
Ānaru tiba lebih dulu di rumah tâkuta. Disana ia hanya mendapati puing-puing sisa kebakaran. Tidak ada yang tersisa selain abu dan beberapa tiang kayu yang masih berasap. Ānaru tidak menemukan siapapun. Bahkan mayat-mayat uluwero yang sudah dikalahkannya kemarin juga menghilang, menyisakan bekas darah yang berceceran di tanah.
Āiryung tiba tak lama kemudian. Sambil menghela Tsagan yang berderap kencang, gadis itu pun berhenti di sebelah Ānaru.
“Astaga apa yang terjadi disini?” tanya Airyung terkejut.
“Kaharap dan anak buahnya mendatangi kami malam-malam. Ia kemudian membakar rumah tâkuta dan membuatku membangkitkan kekuatan Zodiak melalui amarahku,” terang Ānaru singkat.
“Jadi kau membunuh semua uluwero itu?” tanya Airyung sambil turun dai kudanya.
Ānaru hanya mengangguk kecil, merasa bersalah. Dia sudah membunuh manusia. Bahkan mereka adalah seorang uluwero pelindung suku.
“Lantas dimana mayat-mayat mereka?” tanya Airyung kemudian.
“Entahlah. Aku juga tidak menemukan uma dan tâkuta itu.”
“Ayo kita coba berkeliling sebentar,” ucap Airyung mencoba menghibur kemurungan Ānaru.
Ānaru menurut. Kali ini mereka berkuda dengan Tsagan agar dapat menyisir area dengan lebih cermat. Airyung mencoba berkeliling di sekitar rumah tâkuta, hingga menuruni sebuah lembah dangkal di belakang rumah tersebut. Disana mereka mendapati delapan gundukan tanah yang sepertinya baru dibuat.
“Orang tua itu meskipun terlihat renta, namun fisiknya cukup kuat juga ternyata,” komentar Airyung melihat delapan gundukan tanah bekas penguburan jenazah para uluwero.
Ānaru tidak bisa tidak setuju dengan pendapat gadis itu. Menguburkan delapan jenazah dengan kondisi perut, dada dan kepala terburai pasti tidak mudah. Apalagi dalam waktu yang relatif singkat. Ānaru sudah menduga kalau sebenarnya tâkuta itu menyimpan kemampuan tersembuyi yang tidak pernah dia perlihatkan. Apalagi wawasannya terhadap hal-hal terkait pengobatan dan energi jiwa. Tidak semua orang mengetahui tentang hal itu.
“Makamnya cuma delapan. Apa itu artinya ayahmu masih hidup?” tanya Airyung kemudian.
“Sepertinya begitu. Mereka pasti pergi ke desa terdekat untuk mendapat pertolongan.”
Airyung mengangguk menyetujui pemikiran Ānaru. “Kalau begitu kita juga kesana. Mereka pasti belum jauh. Kau mau berlari atau naik kuda bersamaku?”
__ADS_1
“Kalau aku terlalu cepat, aku takut nanti justru malah melewatkan mereka di perjalanan. Kita berjalan pelan saja dengan Tsagan,” jawab Ānaru kemudian.
Airyung lantas segera menghela kudanya meuju desa terdekat. Perjalanan di hutan mati tak tampak sedikit berkabut pagi itu. Ānaru terus memikirkan kondisi orang tuanya. Meski begitu, melihat makam yang dibuat oleh sang tâkuta hanya ada delapan, itu artinya matunya mungkin masih hidup. Tâkuta itu juga pasti sudah memprediksi kedatangan Ānaru dan karena itu ia tidak mungkin pergi ke tempat yang terlalu jauh.
Meski begitu, desa terdekat jaraknya tetap dua hari perjalanan berjalan kaki. Dan kalau menggunakan kuda, seharusnya mereka bisa menyusul tâkuta itu sebelum mencapai desa. Tapi ternyata, sepanjang perjalanan Ānaru sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan sang tâkuta ataupun umanya. Bahkan setelah hampir mencapai desa, Ānaru tidak juga melihat bekas perjalanan mereka.
“Kita sudah sampai di pintu masuk desa, Ānaru. Apa kita harus kesana?” tanya Airyung kemudian.
“Iya. Ayo kita coba cari disana,” jawab Ānaru.
Airyung pun membawa kudanya mendekati desa kecil yang dipenuhi bangunan kayu anyam yang usang. Di depan gerbang bambu desa itu terdapat seorang uluwero yang tengah berjaga. Melihat kedatangan Airyung, uluwero tersebut lantas siaga dan siap menahan mereka sebelum memasuki desa.
“Mutuka! Ewa kou matou[1]” seru uluwero itu sambil menahan mereka di depan gerbang bambu.
“Tok ara Ānaru. Tok rapu tâkuta mai mahaere mate[2],” ucap Ānaru terus terang.
“Cepat sekali kabar tentangmu tersiar,” komentar Airyung sedikit waspada.
“Kurasa tâkuta itu punya andil dalam penyebaran kabar tentangku,” kata Ānaru mencoba menyimpulkan.
Benar saja, tak lama setelah mereka masuk ke desa, beberapa warga desa tampak berkerumun dan mendatanginya dengan penuh rasa penasaran. Ānaru sontak diberondong dengan berbagai ucapan dan pertanyaan dari orang-orang desa tersebut. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kini banyak orang sudah mengerumuninya hingga ia terpisah jauh dari Airyung.
Gadis itu hanya bisa tertawa geli melihat tatapan memelas Ānaru yang seolah meminta bantuannya untuk bisa keluar dari kerumunan orang yang memojokkannya. Meski begitu Airyung sama sekali tidak bisa membantu apa-apa. Selain karena tidak bisa mengerti bahasa suku Khitai, juga karena Airyung tidak bisa menyeruak di antara kerumunan orang yang sudah seperti semut melihat gula.
“Biarkan pemuda itu beristirahat,” sebuah suara parau terdengar dari salah satu sudut desa.
Airyung, Ānaru dan seluruh warga desa yang mengerumuninya sontak menoleh. Mereka lantas mendapati sang tâkuta tua yang berjalan dengan tongkat muncul dari dalam sebuah rumah anyam.
“Tâkuta!” seru Ānaru tanpa bisa menyembunyikan rasa gembiranya.
__ADS_1
Pemuda itu lantas berjalan membelah kerumunan menuju sang tâkuta.
“Aku senang melihatmu disini,tâkuta. Meskipun sudah setua ini, tapi kau tetap masih begitu kuat,” ujar Ānaru kemudian.
“Masuklah, Ānaru. Matu dan umamu sudah menunggu,” ujar sangtâkuta itu sambil membimbing Ānaru masuk ke dalam salah satu rumah anyam.
Ānaru mengangguk pada Airyung agar gadis itu juga mengikutinya memasuki rumah. Airyung menurut, lantas berlari menyongsong Ānaru. Di dalam rumah itu Ānaru melihat umanya yang menangis haru lalu memeluknya dengan penuh syukur.
“Uma, maafkan aku,” ucap Ānaru lirih. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, namun Ānaru bersikeras menahan diri untuk tidak menangis.
“Tidak, nak. Umamu ini sangat bersyukur karena bisa melahirkan seorang pahlawan sepertimu. Terimakasih, Ānaru, karena kau sudah bertahan,” ucap umanya dalam bahasa suku Khitai.
Ānaru memeluk umanya dengan lebih erat. Tidak ada hal yang lebih dia syukuri selain melihat umanya selamat.
“Dimana matu uma?” tanya Ānaru kemudian.
“Matumu belum sadarkan diri. Beliau dibaringkan bale pengobatan. Beruntung api yang membakar rumah tâkuta kemarin belum terlalu besar. Tâkuta berhasil mengeluarkan matumu begitu kau pergi meninggalkan kami,” jelas umanya.
“Syukurlah, uma. Apakah kondisinya sudah membaik?”
Umanya menggeleng. “Belum, nak. Tâkuta membawa kami menggunakan gerobak dorong yang dia simpan di dasar lembah. Tâkuta itu ternyata sangat kuat Ānaru. Dia membawa kami dengan sangat cepat ke desa ini.”
Ānaru tersenyum simpul. Tentu saja begitu. Setelah ia mengingat kehidupan lalunya, Ānaru kini tahu, siapa tâkuta itu sebenarnya. Ia mengingatnya karena sang tâkuta tua itu adalah orang yang sudah dia kenal dalam kehidupan terakhirnya sebelum menjadi sosok Ānaru.
...***...
[1] Berhenti! Siapa kalian?
[2] Namaku Ānaru. Aku mencari seorang tâkuta dari hutan mati.
__ADS_1