Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 2: Taurus] Penumbalan


__ADS_3

Ceceran darah kering menempel di dinding dan lantai. Bahkan beberapa potong tulang yang menyerupai tulang manusia terserak di seluruh tempat itu. Bianco kini mengerti darimana asal bau bacin yang pengap itu. Kondisi itu benar-benar membuatnya mual. Meski begitu, Bianco bisa menguasai dirinya.


“Pegang ini,” perintah Ekhtuya sembari menyodorkan pemantik yang kini menjadi pelita dadakan.


Bianco menurut dan memegangi pemantik itu sebagai penerangan sementara. Ekhtuya mengambil busurnya, lalu bersiaga. Sebuah anak panah sudah dia rentangkan, bersiap untuk menyerang apa pun yang mungkin akan muncul menyergap mereka. Keduanya lantas berjalan perlahan menjelajahi ruangan tersebut. Penerangan redup membuat jarak pandang mereka sangat pendek. Meskipun begitu, Bianco kini tahu struktur dalam ruangan tersebut.


Penjara itu ternyata sangat luas. Ia menemukan beberapa persimpangan setelah berjalan semakin ke dalam. Di beberapa tempat terdapa sel-sel dengan jeruji besi yang tertutup begitu saja. Anehnya, penjara itu kosong melompong, tanpa penghuni sama sekali. Setidaknya tanpa penghuni yang hidup. Karena yang disaksikan Bianco di dalam semakin terasa miris. Potongan-potongan tubuh manusia kini tidak hanya berupa tulang belulang melainkan daging segar yang berdarah-darah. Bau darah juga semakin kuat tercium di dalam sana. Udara begitu pengap, hingga Bianco berpikir sebenarnya darimana ruangan ini mendapat pasokan oksigen.


Pertanyaan tersebut segera terjawab. Pada ujung ruangan gelap itu, mereka berdua menemukan sebuah gorong-gorong besar setinggi kurang lebih dua meter. Lubang gorong-gorong itulah yang sepertinya mengarah ke permukaan tanah.


“Jadi dari sini mereka memanggil chögörü-chögörü itu. Kupikir awalnya mereka mengurung roh jahat di dalam sini. Itu artinya perlu banyak orang hidup yang dimasukkan di sini untuk memanggil para chögörü itu muncul,” ujar Ekhtuya sembari menurunkan busurnya.

__ADS_1


“Biasanya mereka memasukkan para budak yang tidak laku setelah lelang selesai,” jelas Bianco.


“Kalau begitu pencuri itu pasti tahu jalan rahasia ini. Gorong-gorong itu akan membawa kita ke permukaan. Dia pasti lari ke sana,” kata Ekhtuya lantas berlari hendak memasuki gorong-gorong. Bianco buru-buru mencegahnya.


“Terlalu berbahaya, Ekhtuya. Sebaiknya kita kembali. Bahkan para petugas yang mengejar kita tadi saja tidak berani masuk ke dalam sini,” ujar Bianco memperingatkan.


“Kalau kita keluar sekarang, para petugas itu justru akan menangkap kita, kan?”


Ekhtuya menarik napas panjang. Gadis itu pun akhirnya mengalah.


“Baiklah kalau itu maumu. Tapi setelah ini kita jatuh miskin. Apa kau bisa bertahan hidup di hutan?” tanya Ekhtuya kemudian.

__ADS_1


“Kurasa itu lebih baik daripada mati di telan malignos di tempat ini,” sahut Bianco cepat. Apa pun akan dia lakukan asal ia bisa keluar dari sini.


Dengan kecewa, Ekhtuya pun mengikuti Bianco menyusuri kembali ruangan gelap itu menuju keluar. Mereka berjalan dalam diam hingga langkah kaki mereka terdengar begitu keras. Hanya da keheningan di tempat itu, membuat suasana tegang semakin terasa mencekam.


Saat sudah hampir mencapai pintu keluar, mendadak Bianco mendengar keributan dan depannya. Ia lantas menyadari sesuatu yang mungkin lebih mengerikan dari situasi saat ini: para budak belian yang tidak laku sudah dimasukkan ke dalam ruangan itu! Ritual penumbalan ini akan segera dimulai sebentar lagi.


Secara otomatis, Bianco dan Ekhtuya berlari menyongsong sumber suara keributan. Dan benar saja, puluhan orang kini sudah berkerumun di balik pintu keluar. Mereka saling  bicara, merintih dan memohon untuk dibebaskan. Dengan jumlah orang sebanyak ini, kemungkinan munculnya malignos semakin tinggi. Bianco tidak bisa menghitung dengan baik dalam kegelapan. Tapi setidaknya dua puluh orang budak sudah berada di sana. Mungkin lebih.


“Apa yang harus kita lakukan?” desah Bianco mulai khawatir. Pintu ruangan itu sudah terkunci kembali. Ekhtuya lantas menyeruak melewati para budak menuju pintu keluar. Namun para budak itu justru marah dan menghardik Ekhtuya.


“Apa-apaan kau! Kenapa mendorongku! Aku juga ingin keluar sepertimu, dasar wanita kasar!” seru seorang budak laki-laki yang terlihat kumal.

__ADS_1


Ekhtuya tertegun sejenak. Ia tak menyangka kalau para budak ini pun ternyata punya sifat yang sama buruknya dengan orang Nuchas lainnya. Meski begitu, keterkejutan Ekhtuya tidak berlangsung lama karena mendadak, ekspresinya berubah waspada. Dengan tatapan tajam, Ekhtuya berbalik tanpa kata-kata sembari mengangkat busurnya. Bianco mengikuti arah bidikan Ekhtuya dan hatinya langsung mencelos. Malignos.


__ADS_2