Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 4: Cancer] Serangan


__ADS_3

Perjalanan Damian diawali dengan lancar. Wilayah kekuasaan Baron Brutus hanyalah desa terpencil yang letaknya cukup jauh dari kota. Karena itu perjalanan mereka sekarang pasti akan memakan waktu selama beberapa hari. Ini adalah perjalanan jauh Damian yang pertama. Ia belum pernah bepergian sejauh itu sebelumnya.


Selama ini, kedua keluarga yang terpaut jauh itu hanya sering berkirim surat melalui kurir yang biasanya pergi bersama rombongan pedagang. Mereka dikawal oleh para ksatria untuk melakukan perjalanan jauh. Akan tetapi, sekalipun sudah dikawal oleh ksatria, rombongan itu pun tetap selalu berakhir menjadi santapan Deimheim. Tidak sampai separo rombongan yang berhasil kembali.


Setelah pernah sekali bertemu dengan Deimheim, saat ini pun Damian juga tidak yakin dirinya bisa kembali dengan selamat. Perintah ayahnya tersebut sudah seperti hukuman mati baginya. Menjadi putra ketiga dalam keluarga bangsawan memang tidak menyenangkan. Bahkan seorang ayah kandung pun tak peduli kalau Damian bisa selamat atau tidak.


Hari menjelang gelap saat akhirnya rombongan Damian sampai di sebuah hamparan tanah lapang luas di tengah hutan. Tempat itu sepertinya cocok untuk bermalam. Para ksatria membangun tenda mereka sebelum gelap, sekaligus bersiap-siap menyalakan api unggun untuk menangkal roh jahat, entah apakah akan berguna atau tidak.


Belum ada separuh perjalanan mereka lalui. Namun Damian sudah merasa lelah luar biasa. Berada di kereta kuda seharian penuh membuat tubuhnya kaku. Jalanan tanah yang terjal terus menyentak-nyentak pinggangnya hingga seluruh tulang punggung Damian terasa pegal dan tidak nyaman.


Setelah makan malam dengan roti dan selai, Damian pun memutuskan untuk bermalam di dalam kereta kuda. Meski tidak nyaman, tetapi itu lebih baik daripada ia harus tidur di atas tanah yang keras dan dingin. Selain itu juga, bayangan Deimheim membuatnya sangat tidak nyaman. Berada di luar membuat Damian merasa tidak aman.


Malam pun tiba tanpa terasa. Damian menutup seluruh jendela kereta kudanya dengan rapat, hingga hanya menyisihkan kisi-kisi kecil untuk keluar masuk udara. Pemuda itu lantas menyalakan lentera kecil yang kemudian dia gantung di langit-langit. Sembari membaca beberapa buku yang ia bawa dari kediaman Castor, pemuda tersebut menajamkan pendengarannya, bersikap waspada terhadap bahaya apa pun yang mungkin muncul.


Di luar sana, suara keretak api unggun terdengar. Para ksatria tidak banyak bicara. Mereka hanya bicara sekadarnya, membahas jadwal jaga dan persediaan makanan. Setelah itu sunyi. Hanya suara  kerisik deadunan yang tertiup angin serta derak kayu terbakar yang mewarnai malam itu.

__ADS_1


Damian menjulurkan kakinya di atas tempat duduk dan bersiap tidur. Malam belum terlalu larut, tetapi Damian sudah bosan setengah mati. Ia sedikit menyesal karena tidak terpikir untuk mengajak Cassie dalam perjalan itu. Setidaknya ia punya teman mengobrol, atau melakukan hal lain yang menyenangkan. Kini Damian hanya bisa melamun, menerawang sampai terkantuk-kantuk.


Pemuda itu sudah nyaris tertidur ketika mendadak ia menyadari kalau lentera di dalam keretanya sudah padam. Pemuda itu terbaring di tengah kegelapan. Secara perlahan, pemuda itu kembali terjaga. Suara keretak api unggun sudah berhenti. Desau angin dan kerisik dedaunan sirna.


Damian bangkit terduduk di dalam kereta kudanya. Ia mengintip dari celah jendela tetapi yang bisa ia lihat hanyalah kegelapan pekat. Jantung Damian mulai berdegup gelisah. Entah kenapa keadaan tersebut membuatnya tidak tenang. Firasatnya berkata bahwa akan terjadi kejadian buruk. Ia berharap para ksatria masih ada di luar sana untuk melindungi dirinya.


Untunglah doa Damian terkabul. Mendadak ia mendengar suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya. Para prajurit itu masih ada! Mereka sepertinya sedang berjaga-jaga menanti kedatangan roh jahat yang biasanya memang diawali dengan kegelapan total semacam itu.


Damian pun tak mau kalah. Meski ia tetap berada di dalam kereta, tetapi pemuda itu pun turut mencabut pedangnya sendiri untuk berjaga-jaga. Bayangan wujud Deimheim kembali menyergap ingatannya, membuat jantung Damian kembali berdegup kencang.


Desing pedang riuh terdengar di luar sana. Damian tidak bisa melihat apa-apa dari dalam kereta kuda. Akan tetapi pemuda tersebut bisa mendengar seluruh suara pertarungan di luar. Beberapa ksatria mengerang kesakitan, diikuti bunyi tulang yang patah atau tusukan di tubuh mereka. Damian tidak tahu ada berapa roh jahat yang muncul. Ia bertahan di dalam kereta kuda dengan tangan bergetar menggenggam pedangnya sendiri.


Mendadak terdengar suara benda keras menabrak dinding kereta kudanya. Damian bergoyang pelan karena dorongan tersebut membuat seluruh badan kereta oleng. Pemuda itu sedang berpegangan di sandaran kursi ketika tanpa aba-aba, pintu keretanya menjeblak terbuka.


Damian kaget bukan main. Pedangnya segera terhunus ke depan, siap melawan apa pun yang akan muncul. Namun rupanya yang datang adalah seorang pria tua yang bersuara parau.

__ADS_1


“Tolong … sa, saya tidak ingin mati,” rintih pria itu yang dikenali Damian sebagai kusirnya.


Damian menurunkan pedangnya dan berniat untuk menarik sang kusir masuk ke dalam kereta. Namun betapa terkejutnya Damian ketika menyadari tubuh kusir itu tinggal separuh. Dalam keremangan malam yang gelap, Damian samar-samar melihat bahwa bagian pinggang ke bawah dari tubuh sang kusir telah sirna!


Dengan terbelalak, Damian pun memekik keras hingga jatuh terjengkang ke belakang. Sesosok makhluk hitam dengan bulu duri menyambar sisa tubuh sang kusir dengan cepat, lantas melesa terbang menjauh.


Damian tercekat. Pedangnya terlepas dari tangannya dan terjatuh di lantai kereta kuda. Ia berusaha menguasai diri lagi lantas meraih pedangnya perlahan-lahan. Namun sepasang mata merah yang nyalang menangkap pergerakan tubuh Damian. Pemuda itu langsung menyadari bahwa ada sesosok Deimheim yang kini melesat ke arahnya dengan mulut menganga lebar, siap menghancurkan kereta kuda.


Damian tidak sempat kabur. Pemuda itu hanya bisa mengacungkan pedangnya ke depan, berharap roh jahat tersebut bisa terluka dengan tusukan pedang tersebut. Mendadak sebuah anak panah perak melesat dari arah samping. Tubuh roh jahat tersebut terlempar ke tanah lantas menghilang seperti asap.


Anak-anak panah perak lain kembali melesat ke segala arah, membunuhi para roh jahat yang datang ke tempat tersebut. Damian langsung mengenali serangan tersebut. Kutzo. Orang Giyatsa itu datang.


Dengan lega, Damian akhirnya berani keluar dari kereta kudanya. Pertarungan tampaknya sudah hampir selesai. Roh jahat terakhir mati di dekat api unggun yang langsung berkeretak menyala lagi begitu seluruh Deimheim musnah. Lima mayat ksatria terkapar di tanah dengan kondisi yang sudah tidak utuh. Tiga lainnya tampak luka-luka.


Beruntung kuda-kuda mereka masih utuh. Setidaknya perjalanan mereka masih bisa berlanjut meski banyak ksatria yang mati. Kutzo muncul bersama kuda abu-abunya yang gagah. Pemuda Giyatsa berambut panjang itu lantas turun dari kudanya lalu mulai membantu orang-orang yang selamat lalu mengumpulkan mereka di dekat api unggun.

__ADS_1


__ADS_2