak ada romantisme dalam adegan ini. Alih-alih, Chiara justru merasa sedang diejek, seolah perkara pernikahan itu begitu mudah untuk dibahas, bahkan dengan suasana kacau seperti ini.


“Bukan begitu. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Aku punya alasan … ,” bujuk Rein putus asa.


“Terserah. Aku tidak peduli. Jangan mengikutiku. Aku tidak ingin melihatmu sekarang,” bentak Chiara sembari menepis tangan Rein lalu berlari pulang dengan perasaan yang kacau. 

__ADS_1


__ADS_2