
“Tuan Muda, apa Anda yakin akan bepergian tengah malam begini?” tanya kusir Damian yang barus saja dia bangunkan tengah malam. Sang kusir tidur di ruangan khusus para pengantar tamu yang disediakan oleh rumah bordil tersebut. Ruangan itu berisi banyak tempat tidur bertingkat yang semua dipenuhi para kusir yang tengah menunggu tuannya menikmati malam bersama wanita penghibur.
“Tidak akan ada masalah. Tempat yang akan kita datangi tidak jauh dari sini,” desak Damian tak sabar.
“Tapi, Tuan, bagaimana kalau ada Aimheim. Kuda-kuda kita, juga saya sendiri pasti akan langsung dimangsa,” rintih sang kusir yang ketakutan seolah baru dijatuhi hukuman mati.
Damian berdecak kesal. Kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan berkuda sendirian,” gerutunya sembari berbalik pergi.
Pemuda itu sedikit berharap sang kusir akan mencegah dia pergi sendiri. Tetapi satu-satunya kata yang diucapkan kusir pribadinya itu justru permintaan maaf. Damian akan memastikan orang itu dipecat besok pagi. Tanpa surat rekomendasi. Dengan begitu ia tidak akan bisa mencari tempat kerja baru. Seorang pelayan yang tidak menuruti perintah tuannya pantas untuk kehilangan masa depan.
Sambil bersungut-sungut, Damian pun keluar dari bangunan rumah bordil. Suasana di luar benar-benar sepi, tanpa suara. Udara seperti menggantung ganjil dan membuat bulu roma Damian sedikit meremang. Namun pemuda itu tetap berusaha memberanikan diri. Beruntung lampu-lampu jalan temaram masih menyala dengan redup. Setidaknya Damian bisa melihat jalanan kota itu.
Ia menuju istal dan mencari kudanya yang ditambatkan pada salah satu ruangan. Kuda itu seharusnya digunakan untuk menarik kereta kuda. Akan tetapi kuda-kuda milik keluarga Castor juga cukup kuat untuk ditunggangi.
Setelah berhasil keluar tanpa menimbulkan banyak suara, pemuda itu pun segera menghela kudanya untuk pergi ke tempat yang dia tuju, kediaman Viscountess Gausse. Suara kelotak langkah kuda membelah malam itu dan terasa nyaring karena tidak ada suara lain yang terdengar.
Separuh perjalanan Damian berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Namun ketika ia hendak berbelok di alun-alun, mendadak lampu-lampu jalanan di sekitarnya padam begitu saja. Kegelapan total menyelimuti Damian. Ia masih berusaha terus memacu kudanya yang kini tampak gelisah. Kuda berbulu cokelat itu tiba-tiba meringkik ketakutan, dan segera hilang kendali.
__ADS_1
Damian terus berusaha agar tetap berada di atas punggung kudanya yang kini mulai berlari kencang tanpa arah. Pemuda itu mencoba menarik tali kekang yang dia cengkeram kuat-kuat, tetapi tali tersebut justru putus karena kekuatan sang kuda yang memberontak. Damian pun terjatuh dari atas punggung kudanya.
“Sialan!” rutuknya sembari bangkit berdiri. Kudanya sudah lari menjauh dengan sangat cepat hingga tak terlihat lagi. Damian berdiri sendirian di tengah kegelapan total.
Pemuda itu mencoba mengedarkan pandangannya. Namun kelamnya malam membuat ia tidak bisa mengenali tempatnya berada saat ini. Seolah-olah semua cahaya diserap menghilang begitu saja. Bahkan langit pun tampak hitam tanpa bintang atau bulan.
Damian masih mendesis kesal. Punggung dan pinggangnya nyeri karena terjatuh keras di atas jalan batu. Kakinya juga terasa sakit saat digunakan untuk berjalan. Ia hanya berharap semoga pergelangan kakinya itu tidak patah.
Di tengah kegelapan tersebut, Damian terpaksa meraba-raba sendiri arah perjalanannya. Ia mencoba mencari petunjuk dari bangunan terdekat yang bisa disentuhnya. Sekonyong-konyong aroma busuk yang menusuk menghampiri indera penciuman Damian. Sontak pemuda itu menutup mulutnya dengan tangan sembari mengucapkan sumpah serapah.
“Sial! Sebenarnya bau apa ini. Bahkan pasar di Ponza saja tidak beraroma seburuk ini,” desisnya terus merasa kesal.
Napas Damian mulai memburu. Jantungnya berdegup kencang dan seluruh tubuhnya menyerukan sinyal tanda bahaya. Itu adalah Daimheim, roh jahat pemangsa manusia yang selalu berkeliaran setiap malam.
Damian kembali merutuk dalam hati. Detik itu juga ia menyesali perbuatan nekatnya telah berkeliaran di tengah malam. Meski begitu Damian tidak ingin mati. Pemuda itu lantas menarik pedangnya yang tersarung di pinggang. Sebagai putra seorang Duke, dan juga karena pekerjaannya sebagai delator, Damian diharuskan untuk mempelajari ilmu pedang sejak kecil. Meski kemampuannya tidak sehebat dua kakaknya, tetapi Damian cukup percaya diri ketika menggunakan pedang.
Dengan pedang terhunus, Damian pun memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melawan makhluk gelap bermata merah yang ada di hadapannya. Saat-saat menegangkan itu berlangsung selama beberapa detik hingga akhirnya Daimheim itu pun melesat dengan sangat cepat ke arahnya.
__ADS_1
Damian segera mengangkat pedangnya untuk menepis serangan tersebut. Bunyi desing besi beradu dengan kulit keras roh jahat tersebut. Damian terlempar sejauh dua langkah ke belakang. Meski terkejut, tetapi ia masih selamat. Deimheim itu tidak menyerah begitu saja. Ia kembali menerkam Damian dari belakang.
Pemuda itu mengayunkan pedangnya sekali lagi untuk menghidari serangan. Beruntung kedua mata merah sang roh jahat itu membantu Damian untuk memperkirakan arah serangan. Meski begitu, serangan kedua Deimheim ini berhasil melukai lengannya. Roh jahat bertubuh besar itu memiliki bulu duri keras yang sangat tajam.
Damian mengutuk gerakannya yang terlampau lambat. Sedikit saja ia salah bergerak, bisa-bisa seluruh tubuh Damian ditelan bulat-bulat oleh Deimheim.
Serangan ketiga datang lebih cepat dari sebelumnya. Damian belum sepenuhnya siap saat itu. Ia mengayunkan pedangnya dengan sembarangan, tetapi kini yang dia hadapi adalah sebuah mulut sangat besar yang mengaga menampakkan barisan gigi taring mengerikan.
“Sialan!” pekik Damian sembari menutup mata.
Tiba-tiba sebuah kilatan perak melesat dari arah yang berlawanan dan berhasil mengenai tubuh roh jahat itu. sang Deimheim terlempar ke samping dan menghilang begitu saja menyisakan asap gelap yang berbau busuk.
Damian membuka matanya kembali, menyadari bahwa nyawanya masih berada di dalam tubuh. Ia selamat. Dengan napas tersegal, pemuda itu lantas mengamati arah datangnya serangan yang membunuh sang roh jahat. Sesosok pemuda berambut perak berkilau sekonyong-konyong muncul dari kegelapan. Pemuda itu terlihat seperti melayang dengan rambut panjang yang melambai-lambai terkena angin.
Tak berapa lama kemudian lampu-lampu jalan mulai menyala lagi. Damian kini bisa melihat sosok pemuda berambut perak itu berjalan mendekatinya. Ia mengenakan pakaian aneh berwarna serba putih. Sebuah mantel bulu tebal dengan potongan hanfu panjang hingga menyapu jalanan.
“Kau baik-baik saja?” tanya pemuda berambut perak itu dengan sikap begitu tenang. Sebuah busur tergenggam ditangannya, menjelaskan lesatan anak panah yang membunuh roh jahat dalam sekali serangan.
__ADS_1
“Siapa kau?” sergah Damian masih dengan napas tersengal.