
Tepat sebelum diabos itu mencapai tubuh Chiara, tiba-tiba sebuah anak panah perak menerjang ke arah roh jahat itu hingga menembus ke kepalanya. Chiara begitu terperanjat hingga tidak bisa berkata apa-apa. Tubuh diabos itu terlempar jatuh ke lantai sebelah Chiara lantas membuyar dan hilang begitu saja bagaikan serpihan debu.
Chiara yang masih shock tidak bisa berkata-kata dan hanya terduduk kaku tak bergerak. Tak lama kemudian, terdengar suara jendelanya yang menjeblak terbuka. Sontak Chiara menoleh ke arah jendela kamarnya tersebut dan semakin kaget karena mendapati seorang pemuda berambut perak berjongkok di bingkai jendela.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu dengan rambut peraknya yang pendek berkibar-kibar terkena angin malam.
“Si, siapa kau?” gumam Chiara tergagap.
“Maaf mengejutkanmu. Aku … eh, pemburu chögörü,” jawab pemuda berjubah bulu putih itu.
“Chögörü?” tanya Chiara tak mengerti.
Pemuda itu mengangguk pelan sambil menunjuk tempat bekas mayat diabos tadi menghilang. “Roh jahat itu,” ujarnya pendek.
“Maksudmu diabos?”
“Ya. Begitulah kalian menyebutnya.” Sang pemuda menjawab sembari melangkah masuk ke dalam kamar Chiara lantas menyalakan lentera. “Kau pasti terkejut. Kau bisa berdiri?” lanjut pemuda itu sembari berjalan ke arah Chiara dengan membawa lentera.
“Ja, jangan mendekat! Aku baik-baik saja,” bentak Chiara masih gemetar ketakutan. Gadis itu mencoba bangun, tetapi kedua lututnya masih lemas sehingga tidak bisa menopang seluruh tubuh. Ia kembali tersungkur di lantai kayu yang dingin.
“Aku bisa membantumu,” ujar pemuda itu hendak mengulurkan tangan.
“Biarkan aku di sini saja. Jangan mendekat lebih dari selangkah. Kau sangat tidak sopan karena masuk ke kamar seorang gadis tanpa permisi,” protes Chiara marah.
__ADS_1
Pemuda itu langsung salah tingkah karena menyadari sikapnya yang terlalu ceroboh. “Maafkan aku. Aku tidak berpikir panjang karena melihat seekor chögörü masuk ke rumah seseorang begitu saja,” ujar pemuda itu tampak merasa bersalah.
“Roh jahat itu sudah mati sekarang. Kau bisa pergi dengan tenang,” desak Chiara yang ingin segera ditinggalkan sendirian. Keberadaan pemuda mencurigakan itu tetap masih menjadi ancaman untuknya.
“Ten, tentu saja. Sebaiknya aku tidak membuang waktumu terlalu lama. Sekali lagi maafkan aku. Oh, dan jendela ini sebaiknya diperbaiki. Chögörü suka sekali dengan aroma manusia. Kau bisa mudah tertangkap kalau lengah sedikit saja,” nasehat pemuda itu kemudian.
Chiara menatap tajam pemuda yang berpenampilan aneh itu. Tidak ada orang di sukunya yang memiliki rambut perak berkilau seperti itu. Pakaiannya juga penuh bulu hewan, seakan ia berasal dari tempat yang sangat dingin. Meskipun mencurigakan, tapi pemuda ini juga sudah menolong Chiara dari serangan diabos. Mungkin sikapnya terlalu kasar mengingat pemuda itu sudah melindungi nyawanya.
“Siapa kau? Apa kau tidak berasal dari sini?” tanya Chiara yang akhirnya berhasil menguasa diri. Gadis itu bangkit dengan perlahan setelah merasa kakinya cukup kuat untuk berdiri.
“Aku dari suku Giyatsa. Namaku Altan,” jawab pemuda itu memperkenalkan diri.
“Giyatsa? Itu jauh sekali di utara. Apa kau berburu roh jahat sampai ke suku kami?” Tidak banyak orang yang bisa mengalahkan roh jahat. Chiara memang mendengar kalau Giyatsa adalah suku yang kuat. Tidak disangka ia kini bertemu dengan salah satu dari mereka.
“Bukan seperti itu persisnya. Aku sedang dalam misi untuk mencari seseorang di suku Valas,” ujar Altan terus terang.
“Ah, tidak apa-apa. Hal itu memang wajah dilakukan mengingat tindakanku yang sangat mencurigakan. Sebaiknya aku pergi sekarang. Kau pasti tidak nyaman. Selamat beristirahat,” ujar Altan kemudian.
“Kau akan berada di luar tengah malam begini? Dengan banya diabos yang berkeliaran?” tanya Chiara tak percaya.
“Aku bisa mengatasinya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” sahut Altan yang sudah kembali berjongkok di bingkai jendela, bersiap untuk melompat keluar. “Dan jangan lupa untuk memperbaiki jendalmu, Nona,” lanjutnya sembari tersenyum simpul.
Pemuda itu sudah melompat pergi sebelum Chiara sempat menjawab. Gadis itu kembali terbengong-bengong karena kejadian absurd yang dialaminya malam itu.
__ADS_1
Esok paginya, Chiara bangkit dari tempat tidur dengan mata menggantung. Ia tidak bisa tidur semalaman. Setiap hendak menutup mata, ia kembali diserang ketakutan akan datangnya diabos yang mungkin bisa memangsanya dalam tidur. Ia harus memperbaiki jendela kamarnya hari itu juga. Karena rencana tersebutlah maka pagi ini Chiara memutuskan untuk tidak pergi ke kasino. Ibunya memanfaatkan hal itu dengan menyuruh-nyuruh Chiara untuk melakukan lebih banyak pekerjaan rumah sambil mengomel tentang sikap Chiara saat makan malam kemarin.
Chiara tidak terlalu menggubris kata-kata ibunya. Ia juga tidak mengungkit tentang tangisan sang ibu yang tanpa sengaja ia dengar tadi malam. Ada peristiwa yang lebih traumatis yang dialami Chiara semalam. Daripada harus ketakutan lagi, Chiara memutuskan untuk menemui Rein hari itu dan meminta bantuannya memperbaiki jendela. Tidak ada satu orang pun di rumahnya yang bisa dia harapkan untuk membantunya melakukan kegiatan pertukangan.
Akhirnya, setelah hampir tengah hari, Chiara meminta izin ke ibunya untuk mengunjungi Rein di toko barang antik. Karena semua pekerjaan rumah sudah selesai, ibunya pun mengizinkan Chiara pergi meski diiringi dengan beberapa omelan.
“Padahal kau bilang tidak ingin menikah dengan tuan muda itu. Tapi setiap hari kau menemuinya seperti ini. Apa kau ini semacam wanita penghibur baginya?” komentar ibunya begitu pedas.
Pada titik itulah Chiara tidak bisa menahan diri lagi. “Setidaknya hidupku tidak menyedihkan seperti ibu yang harus mengurus anak perempuan lain yang tidur dengan ayah,” bantahnya kejam.
Chiara tahu kalau kata-katanya ini pasti akan melukai hati ibunya. Akan tetapi ia tidak peduli karena hatinya sendiri juga terluka oleh kata-kata sang ibu. Gadis itu lantas pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi.
Sesampainya di toko barang antik, Chiara mengernyit kebingungan. Toko itu tutup. Beruntung Chiara membawa kunci pintu belakang. Maka gadis itu pun membuka pintu belakang toko dan masuk melalui gudang. Tidak ada siapa pun di dalam sana. Bahkan di ruang rahasia sekalipun, Rein juga tidak terlihat.
“Di mana anak itu? Apa dia sakit?” gumam Chiara pada dirinya sendiri.
Gadis itu berniat untuk mendatangi rumah utama keluarga Gillian ketika kemudian ia menyadari ada sepucuk surat dengan amplop ungu muda tergeletak di atas toilet tempat dia biasa berdandan. Chiara mendekati surat itu lantas menemukan namanya tertulis di atas amplop tersebut. Ini tulisan tangan Rein
Untuk Kara.
__ADS_1
Aku sudah menunggumu sejak dini hari tadi tapi kau tidak kunjung datang. Kupikir kau mungkin tertahan oleh ibumu dan harus mengerjakan pekerjaan rumah lebih dulu. Karena itu aku meninggalkan surat ini kalau-kalau kau datang dan mencariku. Aku pergi ke Venetian lebih dulu. Kita bertemu di sana saja, ya.
Sahabatmu, Rein.