Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Kenyataan


__ADS_3

Ānaru tidak bisa mempercayai apa yang barusan didengarnya. Kata-kata tâkuta yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Pejuang Zodiak sama sekali tidak relevan dengan hidupnya selama ini. Ānaru hanya gembala biasa yang tidak punya kekuatan sebelum ia bertemu dengan Airyung. Dan bahkan sekarang setelah ia belajar bela diri dan mendapat kemampuan misterius, ia masih bisa dikalahkan oleh Kaharap.


Meski begitu sang tâkuta tampak yakin dengan kesimpulannya. Ia terus-terusan menatap Ānaru dengan pandangan takzim dan beberapa kali nyaris menunduk hormat padanya. Ānaru cepat-cepat menegakkan badan sang tâkuta dan menyuruhnya untuk memperlakukan Ānaru seperti biasa.


Selama beberapa waktu Ānaru terus memikirkan kemungkinan bahwa dia merupakan orang yang dicari oleh Airyung. Tapi kini Airyung sudah pergi entah kemana, dan Ānaru mau tak mau harus merasa bersalah karena pada saat ini dia tidak bisa langsung mencari Airyung untuk memberitahukan tentang hal itu. Selain karena Ānaru tidak punya pengetahuan tentang jati dirinya, juga karena ia harus menjaga matunya yang masih belum sadar.


Waktu berlalu dengan cepat. Ānaru semakin giat berlatih setelah sang tâkuta mengartikan mimpinya. Tapi walau begitu, kemampuannya berteleportasi tidak muncul lagi. Sepertinya kemampuan itu hanya bisa muncul saat Ānaru merasa terdesak. Sang tâkuta terus menyuruh Ānaru berlatih sendiri di hutan, namun tetap tidak menghasilkan apa pun.


Suatu malam, saat Ānaru sudah hendak tidur, tiba-tiba sebuah keributan terdengar dari luar rumah. Ānaru mendengar derap langkah banyak orang yang berteriak-teriak marah sambil memaki.Tergugah oleh rasa pensaran, pemuda itu pun keluar rumah disusul oleh sang tâkuta dan umanya.


Ternyata di luar rumah, sudah ada gerombolan uluwero yang datang. Sekitar delapan orang banyaknya. Mereka masing-masing membawa obor dan Mandau besar. Bagaimana bisa orang sebanyak ini menembus hutan mati yang dipenuhi oleh kinokambe? Tapi Ānaru mendapat jawaban segera. Para uluwero ini berpakaian compang camping dan penuh luka. Tentunya mereka pasti sudah berpapasan dengan kinokambe dan banyak rekannya yang sudah tewas. Mereka adalah sisa-sisa uluwero yang selamat.


“Ketemu, kau Ānaru! Sekarang kau tidak bisa lari lagi!” seru sebuah suara yang memimpin rombongan itu.


Ānaru menfokuskan pandangannya di tengah kegelapan yang hanya diterangi obor. Ia melihat Kaharap yang menyeringai puas menatapnya. Ānaru menyumpah dengan murka. Begitu inginnyakah Kaharap menangkapnya hingga harus mengorbankan banyak uluwero yang mati karena mencarinya di tengah hutan mati? Ānaru benar-benar muak sekarang.

__ADS_1


“Apa maumu, Kaharap?” sergah Ānaru kemudian.


“Menangkap buronan sepertimu. Kalau aku tidak berhasil menangkapmu, aku akan membunuhmu disini, Ānaru,” ujar Kaharap dengan bengis. “Serang mereka!” lanjutnya memberi perintah.


Tujuh orang uluwero itu segera menyerbu Ānaru. Dengan gesit Ānaru menghindari serangan mereka yang bertubi-tubi. Beberapa kali Ānaru berhasil menyerang balik dan mengenai uluwero-uluwero itu. Tapi musuhnya terlalu banyak. Ānaru akhirnya berhasil dibekuk. Dua orang uluwero mengapitnya di kanan kiri dan membuatnya tak bisa bergerak lagi. Uluwero yang lain juga terlihat sudah menangkap umanya dan sang tâkuta.


“Aku tidak melihat gadis rambut putih itu. Apakah dia juga akhirnya meninggalkanmu? Orang sepertimu memang tidak pantas berada di sekitar orang yang kuat. Tempatmu adalah dasar rantai makanan, Ānaru. Berhentilah bersikap sombong!” seru Kaharap diiringi tawa jahatnya yang biasa.


Ānaru meludahkan darah yang memenuhi mulutnya sambil menyumpah. Kenapa ia begitu lemah?Tâkuta itu bilang kalau dirinya adalah seorang Pejuang Zodiak! Lantas dimana kekuatan tersembunyinya? Bagaimana cara membangkitkannya?


“Bakar rumah itu!” perintah Kaharap kemudian.


“Bajingan kau Kaharap! Apa maumu! Kalau kau menginginkanku, tangkap aku! Jangan usik keluargaku!” teriak Ānaru dengan murka.


Tapi Kaharap tak menggubrisnya. Pemuda itu justru tertawa puas melihat Ānaru begitu marah dan putus asa. Ānaru terus berteriak sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri. Pikirannya terus terfokus untuk menghancurkan Kaharap. Medan kebencian yang sangat besar menguasai Ānaru dan membuat Ānaru mulai kehilangan kewarasannya. Ia hanya terus berteriak murka hingga rasanya tenggorokannya seperti terbakar karena amarah.

__ADS_1


Sekonyong-konyong muncul rasa panas yang sangat membakar dari dalam perut Ānaru. Rasa panas itu terus menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ia merasa seperti sedang dipanggang di dalam kobaran api yang menyala-nyala. Ānaru meraung keras sekali. Tenaganya seperti meluap-luap. Ia lantas kembali berusaha berontak dan mengibaskan kedua tangannya yang tengah dipiting oleh dua orang uluwero.


Tindakan tersebut kini ternyata menimbulkan efek yang besar. Dua orang uluwero itu terpelanting jauh hingga tak terlihat. Ānaru lantas bangkit berdiri. Kedua matanya sudah berubah menjadi sangat merah. Kesadarannya sudah lenyap sepenuhnya. Kini Ānaru semata-mata hanya dikendalikan oleh amarah.


Dengan gerakan yang sangat cepat Ānaru melesat menuju ke arah uluwero yang hendak menyerangnya. Ānaru menghindar dengan sangat cepat hingga gerakannya sama sekali tidak terlihat. Pada mulanya ia berada di hadapan para uluwero. Detik berikutnya ia sudah mencengkeram kepala salah satu uluwero berambut ikal, dan dengan mudahnya Ānaru menghancurkan kepala uluwero itu seperti meremas buah beri yang lembek.


Kaharap sangat terkejut dengan perubahan kekuatan Ānaru yang tiba-tiba. Ānaru melesat kesana kemari dalam hitungan detik. Para uluwero anak buahnya dihancurkan dengan cepat. Ānaru bahkan mampu mencabut jantung salah satu uluweronya semudah memetik daun kering.


Kaharap kehilangan kata-kata, ketakutan. Pemuda itu menatap ngeri jasad para uluwero yang sudah dihancurkan oleh Ānaru hingga tak berwujud. Dengan cepat Ānaru kini sudah berada di hadapannya, menatap Kaharap dengan kedua mata merah yang mengerikan. Orang itu benar-benar tidak seperti Ānaru yang dikenal Kaharap. Ānaru sudah berubah menjadi orang lain!


Kaharap terjerembab jatuh karena ketakutan. Tapi Ānaru terus berjalan mendekatinya. Selangkah, dua langkah. Ānaru seperti sengaja berlama-lama menyerang Kaharap semata-mata untuk menikmati ekspresi ketakutan di wajah musuhnya itu.


“A… Ānaru… berhenti! Kalau kau… membunuhku… kau benar-benar akan menyesal! Kau akan diburu oleh semua anggota keluargaku! Kau akan menjadi musuh Khitai!” seru Kaharap sambil menggigil ketakutan.


Ānaru menyeringai bengis, seolah tak peduli. Detik berikutnya, Ānaru sudah berada persis di depan muka Kaharap dengan tangan mencengkeram lehernya. Kaharap yang tercekik langsung panik dan mencoba melepaskan diri. Tapi cengkeraman Ānaru begitu kuatnya sampai pemuda itu tak bisa bersuara. Ānaru yang sudah ditelan oleh kemarahan itu pun segera meremas leher Kaharap kuat-kuat hingga putus. Kepala Kaharap lepas dari tubuhnya, menggelinding di tanah kering yang sudah dipenuhi genangan darah.

__ADS_1


Sisa tubuhnya yang lain pun terkulai. Darah segar menyembur dari sisa leher Kaharap hingga mengenai wajah dan tubuh Ānaru. Malam itu, Ānaru bukan lagi seorang manusia. Ia tak ubahnya hewan buas yang tengah murka.


...***...


__ADS_2