
Ānaru mengangguk pelan, lantas mengangkat bajunya sedikit, menampakkan otot perutnya yang terlihat kuat dan kencang. Di sana juga tertoreh simbol chakra manipūranya yang muncul baru-baru ini. Sang Putri yang melihat simbol itu lantas berlutut penuh hormat padanya, diikuti para uluwero yang ada di ruangan tersebut. Mereka berlutut hingga bersujud di hadapan Ānaru. Buru-buru Ānaru mengangkat bahu Putri Aroha, mencegahnya bersujud lebih lama.
“Mohon berdirilah, Putri. Aku masih tetap gembala biasa. Kau adalah kepala suku ini, seharusnya aku yang memberi hormat,” kata Ānaru sambil membantu sang putri untuk bangkit berdiri.
“Maafkan kami, karena telah melakukan tindakan kasar di masa lalu. Setelah melihat lambang zodiak itu, aku percaya bahwa kau yang akan membawa kedamaian di suku ini,” ucap Putri Aroha masih terdengar penuh hormat.
“Sebelumnya aku ingin mengakui perbuatanku. Beberapa hari yang lalu aku bertempur dengan beberapa uluwero yang mencoba menangkapku. Mereka… telah tewas di tanganku. Salah satunya adalah Kaharap,” kata Ānaru sambil tertunduk.
“Keluarga Kaharap memang pantas mendapatkan hukuman. Mereka membawa sepasukan uluwero ke hutan mati dan menyebabkan banyak anggotanya tewas karena ulah kinokambe tanpa seizinku. Beberapa uluwero yang selamat kembali padaku dan memberitahukan tentang hal itu. Mereka berusaha menangkapmu dengan mempertaruhkan banyak nyawa. Aku tidak akan menghukummu atas kejadian tersebut karena kau tentu saja melakukannya untuk membela diri. Selain itu kau juga adalah Pejuang Zodiak Aries, kebanggaan suku Khitai.
“Justru yang akan aku hukum adalah keluarga Kaharap. Mereka ternyata menobatkan Tetua palsu dan membuang Tetua Suku yang asli dalam pengasingan di hutan mati. Kau tidak perlu merisaukan tentang keluarga mereka karena aku sudah memenjarakan mereka semua,” jelas Putri Aroha.
Ānaru menghela napas lega. Ternyata urusan di sini juga sudah selesai dengan baik. Ia cukup yakin bahwa Ngaio pasti punya andil dalam penyingkapan fakta tentang keluarga Kaharap. Putri Aroha tidak akan mudah percaya bila tidak ada informan yang cukup kompeten seperti Ngaio.
Sepertinya semua urusan di suku Khitai sudah diselesaikan dengan baik. Sudah saatnya bagi Ānaru untuk pergi ke dataran utama. Selain untuk menemukan Pejuang Zodiak yang lain, ia juga harus pergi ke Kerajaan untuk memperkenalkan dirinya sebagai Pejuang Zodiak Aries. Nantinya kerajaan akan memberinya berkat untuk dinobatkan sebagai Pejuang Zodiak Pertama di Luteria.
Akhirnya, setelah mendapat restu dari Putri Aroha, Ānaru pun kembali menemui Airyung. Ia tidak ingin berlama-lama di desa itu. Meski begitu, Ngaio tampaknya memiliki banyak hal yang ingin dia sampaikan pada Ānaru sebelum pemuda itu benar-benar pergi.
__ADS_1
“Ānaru, kau sudah selesai?” sapa Airyung begitu mlihat Ānaru datang ke rumah Ngaio.
“Sudah. Kita berangkat hari ini juga Airyung. Bawa aku ke Kerajaan,” ucap Ānaru.
Airyung mengangguk paham, lantas melepaskan bebat Tsagan dari tambatannya.
“Bisakah kita bicara sebentar, Ānaru?” tanya Ngaio mencoba menyela.
Airyung yang melihat hal itu pun cukup tanggap. “Aku akan menunggumu di depan gerbang desa,” ucap Airyung mencoba member waktu untuk mereka berdua.
Ānaru mengangguk setuju.
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, Ngaio. Aku tahu kau pasti punya banyak pertimbangan saat itu. Dan aku tahu bahwa Kaharap juga menekanmu. Kau tidak punya pilihan. Justru aku berterimakasih padamu, karena kau sudah banyak membantuku akhir-akhir ini, termasuk dengan menyampaikan kejujuran mengenai keluarga Kaharap pada Putri Aroha,” ucap Ānaru tulus.
Ngaio tak dapat lagi menahan air matanya. Ia pun mulai terisak patah-patah.
“Apakah kau benar-benar harus pergi sekarang? Tidak bisakah kita kembali bersama seperti sebelumnya?” tanya Ngaio di tengah isakannya.
Ānaru menatap Ngaio dengan sedih. Ia dulu pernah mencintai Ngaio dengan segenap hatinya. Dan beragam peristiwa yang sudah mereka lewati memang tidaklah mudah. Meski begitu, perasaan cintanya kini telah berubah menjadi rasa kasih yang lebih universal. Ia mengasihi Ngaio selayaknya keluarganya sendiri. Karena itu, mungkin Ānaru tidak bisa membalas perasaan Ngaio yang masih menginginkannya sebagai kekasih. Tapi Ānaru tetap merasa sedih karena hal itu.
__ADS_1
“Ngaio, kau gadis yang baik. Suatu saat kau pasti menemukan pasangan hidup yang bisa mencintaimu dan membahagiakanmu. Aku memang harus meninggalkanmu saat ini, Ngaio. Tapi persahabatan kita, dan kenangan kita aku selalu kubawa kemanapun aku pergi,” ucap Ānaru sembari mengusap air mata Ngaio.
Gadis itu lantas memeluk Ānaru. Pelukan perpisahan. Entah apakah mereka masih bisa bertemu lagi atau tidak. Namun Ngaio tetap ingin mengenang Ānaru sebagai pemuda baik hati yang pernah mengisi hatinya.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Airyung setelah melihat Ānaru keluar dari gerbang desa.
Ānaru mengangguk pelan. “Aku siap. Ayo berangkat,” ucap Ānaru.
Airyung tersenyum tipis. Setelah perjalanannya selama berbulan-bulan, melewati berbagai rintangan hingga mengarungi samudra Kanawallan, kini ia sudah bertemu dengan orang yang dicarinya. Airyung tidak pernah merasa sebersyukur ini sebelumnya. Rasanya seluruh tujuan hidupnya sudah tercapai. Dan ia benar-benar bahagia karena orang yang dia cari selama ini adalah Ānaru, sosok pemuda pemberani yang memiliki hati yang lembut.
Kini perjalanannya kembali ke benua utama tidak lagi penuh ketidakpastian. Ia sudah menuntaskan misinya. Kini ia tinggal melindungi sang Pejuang Zodiak untuk menuntaskan tugasnya. Dengan penuh rasa puas, Airyung pun membawa Ānaru bertualang ke dunia luas.
...***...
...~END OF SEASON 1~...
__ADS_1