
Chiara meremas surat itu dalam genggamannya. Sama sekali tidak terpikir olehnya kalau Rein akan pergi ke kasino sendirian. Bahkan sampai menutup toko. Apa dia sudah terpikat pada rubah ****** itu? Chiara menggeram kesal membayangkan adegan mereka berdua yang begitu akrab. Tanpa pikir panjang, gadis itu pun mulai merias diri dan menggunakan penyamarannya.
Padahal hari itu dia tidak berniat untuk pergi ke Venetian. Namun berkat Rein, ia jadi harus kembali ke tempat itu dan nyaris tergoda untuk berjudi lagi. Akan tetapi, Chiara segera menetapkan hatinya untuk mencari sahabatnya. Gadis itu menyusuri seluruh sudut aula besar tempat kasino itu. Sayangnya, Rein tidak terlihat di mana-mana. Ia melewati semua jenis permainan dan meja-meja judi yang terhampar di satu aula besar tersebut, dan Rein tetap tidak terlihat batang hidungnya.
“Apa kau mencari tuan muda Gillian?” sapa sebuah suara pria yang amat dikenal Chiara.
“Benedict,” gumam Chiara tanpa mengubah ekspresinya.
Benedict, pria jangkung dengan kumis tipis dan rambut klimis itu tersenyum. Satu tangannya memutar-mutar gelas anggur, sementara yang lainnya terulur untuk menyapa Chiara. Gadis itu menyambut uluran tangan Benedict semata-mata untuk sopan santun. Pria itu lantas mengecup lembut punggung tangan Chiara, sebagai bentuk penghormatan kepada seorang Lady. Chiara buru-buru menarik tangannya yang terbalut sarung tangan.
“Kau datang terlambat hari ini. Kau bahkan belum bermain sama sekali. Rasanya membosankan bermain dengan orang lain selain dirimu,” kata Benedict kemudian.
“Hari ini aku tidak bermain, Ben. Ada urusan yang harus kuselesaikan,” kilah Chiara terus terang.
“Ah, mengecewakan sekali. Kalau begitu aku akan merampok tempat ini menggantikan dirimu, Chiara. Aku akan memberimu sedikit bantuan karena kau membiarkanku kaya raya hari ini. Sponsormu sudah dibawa oleh wanita rubah itu ke ruang VIP di lantai dua. Aku tidak tahu persisnya ruangan berapa, karena hanya melihat mereka naik tangga sambil bermesraan,” ulas Benedict sambil mengangguk ke arah tangga.
“Terima kasih, Ben. Hari ini semua chip itu akan jadi milikmu,” sahut Chiara tulus. “Dan, sebagai informasi, Gillian bukan sponsorku,” tambahnya cepat-cepat.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Benedict, Chiara sudah melesat menuju lantai dua. Kasino itu terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar tempat seluruh permainan kartu dan judi lainnya. Di lantai dua berisi ruangan-ruangan VIP, tempat orang-orang kaya beristirahat sejenak atau melakukan pembicaraan rahasia. Sementara lantai teratas masih menjadi misteri. Selama Chiara bermain di Venetian, ia tidak pernah menyambangi lantai itu, atau pun mendengar desas-desus apa pun. Meski begitu, gadis itu tidak terlalu penasaran. Toh tujuannya ke kasino hanya mencari uang.
Sesampainya di lantai dua, Chiara disambut oleh lorong mewah dengan karpet beludru merah dan lampu Kristal gantung yang indah. Di sepanjang koridor, pintu-pintu kayu dengan ukiran sulur berjajar rapi dengan nomor tertentu. Chiara harus menebak-nebak ruangan yang tepat untuk menemukan Rein. Ada sekitar dua belas ruangan yang berjajar membentuk huruf U di lantai dua.
Apa sebaiknya aku mengetuk satu per satu? Pikir Chiara sembari melihat pintu bernomor 201 di depannya.
Namun, jika ia melakukan hal itu, Chiara mungkin akan mendapat masalah. Ia adalah pejudi yang ternama di Venetian. Dan kalau dia mencoba memasuki semua ruangan VIP untuk mencari Rein, orang-orang mungkin akan semakin curiga. Petugas kasino juga bisa mengusir Chiara karena menganggapnya tidak sopan.
“Ah, benar-benar merepotkan,” gumam Chiara frustrasi.
“Selamat siang, Nona Chiara. Apa ada yang bisa dibantu? Anda ingin menyewa ruang VIP?” Seorang pelayan perempuan berseragam rok pendek hitam dengan celemek putih menyapa Chiara sambil tersenyum ramah.
Sang pelayan menyanggupi permintaan Chiara lantas meminta gadis itu untuk berjalan mengkutinya. Sambil melewati lorong, Chiara mengamati pintu kayu satu per satu, berharap bisa mendapat petunjuk. Namun tetap nihil. Pelayan itu akhirnya berhenti di sebuah ruangan bernomor 210. Ia merogoh saku celemeknya dan mengeluarkan segerombol kunci. Pelayan itu memilah-milah anak kunci selama beberapa waktu, lantas memasukkan salah satu dengan nomor yang sama dengan nomor pintu.
Begitu pintu dibuka, Chiara disambut oleh ruangan mewah dengan dominasi warna putih. Sebuah tempat tidur berkelambu putih, set sofa gading berwarna putih, termasuk meja rias, meja makan bahkan tirai yang menutupi jendela setinggi dua setengah meter juga berwarna putih dengan sedikit ornamen emas merah.
“Selamat beristirahat, Nona Chiara. Kunci kamar ini ada di meja kecil yang ada di dekat tempat tidur. Saya akan menyiapkan camilan dan teh untuk menemani waktu istirahat Anda. Jika ada hal lain yang dibutuhkan, Anda bisa langsung memberi tahu saya,” kata pelayan itu sopan.
__ADS_1
Chiara yang berdiri di belakang sang pelayan lantas menutup pintu dengan hati-hati. “Benar, aku memang membutuhkan sesuatu. Tapi bukan makanan atau minuman,” ujar Chiara sembari berjalan mendekati pelayan perempuan itu.
Sang pelayan tampak kebingungan, tetapi tetap menjaga sopan santunnya dan berdiri diam, sedikit menundukkan badan. “Anda bisa meminta apa saja, Nona. Selagi kami bisa menyediakannya.”
Chiara berjalan semakin dekat dengan pelayan itu. Gadis itu lantas menepuk pundak sang pelayan. “Tenanglah. Jangan tegang. Aku tidak akan meminta sesuatu yang sulit. Bisakah kau bernapas dengan rileks?” tanya Chiara lembut.
Pelayan itu mengangguk gugup, lantas mencoba mengatur napasnya dengan teratur. Chiara berjalan mengitari pelayan perempuan itu sambil masih memegang pundaknya.
“Sekarang, kau akan semakin tenang, dan semakin tenang lagi. Tidak ada hal yang merisaukanmu. Semua pekerjaan beratmu sudah selesai. Kau bisa beristirahat di sini,” lanjut Chiara terus membisikkan kata-kata sugesti.
Pelayan itu mulai terkantuk-kantuk. Chiara terus membisikkan kalimat-kalimat menenangkan hingga akhirnya gadis itu memberikan perintah terakhirnya.
“Sekarang, tidurlah,” ucap Chiara yang langsung membuat tubuh sang pelayan lemas dan jatuh tertidur di pelukan Chiara.
Chiara menarik napas panjang sambil menggerutu. “Seharusnya aku menyuruhnya duduk sebelum menghipnotisnya. Maafkan aku, Nona, tapi aku perlu meminjam identitasmu selama beberapa saat. Tolong tidurlah selama mungkin,” gumam Chiara sembari menyeret tubuh sang pelayan ke atas tempat tidur.
“Oke, mari kita lakukan dengan cepat,” ujarnya lagi lantas melesat menuju pintu ruangan dan menguncinya.
__ADS_1
Setelah semua persiapan selesai, gadis itu mulai melepas samarannya sebagai seorang Ratu Es Perjudian, dan berubah menjadi seorang pelayan kasino dengan seragam dan rambut hitam. Ia melepas pakaiannya sendiri dan menukarnya dengan pakaian sang pelayan. Gerombolan kunci yang dikantongi pelayan itu juga kini sudah ada di tangannya. Chiara bisa bergerak bebas memasuki ruangan-ruangan VIP lain sambil berpura-pura menawarkan makanan dan teh. Penyamaran Chiara tidak pernah gagal mengelabuhi orang lain.