Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 2: Taurus] Kematian


__ADS_3

Sang butler mengantarkan Bianco menuju kereta kuda yang sudah menunggu di depan mansion. Bianco sedikit curiga karena masih disediakan kereta kuda untuknya pulang. Padahal baru saja Beatris memecatnya. Bianco mencoba menolak. Namun sang butler bersikeras memaksa pemuda tersebut untuk mengendarai kereta kuda yang sudah disediakan. Agaknya Bianco tidak punya pilihan lain. Maka dengan sedikit waswas, Bianco pun menaiki kereta kuda tersebut.


Sang kusir menghela kudanya dan membawa Bianco keluar dari halaman mansion. Kereta kuda berkelotak memasuki jalanan utama Nuchas. Bianco mencoba membuka jendela di keretanya. Namun jendela itu terkunci dari luar. Kecurigaan Bianco semakin meningkat. Pemuda tersebut mengetuk pelan kisi-kisi yang mengarah ke tempat duduk kusir di depan. Akan tetapi, sang kusir justru memacu kudanya lebih kencang hingga membuat Bianco terhempas ke kursi belakang.


Punggungnya mengantam kursi kayu dengan keras mengakibatkan rasa sakit di tulang belakangnya. Bianco mencoba bangkit, tapi sang kusir terus melaju dengan cepat. Kereta kuda berguncang hebat. Pemuda itu yakin guncangan itu tidak mungkin terjadi kalau mereka melewati jalan utama Nuchas. Kereta kuda itu kini tengah melaju di jalanan terjal menuju hutan.


Bianco mencoba tenang. Ia mengatur napasnya sedemikian rupa agar bisa tetap berpikir dengan jernih. Di tengah goncangan yang tak terkendali itu, Bianco mencoba membuka pintu kereta kudanya yang juga sudah terkunci dari luar. Ia merogoh kantongnya untuk mencari benda apa pun yang bisa digunakan untuk membobol pintu. Namun yang ditemukannya hanya pembuka botol dan penyulut api bermoncong panjang. Benar-benar benda tidak berguna.

__ADS_1


Pada akhirnya Bianco mencoba mendobrak pintu dengan kekuatan kakinya. Beberapa kali ia mencoba menendang pintu kayu kereta kudanya dengan kekuatan maksimal. Namun karena guncangan kereta dan ketebalan pintu kayu itu, usaha Bianco tidak membuahkan hasil sama sekali. Dengan putus asa Bianco mencoba mendobrak pintu kereta dengan tubuhnya. Namun kereta itu justru oleng ke samping dan terjatuh berputar-putar. Tubuh Bianco terpelanting ke segala arah dan membentur sisi-sisi dalam kereta kuda.


Selama beberapa saat keretanya itu jatuh berputar-putar hingga akhirnya berhenti. Bianco bangkit dari segala rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Kepalanya berdarah dan badanya dipenuhi luka lecet. Pintu kereta kini ada di bawah kakinya. Bianco harus keluar dari tempat itu dengan mendobrak sisi lainnya.


Mendadak pemuda tersebut mencium aroma minyak yang sangat kuat. Ia juga mendengar seseorang mengelilingi keretanya dari luar sambil menuang cairan dari jerigen.


“Sialan!” umpat Bianco penuh amarah. Pemuda itu lantas menendang dan mendobrak dinding kereta dengan membabi buta. Ia harus segera keluar dari sana atau mati terpanggang.

__ADS_1


Waktu terasa seperti selamanya. Lambat laun tenaga Bianco semakin melemah. Asap tebal membuat setiap tarikan napasnya terasa menyakitkan. Matanya juga pedih karena asap tersebut. Keringat mengucur deras di tubuh Bianco, karena hawa panas ditambah rasa gelisah menjemput kematian.


“Aah … . Sialan. Hidupku sudah seperti sampah. Sekarang aku pun mati dibuang dan dibakar seperti sampah,” desah Bianco lalu tertawa parau.


Bianco terduduk dan merebah di dinding kayu yang panas. Tidak lagi dia pedulikan rasa sakit yang membakar punggungnya. Dari saku mantelnya, Bianco mengeluarkan sebotol kecil wine yang dia bawa dari bar. Pemuda itu lantas meneguknya dengan khidmat, seolah itu adalah ritual perpisahan dengan hidupnya yang menyedihkan.


Pemuda itu lantas memejamkan mata, bersiap menghadapi ajal yang sudah di depan mata. Akan tetapi, tiba-tiba dinding di depannya hancur berkeping hingga menimbulkan rongga yang besar. Bianco terkejut selama beberapa detik. Namun matanya kemudian menangkap warna perak yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


“Bian?” suara Ekhtuya terdengar dari luar. “Ayo keluar.” Gadis itu sekonyong-konyong muncul di hadapan Bianco sambil mengulurkan tangan. Api sudah melalap sisi dinding tempat Ekhtuya berdiri. Namun gadis itu seperti tak peduli meski pun lidah-lidah api menari di sekelilingnya.


Bianco mendengkus pelan. “Kau tidak pernah gagal mengejutkanku, Ekhtuya,” desah Bianco sembari menyambut uluran tangan Ekhtuya. 


__ADS_2