
“Apa yang terjadi?” tanya Ānaru dengan suara parau.
“Kau nyaris mati dibunuh Kaharap,” sahut Airyung yang kemudian memberi Ānaru segelas air.
Ānaru mencoba bangun dari tempatnya berbaring, tapi tubuhnya begitu lemas. Airyung akhirnya membantu Ānaru untuk bangkit lalu meminumkan air di gelas yang dibawanya.
“Berapa lama aku pingsan?” tanya Ānaru penasaran, tubuhnya lemas kehilangan tenaga seperti sudah lama tidak mendapat asupan gizi.
“Tujuh hari. Beruntung kita bertemu dengan dukun penyembuh. Dia melakukan segala cara untuk menyelamatkanmu. Luka di kepalamu cukup parah.”
Pantas saja kepalanya nyeri sekali sejak tadi. Tujuh hari terbaring membuat seluruh tubuh Ānaru terasa kaku.
“Kita ada dimana?” lanjut Ānaru bertanya.
Sebelum sempat Airyun menjawab, dari pintu bale-bale bambu itu muncul sorang laki-laki tua diikuti oleh umanya. Ānaru segera mengenali laki-laki tua itu sebagai tâkuta yang tempo hari menyembuhkan Ānaru saat di penjara.
“Takuta?” tanya Ānaru bingung.
“Padahal baru beberapa hari yang lalu aku merawatmu. Sekarang kau sudah membuat luka baru di tubuhmu. Kau memang anak yang penuh semangat,” komentar tâkuta itu menjawab keterkejutan Ānaru.
Ānaru hendak protes karena tâkuta itu menyebutnya penuh semangat. Kesialan yang menimpanya berturut-turut ini bukan hal yang bisa dia kendalikan. Masalah-masalah itu datang dengan sendirinya tanpa diminta. Tapi Ānaru mengurungkan niatnya untuk protes. Barangkali di mata tâkuta itu, Ānaru memang kelihatan seperti anak muda yang gemar berkelahi. Kesan yang tidak buruk sebenarnya.
“Ānaru… anakku,” ratap umanya begitu melihat Ānaru siuman. Sang ibu lantas duduk bersimpuh di sisi ranjang Ānaru, menangis. Ānaru menepuk-nepuk lembut punggung tangan umanya yang mencengkeram lengan Ānaru.
__ADS_1
“Coba kulihat kondisi tubuhmu,” kata tâkuta itu kemudian mendekat ke sisi ranjang yang lain sambil membawa bubuk rempah aneh yang berasap.
Airyung mundur selangkah untuk memberi ruang pada sang tâkuta. Pria tua itu kemudian mengangkat tangannya ke arah wajah Ānaru sambil memejamkan mata. Setelah berkomat-kamit selama beberapa saat, tâkuta itu menyentuh ujung kepala Ānaru dan jeda di antara dua alis nya.
“Kondisimu sudah jauh lebih baik, nak. Ini bahkan lebih baik dari sebelum kau terluka. Ada satu kunci jiwamu yang terbuka,” kata tâkuta itu.
Ānaru tidak terlalu mengerti perkataan tâkuta itu, jadi ia memilih ber-hmm pelan untuk menanggapi. Tâkuta itu pun akhirnya pergi setelah meninggalkan beberapa ramuan obat untuk diminum oleh Ānaru setelah makan. Airyung dan umanya membantu Ānaru untuk melakukan hal-hal kecil seperti makan dan berganti baju. Umanya kemudian pergi keluar untuk membawa pakaian-pakaian kotor Ānaru. Sementara Airyung tetap tinggal disana untuk membantu Ānaru makan.
“Kenapa kita bisa ada di rumah tâkuta?” tanya Ānaru.
Tanpa perlu dijelaskan, Ānaru sudah tahu bahwa rumah ini pasti tempat tinggal sang tâkuta. Aroma herbal menguar kuat di tempat itu, kemudian di dinding bambu anyam, beragam daun kering dan jejamuran bergantungan sesuai jenis masing-masing. Tidak semua orang punya koleksi tanaman semacam itu di rumahnya. Hanya tâkuta yang sudah bertapa dan hidup menepi dalam waktu yang lama yang mungkin bisa menemukan tanaman herbal dan jejamuran seperti itu di tengah alam yang sudah mati.
“Tâkuta itu yang menemukan kita berkeliaran di hutan mati. Kami sedang membawamu yang terluka parah menuju desa terdekat. Tapi bahkan desa yang paling dekat jaraknya lima hari perjalanan dari tempat itu. Beruntung pagi setelah kau pingsan, tâkuta itu sedang melakukan entah apa di hutan mati. Dia membawa kita kesini,” jelas Airyung sembari menyuapi Ānaru dengan bubur biji-bijian tumbuk.
“Bagaimana dengan Kaharap?” tanya Ānaru yang teringat dengan kejadian malam itu.
“Aku menghajarnya dan meninggalkan mereka di hutan mati. Semoga mereka dimangsa chögörü,” kutuk Airyung serius.
“Apakah cukup aman kalau kita berada di sini? Uluwero bisa saja datang sewaktu-waktu.”
Airyung menggeleng singkat. “Entahlah. Sampai sekarang tidak ada satu pun yang datang kemari. Berdoa saja mereka tidak kepikiran untuk mencari sampai kesini.”
Keadaan Ānaru berangsur membaik. Setelah makan dan mencoba menggerakkan tubuhnya sejenak, Ānaru akhirnya sudah bisa bangkit dari ranjangnya. Meski rasa sakit di kepalanya masih terasa mengganggu, tapi tenaganya sudah lumayan pulih.
__ADS_1
“Dimana matu, uma?” tanya Ānaru saat umanya sedang menata tempat tidur Ānaru.
Umanya tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang dan terlihat semakin murung. Ānaru pikir matunya mungkin sedang duduk-duduk di depan bale sambil berbincang dengan tâkuta tua itu. Usia mereka hampir sama sepertinya. Dan matunya sangat suka bersosialisasi. Karena itu, untuk mengusir kesepian, matunya pasti menghabiskan banyak waktu untuk berbincag dengan tâkuta tua itu.
“Matumu terbaring sakit, Ānaru,” ucap umanya lirih.
Ānaru tampak terkejut. Matunya memang sudah sakit-sakitan sejak sebelum peristiwa ini terjadi. Tapi Ānaru tidak mengira ia penyakit itu akan kambuh lagi saat ini. Buru-buru Ānaru meminta umanya membawa ia melihat matunya. Umanya menurut. Setelah selesai membereskan tempat tidur, umanya membawa Ānaru keluar kamar dan menuju ruangan di sebelah kamarnya.
Ternyata bale-bale itu sangat luas. Ānaru mengetahuinya setelah ia keluar dari kamarnya. Ruang tengah bale itu sangat luas berbentuk melingkar. Ada satu set kursi kayu di tengah ruangan, dengan meja bulat yang besar. Pada dinding bambu anyam yang melingkari ruangan itu, terdapat tak kurang dari lima pintu yang berjajar tertutup tirai yang terbuat dari kulit domba. Ānaru pun memasuki pintu lain yang berada di sebelah kamar tempat dia dirawat.
Di dalam kamar itulah, Ānaru melihat matunya terbaring tak berdaya. Ānaru mencoba mendekat, dan tampaklah wajah matunya yang sudah lebih pucat dari sebelumnya. Sang matu terpejam entah karena tidur atau tak sadarkan diri.
“Matu…” bisik Ānaru setengah merintih.
“Pada saat sampai di sini, kondisi matumu sudah menurun. Kemudian paginya, saat melihat lukamu begitu parah, matu langsung tak sadarkan diri sampai sekarang,” jelas umanya sedih.
Ānaru mendekat ke sisi ranjang kemudian menggenggam tangan matunya yang dingin. Sebelumnya Ānaru tidak pernah begitu perhatian pada keluarganya. Saat matunya mulai sakit-sakitan dulu pun, Ānaru dengan terpaksa menggantikan pekerjaan menjadi gembala. Selama ini ia selalu tidak puas dengan keadaan keluarganya sebegai penggembala, dank arena itu hubungan Ānaru dengan matunya memburuk.
Ānaru selalu berambisi untuk menjadi uluwero dan membuang identitasnya sebagai penggembala. Hal itulah yang akhirnya membawa keluarganya sampai di titik ini. Semua dombanya sudah hilang, ia dan seluruh keluarganya menjadi buron. Kini, matunya terbaring tak sadarkan diri selama tujuh hari.
Air mata mulai menggenangi mata Ānaru. Bahkan bila ia menyesal sekarang pun sudah tak berguna. Ānaru hanya bisa merasa marah pada dirinya sendiri karena setelah semua perjuangannya, justru musibah semacam ini yang dia dapatkan. Jadi untuk apa dia berjuang? Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya saat ini. Harapan, keyakinan, bahkan ambisinya sudah memudar. Ia tidak lagi menginginkan apa-apa. Ia bukanlah siapa-siapa.
...***...
__ADS_1