
Ini pertama kalinya Chiara membawa masuk seorang laki-laki asing selain keluarganya atau pun Rein ke dalam kamarnya. Di tengah malam pula. Meski begitu, entah kenapa Chiara tidak merasa bahwa Altan berbahaya. Gadis itu justru tertarik karena pemuda suku Giyatsa tersebut seperti membawa nuansa baru dalam hidupnya.
“Kenapa kau memang selalu berkeliaran setiap malam?” Chiara bertanya setelah Altan duduk di kursi kayu dekat ranjangnya.
“Tidak juga. Kemarin aku memang sedang berburu saat melihat chögörü itu muncul. Aku mengikutinya dan sampai di rumah ini,” terang Altan sambil menatap Chiara yang duduk di atas ranjangnya dengan kaki terlipat.
“Berburu? Kau tinggal di mana?”
“Itu tidak tentu. Kadang aku tidur hutan, di atap bangunan, aku bisa tinggal di mana-mana.”
Penjelasan Altan terdengar menyedihkan bagi Chiara. Bukankah itu artinya pemuda ini adalah gelandangan? Gelandangan yang tampan. “Kenapa kau tidak menyewa kamar? Apa kau tidak punya uang?”
“Hmm … kurasa aku terbiasa hidup dengan cara seperti ini. Di Giyatsa kami memang tinggal di alam liar. Terutama bagi kami anggota Têmir, kelompok pemburu elit,” kisah Altan sambil menerawang, mengingat kampung halamannya.
“Sudah berapa lama kau ada di Valas?”
“Baru beberapa hari. Kota ini nyaman, kalau saja tidak ada chögörü. Kalian sepertinya senang berpesta.” Altan berniat memuji sambil nyengir. Pemuda itu sepertinya merujuk pada jajaran tempat kasino yang ada di area Venetian. Tidak diragukan lagi, perputaran uang paling masif di Valas memang berasal dari tempat tersebut.
“Dulunya Valas dikenal sebagai kota Festival. Berjudi bukan budaya kami. Tapi sejak kemunculan diabos, semua festival tidak bisa dilakukan lagi, para penduduk jatuh miskin sementara orang-orang kaya memanfaatkan keadaan dengan membuka tempat judi dan menipu rakyat kecil,” terang Chiara mejelaskan sejarah kotanya yang pernah dia dengar dari orang-orang tua.
“Semoga setelah misiku selesai, masalah dengan roh jahat ini pun bisa segera berakhir. Semua suku di Luteria mengalami keterpurukan gara-gara chögörü. Sifat-sifat jahat dalam diri manusia juga mulai terangkat naik karena efek kutukan tersebut.”
__ADS_1
“Ceritakan tentang misimu,” pinta Chiara sambil menelengkan kepala dan menatap Altan dengan tertarik.
Altan tersenyum senang karena bisa berbagi cerita dengan seseorang. Sepanjang pengembaraannya membelah benua, Altan begitu kesepian karena tidak ada siapa pun yang bisa dia ajak bicara selain kudanya, Cisco. Sayangnya Cisco hanya bisa meringkik.
“Seperti yang kau tahu, aku berasal dari suku penunggang kuda, Giyatsa. Dua belas orang dari anggota Têmir di suku kami terpilih untuk mengembara melintasi benua dan mencari dua belas orang yang ada dalam ramalan suku Ehawee.” Altan memulai ceritanya. Pemuda itu lantas menutup kedua matanya dan dengan khusyuk membaca ramalan yang dia terima dari perawan suku Ehawee.
...“Saat bulan Skirof berakhir di tahun kabisat ke duabelas...
...Gerbang Orion akan terbuka...
...Dua belas kesalahan akan ditebus...
...Oleh duabelas bintang dari duabelas penjuru...
...Hanya duabelas atau tidak sama sekali”...
Begitulah Altan kembali mengulang bunyi ramalan tersebut. Pemuda itu kembali membuka matanya dan mendapati Chiara masih menatapnya dengan wajah penuh perhatian.
“Bukankah itu ramalan tentang para Pejuang Zodiak?” tanya Chiara. Ia memang belum pernah mendengar tentang ramalan tersebut. Namun, jika membahas mengenai dua belas orang dari dua belas suku, bisa dipastikan kalau ramalan tersebut sedang membicarakan tentang dua belas pejuang zodiak yang kini hanya tinggal legenda.
“Kau mengetahuinya?”
__ADS_1
“Aku hanya menebak. Kalau memang benar begitu, artinya ramalan tersebut akan membuktikan keberadaan para Pejuang Zodiak yang selama ini cuma mitos belaks.”
“Mereka bukan mitos, Nona. Pejuang Zodiak sedang dibangkitkan, dan merekalah yang akan mengembalikan kedamaian di Luteria,” ujar Altan penuh keyakinan.
Chiara tertawa kecil melihatnya. “Kau terlihat sangat meyakinkan. Jadi tujuanmu jauh-jauh datang ke Valas adalah untuk mencari Pejuang Zodiak dari suku kami?”
Altan mengangguk mantap. “Lebih tepatnya Pejuang Zodiak Ketiga, Gemini. Kupikir karena lambang zodiaknya adalah sepasang anak kembar, maka aku harus mencari orang yang juga kembar. Tapi ternyata ada terlalu banyak anak kembar di sini,” ujar pemuda itu sambil tertawa.
Chiara turut mendengkus. Kalau syarat kelahiran Pejuang Gemini adalah anak kembar, bukankah itu berarti dia juga termasuk. Chiara dan Kale adalah kembar fraternal, kembar yang tidak identik. Ibunya memberi nama mereka Kara dan Kale. Mereka tidak mirip dan juga memiliki jenis kelamin yang berbeda.
“Tidak … ,” desah Chiara sambil menepis pikiran tersebut. Mana mungkin salah satu dari mereka adalah Pejuang Zodiak. Kemampuan Chiara hanyalah berjudi, sementara Kale bermain wanita. Kualitas tersebut jelas jauh dari ciri-ciri seorang Pejuang Zodiak yang membela keadilan.
“Maaf?” tanya Altan yang samar-samar mendegar gumaman Chiara.
“Bukan apa-apa. Sebaiknya aku beristirahat. Sebentar lagi pagi datang,” ucap Chiara buru-buru.
“Ah, maaf, Nona. Sepertinya aku mengganggu waktu istirahatmu. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Jangan lupa mengunci jendelamu lagi,” sahut Altan sambil bangkit berdiri.
Chiara tersenyum tipis. Sekalipun ia bukan Pejuang Zodiak yang dicari oleh Altan, tetapi Chiara sungguh menikmati waktu-waktu mereka berdua. Banyak hal menarik yang diceritakan oleh Altan. Pemuda itu juga berbeda dengan orang-orang lain di sekitar Chiara.
“Namaku Chiara. Apakah kita bisa bertemu lagi setelah ini?” tanya Chiara ketika Altan sudah berjongkok di bingkai jendela, bersiap melompat pergi.
__ADS_1
Pemuda itu berbalik menatap Chiara sambil tersenyum. “Aku akan berkunjung lagi kalau kau tidak keberatan,” ujarnya menawarkan diri.
Chiara mengangguk pelan. “Aku menunggumu.”