Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Diabos


__ADS_3

Chiara membanting roti keringnya ke atas piring. Saking kerasnya roti itu, piring porselen yang sudah usang itu sampai retak, nyaris pecah. Tindakan Chiara itu segera memicu perhatian semua orang di meja makan. Kedua adiknya yang sedari tadi mengoceh ribut langsung terdiam menatap kakak pertama mereka. Ibunya yang tengah sibuk memoles sendok di sudut ruangan dengan celemek kotor pun menghentikann aktivitasnya. Sementara itu sang ayah yang duduk di ujung meja melotot menatap Chiara dengan ekspresi marah luar biasa.


“Apa-apaan sikapmu itu,” geram sang ayah dengan suara rendah penuh ancaman.


“Aku sudah selesai makan,” ujar Chiara sembari bangkit dari tempat duduknya.


“Duduk di tempatmu Kara Leonard!” bentak ayahnya keras.


Chiara terdiam selama beberapa saat. Gadis itu lantas berbalik dan menatap ayahnya dengan tajam. “Ayah seharusnya malu pada Tuan Gillian. Bagkan setelah bantuan keluarga mereka selama ini, ayah justru semakin serakah dan ingin memanfaatkanku untuk menikah dengan Rein? Aku bahkan terlalu malu untuk membiarkan diriku menyimpan perasaan padanya,” ujar Chiara sinis.


Tanpa mempedulikan ekspresi marah ayahnya, Chiara pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan. Ayahnya meledak marah tak lama kemudian. Ibunya mencoba meredam kemarahan suaminya sementara kedua adik kecil Chiara kini menangis hebat.


“Benar-benar keluarga yang luar biasa,” desah Chiara setelah berhasil masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Gadis itu lantas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari berpikir. Sudah lama ia tahu kalau orang tuanya, terutama ayahnya, selalu berharap ia bisa menjadi menantu keluarga Gillian. Rein adalah putra satu-satunya dan merupakan pewaris tunggal seluruh kekayaan ayahnya. Sejak istrinya meninggal, Lord Gillian tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Beliau adalah maniak kerja yang hanya memiliki satu tujuan hidup: memperkaya diri. Lord Gilian bahkan jarang memperhatikan Rein. Sejak kecil Rein sering dititipkan di keluarga Chiara dank arena itulah mereka berdua menjadi akrab.


Meski begitu, Chiara tidak pernah berpikir bahwa hubungannya dengan Rein bisa berkembang menjadi lebih dari sekedar teman. Sejujurnya, Chiara tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal membosankan seperti romansa atau cinta. Di usianya yang sudah nyaris melewati usia menikah, Chiara tidak pernah menjalin hubungan semacam itu dengan siapa pun. Orang tuanya semata-mata membiarkan Chiara tetap melajang karena ia dekat dengan Rein dan berharap tuan muda itu akan segera melamar Chiara.


Tentu saja harapan itu sia-sia. Rein agaknya juga tidak melihat Chiara sebagai seorang wanita. Hubungan mereka lebih seperti saudara. Meski begitu Rein juga tidak pernah dekat dengan siapa pun sepanjang hidupnya. Baik Chiara dan Rein sudah terlalu terbiasa satu sama lain sampai mereka tidak punya teman lain yang cukup dekat.


Akan tetapi, mendadak Chiara ingat bagaimana Lea, si wanita rubah itu, berusaha mendekati Rein pagi tadi. Entah kenapa hal itu mengganggunya. Ini kali pertama Chiara melihat Rein mengobrol akrab dengan perempuan lain. Dan hal itu membuat Chiara marah dengan alasan yang tidak jelas.


“Aku kesal karena wanita itu adalah rubah licik yang berniat untuk memanfaatkan Rein. Itu yang membuatku marah!,” gumamnya meyakinkan diri.


Mimpi buruk itu membangunkan Chiara di tengah malam. Gadis itu melirik ke luar jendela kamarnya yang tidak bertirai. Masih gelap. Chiara berusaha untuk tidur lagi, tapi hatinya begitu gelisah tanpa sebab. Mungkin karena mimpi menyebalkan tadi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah dan mengambil air minum.


Chiara menuruni tangga pelan-pelan sekali agar tidak menimbulkan suara. Saat melewati kamar ibunya, samar-samar Chiara mendengar suara isak tangis patah-patah yang tertahan. Gadis itu menarik napas panjang dan melanjutkan langkahnya. Ibunya menangis lagi. Itu artinya sang ayah sudah pergi dari rumah malam ini dan tidur di luar, entah dengan perempuan mana lagi. Chiara begitu kagum dengan gen ayahnya yang sangat kuat memengaruhi dirinya dan Kale, adiknya. Chiara gemar berjudi, sementara Kale gemar bermain wanita. Bagaimana bisa seorang manusia hanya memiliki sifat buruk saja dan tidak ada kebaikannya.

__ADS_1


“Ah, aku lupa kalau ayah juga punya mata yang jeli dalam melihat barang antik. Dia kan seorang kurator,” pikir Chiara sembari menuang segelas air di gelas porselen yang sudah buram karena usia.


Suasana rumah itu begitu gelap. Lentera sudah dimatikan demi menghemat bahan bakar. Beberapa jendela rumah usang keluarganya juga dibiarkan tanpa tirai semata-mata karena harga kain terlalu mahal untuk dibeli. Jendela kamar Chiara bahkan sudah rusak engselnya dan sering terbuka sendiri kalau angin sedang kencang. Bukan sekali dua kali Chiara harus bangun dan menderita flu karena terpapar angin dingin semalaman.


Setelah selesai minum, Chiara pun kembali ke kamarnya, memutuskan untuk berusaha tidur lagi. Namun, ketika langkahnya baru sampai di ujung tangga lantai dua, tiba-tiba gadis itu mendengar suara berkelotak dari dalam kamarnya. Dengan curiga, gadis itu pun mengendap-endap dan mengintip dari balik pintu. Sayangnya karena suasana yang sangat gelap, Chiara tidak bisa melihat apa-apa. Hanya hawa dingin yang menusuk kulit terasa dari dalam kamarnya.


Jendelaku pasti terbuka lagi. Apa ada kucing liar yang masuk? Atau tikus? Pikir Chiar sambil masih mengamati dalam kamarnya yang gelap total.


Akan tetapi, karena tidak ada tanda-tanda gerakan yang aneh, Chiara pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya lebih lebar dan masuk ke dalam. Keputusan itu pun kemudian sangat disesali oleh Chiara, karena detik berikutnya, tepat di tengah kamarnya, sepasang mata merah yang nyalang melayang di udara. Kedua mata itu menatapnya dengan buas diikuti geraman rendah yang sangat mengintimidasi.


“Diabos,” gumam Chiara lemas.


Gadis itu sontak kehilangan seluruh tenaga di tubuhnya karena rasa terkejut yang luar biasa. Kedua kakinya berubah lemas dan ia pun terjatuh ke lantai tanpa bisa berkata apa-apa. Seluruh tubuh Chiara gemetar ketakutan, tetapi otaknya sama sekali tidak bisa berpikir. Hanya satu hal yang dia yakini saat itu: dia mungkin akan mati sebentar lagi.

__ADS_1


Sang roh jahat yang mengerikan itu menguarkan bau busuk luar biasa. Saat melihat Chiara ambruk ke lantai dengan lemas, diabos itu lantas menggeram lagi dan bersiap untuk menerkam. Chiara sudah pasrah pada nasibnya. Gadis itu hanya bisa tercekam ketia sang diabos melompat hendak menerjangnya. 


__ADS_2