
Ānaru tidak bisa mengendalikan dirinya. Kesadarannya sebagai manusia sudah lenyap sempurna. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah menghancurkan. Ānaru melihat ke sekitar dan hanya menemukan mayat-mayat uluwero yang bergelimpangan. Dari seluruh tubuhnya, Ānaru mengeluarkan energi yang sangat besar hingga membentuk pusaran angin yang mengelilinginya. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar karena pusaran energinya tersebut. Mata merahnya yang nyalang kembali mencari-cari sesuatu yang dapat ia hancurkan.
Detik berikutnya, Ānaru menemukan sang tâkuta dan umanya yang tengah menangis terisak-isak. Ānaru segera melesat ke arah mereka dan nyaris mencengkeram leher sang tâkuta. Tapi tâkuta tua itu ternyata cukup gesit. Dengan gerakan yang tak terlihat, tâkuta itu menahan cengkeraman Ānaru dengan tongkat kayu tuanya.
“Ānaru… sadarlah! Jangan tenggelam dalam nafsumu. Kembalikan kesadaranmu!” seru sang tâkuta dengan suara parau.
Ānaru masih tampak beringas, namun kemudian indera penciumannya merasakan aroma dupa yang sangat kuat. Ānaru segera melompat mundur sambil menutup hidungnya.
“Sadarlah, Ānaru. Hirup aroma hio ini untuk menuntun kesadaranmu kembali,” ucap sang tâkuta sambil berjalan mendekat dan menyodorkan tongkat kayu tuanya ke arah Ānaru.
Semakin dekat sang tâkuta itu, semakin kuat aroma menyengat itu tercium. Kepala Ānaru menjadi pusing dan limbung, Perutnya mual seolah tubuhnya menolak aroma tersebut. Meski begitu, secara perlahan, kesadaran Ānaru mulai kembali. Amarahnya mereda dan kemudian ia mulai bisa mengendalikan tubuhnya. Meski begitu, luapan energi yang membentuk pusaran angin di sekeliling tubuhnya masih sangat kuat.
“Tâkuta…” desah Ānaru lemah.
“Ānaru, kau sudah kembali?” tanya tâkuta itu sambil tergopoh-gopoh menyongsongnya.
“Be… belum sepenuhnya, tâkuta. Rasanya… seperti ada api di dalam tubuhku. Dia terus mendorongku… untuk menghancurkan sesuatu…” rintih Ānaru yang kini separuh berlutut, menahan amukan dalam dirinya.
“Kau harus mencari batu penyeimbangmu, nak. Carilah batu Zodiakmu, Carnelian. Batu itu akan menyeimbangkan kekuatanmu yang meluap-luap,” kata tâkuta itu.
“Bagaimana… caraku mencarinya…” rintih Ānaru sambil terus berusaha mempertahankan kesadarannya yang mulai ditelan oleh kekuatan amarah.
“Batu itu akan beresonansi dengan kekuatanmu. Anak perempuan berambut putih itu juga pasti sedang mencarimu karena batu Carneliannya kini sama membaranya dengan tubuhmu. Kalian akan saling memanggil. Ikuti instingmu, nak.”
__ADS_1
“Aku… tidak tahu…”
“PERGI! SEKARANG!” Tâkuta itu benar-benar berteriak menghardik Ānaru.
Tentu saja hal itu bukan tanpa alasan. Wajah Ānaru sudah berubah gelap, lengkap dengan seringai jahat yang mulai merekah. Kedua mata Ānaru yang semula hitam berkilau kini sudah menjadi sewarna darah. Bila Ānaru tetap di tempat itu, ia bisa membunuh sang tâkuta dan bahkan umanya sendiri. Ānaru harus lekas menjauh dari tempat itu secepat mungkin.
Ānaru yang mengerti keadaan itupun akhirnya menurut. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kuda manapun, Ānaru melesat. Kecepatannya bahkan dapat mengimbangi hembusan angin paling cepat di benua itu. Ānaru terus melesat melalui hutan mati yang gelap. Beberapa kali ia hampir menabrak batang-batang pohon kering.
Meski begitu, kecepatannya ternyata tidak terlalu mengganggu penglihatan Ānaru. Tubuhnya yang melesat kencang juga diimbangi kemampuan untuk melihat dalam gerak lambat, sehingga Ānaru mampu mengatur arah dengan baik.
Ānaru tidak tahu sudah sejauh mana ia pergi, tapi kini dirinya sudah sepenuhnya sendirian di tengah hutan mati yang gelap. Sepertinya sudah cukup ia berlari menjauh dari rumah sang tâkuta. Ānaru pun menghentikan lesatannya. Ingatan-ingatan pedihnya tiba-tiba menyeruak, terakumulasi menjadi satu dan membuat Ānaru semakin kesetanan.
Ingatan tentang Kaharap yang selalu menindasnya sejak kecil. Lalu ingatan tentang Ngaio yang mekhianatinya. Kenangan-kenangan buruk terus bertebaran di kepala Ānaru dan membuat pemuda itu kembali mengeluarkan suara raungan mengerikan. Ingatan terakhirnya adalah tentang kematian ayahnya yang terbakar di dalam rumah sang tâkuta. Setelah itu, kesadaran Ānaru kembali lenyap. Ia ditelan kegelapan hatinya sendiri dan menjadi makhluk pemangsa yang brutal.
“Hamal…” bisik suara itu sayup-sayup.
Ānaru mendapati dirinya berada dalam kegelapan total. Itu adalah kesadarannya yang sudah terdistorsi oleh kegelapan. Ānaru mencoba melangkah di dalam kegelapan itu, tapi tempat itu benar-benar kosong. Tidak ada sekat yang bisa dipegang. Pun kakinya ternyata tidak menjejak apapun. Hanya melayang dalam ketiadaan.
“Hamal…” suara itu kembali terdengar lirih.
Ānaru tidak punya pilihan lain selain mencoba mengikuti suara yang memanggilnya tersebut. Tapi suara itu terasa sangat jauh. Beberapa kali Ānaru mencoba berteriak dan memanggil, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia seperti berada di dalam ruang hampa yang tidak dapat dirambati bunyi apapun. Meski begitu ia dapat mendengar suara sayup-sayup yang memanggilnya.
Ānaru terus berjalan dalam kegelapan yang terasa seperti selamanya. Tidak ada kepastian tentang kapan ia akan sampai pada tujuannya. Meski begitu, Ānaru sama sekali tidak merasa lelah. Kegelapan itu justru terasa sangat damai dan tenang.
__ADS_1
Ada bagian dari dirinya yang merasa tidak ingin keluar dari tempat itu. Tapi Ānaru tahu, kalau ia tidak keluar dari sana, maka kesadarannya yang lain yang akan muncul. Kesadaran yang hanya bernafsu untuk menghancurkan apapun yang dilihatnya.
“Hamal… kotu kua mai[1],” tiba-tiba suara itu kembali berbisik.
Tapi kini bisikan itu terdengar sangat dekat, seperti berada persis di telinga Ānaru. Ānaru terhenyak. Suara tersebut begitu lembut dan menenangkan. Ānaru tidak bisa memastikan apakah perempuan atau laki-laki yang memanggilnya. Suaranya tidak bisa didefinisikan sebagai laki-laki atau perempuan, mungkin keduanya.
Sekonyong-konyong rasa hangat melingkupi Ānaru. Kegelapan di sekitarnya perlahan sirna, digantikan cahaya jingga yang terbit di hadapannya. Ānaru menutup matanya, menikmati momen ekstase yang intens itu. Tubuhnya begitu nyaman, ringan dan damai. Rasanya seperti ia sudah menemukan semua hal yang dia inginkan, semua kebutuhan jiwanya terpenuhi begitu saja.
Kehangatan itu terus meluas, dan meski Ānaru menutup mata, namun cahaya jingga tampak sangat berkilauan di depannya. Cahaya itu terus menjalar dan merasuki seluruh sel tubuh Ānaru. Ānaru seperti terlahir kembali.
“Ānaru!” seru sebuah suara memanggil namanya yang lain.
Ānaru membuka mata. Cahaya matahari menyilaukan tiba-tiba menerpa pandangannya. Ānaru menyipit, lantas mengerjap beberapa kali.
“Ānaru! Kau sudah sadar?” seru suara tadi, terdengar sangat cemas.
Ānaru pun menoleh, mendapati seorang perempuan berambut perak yang sangat ia kenal.
“Airyung…” desah Ānaru pelan.
“Ānaru… kau… Kristal Carnelian… astaga… aku menemukanmu, Pejuang Zodiak!” kata Airyung patah-patah.
Gadis itu jelas tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, karena detik berikutnya, air mata besar-besar meleleh di pipi Airyung. Terakhir kali Airyung menangis adalah saat usianya lima tahun. Saat itu ia harus meninggalkan keluarganya untuk menjalani pelatihan sebagai anggotaTêmir, kelompok pemburu elit di Giyatsa. Sejak saat itu, Airyung tidak pernah menangis lagi. Hingga hari ini, saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kristal Carnelian yang membara itu menyatu dengan Ānaru, pemuda gembala biasa yang kerap dia remehkan. Ia sudah menemukan orang dalam ramalan.
__ADS_1
[1] Hamal, kau sudah datang.