
Suasana di luar ternyata tidak segelap bayangan Chiara. Rumah-rumah dan pertokoan yang berjajar sepanjang jalan menyalakan lampu di depan bangunan masing-masing. Jalanan batu tidak bisa terlihat remang-remang.
Chiara berjalan dengan cepat menuju toko barang antik. Gaun panjangnya menyapu jalanan dan mengeluarkan desir lembut yang terdengar begitu keras karena suasana malam yang sunyi. Tidak ada seorang pun yang berpapasan dengan Chiara. Ia sepenuhnya sendirian membelah kota. Padahal malam baru saja datang tapi, Valas sudah seperti kota mati. Sunyi senyap tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Selama beberapa waktu, perjalanan Chiara tidak terkendala oleh apa pun. Akan tetapi ketika bangunan toko barang antik Rein sudah terlihat dari kejauhan, mendadak suasana jalan itu berangsur menjadi gelap. Lampu-lampu di depan rumah padam secara perlahan, seolah meredup serentak karena kehabisan bahan bakar. Hawa dingin juga mendadak berdesir, menerpa tubuh Chiara hingga bergidik.
Bulu kuduk Chiara meremang tanpa alasan yang jelas. Gadis itu mempercepat langkahnya agar segera sampai di tujuan. Suara kelotak sepatunya membahana, menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Tak berapa lama kemudian, suasana jalanan itu sudah berubah menjadi gelap total.
__ADS_1
Jarak pandang Chiara menyempit hingga ia tidak bisa memastikan arah langkahnya. Padahal tadi dia yakin toko barang antik tinggal beberapa blok lagi di depannya. Rasa panik menjalari gadis itu. Jantungnya berdentum keras karena ketakutan. Tanpa sadar ia pun berlari sambil berdoa agar ia menuju ke arah yang tepat.
Saat tengah berlari itu, mendadak Chiara mendengar suara menggeram yang sangat jelas. Suara itu seperti datang dari segala arah. Chiara langsung terpaku. Ia membeku di tempatnya berdiri, khawatir kalau-kalau langkahnya justru menabrak sumber suara.
Kegelapan pekat melingkupi gadis itu. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Suara menggeram terdengar semakin keras dan dekat, diikuti bau busuk menyengat. Chiara pun tahu apa yang kini tengah dia hadapi: diabos!
Keringat dingin mulai membasahi tubuh Chiara. Tangannya gemetaran dan jantungnya terus berdetak. Apa yang harus dia lakukan? Inikah akhir dari hidupnya? Di saat-saat seperti ini mendadak Chiara mengingat Altan. Apakah pemuda Giyatsa itu akan menyelamatkannya lagi?
__ADS_1
Melarikan diri bukan pilihan bijak. Diabos bisa melesat secepat angin. Diam di tempat juga tidak membantu. Cepat atau lambat roh jahat tersebut akan menerkamnya. Chiara sudah kehilangan harapan. Ia hanya bisa menutup matanya dan berserah apa pun yang terjadi.
Mendadak, suara geraman berubah menjadi raungan. Diabos itu melesat ke arah Chiara, hendak menelannya bulat-bulat. Di detik terakhir, pikiran Chiara seperti terpatik oleh tumpukan hartanya dan keping-keping emas yang sudah susah payah dia kumpulkan. Kalau dia mati, Chiara tidak bisa berjudi lagi.
Pikiran tersebut segera membuat gadis itu sadar. Sambil memekik keras, Chiara mengibaskan kantong uang yang dia bawa ke arah depan.
“Aku tidak mau mati sebagai orang miskin!” serunya penuh tenaga.
__ADS_1
Seberkas cahaya kuning gelap muncul dari telapak tangan Chiara dan mengubah kantong uangnya menjadi sebuah bola besi berduri yang sangat berat. Bola besi itu menyatu pada kedua tangan gadis itu yang juga sudah berubah menjadi logam.
Kibasan ringan itu berubah menjadi hantaman yang sangat kuat. Tangan Chiara yang sudah berubah menjadi bola besi berduri telak mengenai wajah sang roh jahat yang sudah membuka mulutnya lebar-lebar untuk memangsa Chiara. Diabos itu terluka parah karena bekas hantaman Chiara yang tidak terduga. Detik berikutnya, tubuh sang roh jahat mulai membuyar hilang menjadi asap.