
Seperti biasa, Chiara segera mengumpulkan banyak chip dalam waktu singkat. Baccarat tidak memuaskannya. Setelah bermain beberapa saat dan menimbun pundi-pundi uang, gadis itu beralih ke permainan-permainan lain yang diminatinya. Orang-orang di tempat itu tampak terganggu setiap kali Chiara menyambangi mejanya. Namun mereka cukup tertarik ketika melihat Rein datang bersama gadis itu. Hal itu seolah menguatkan anggapan bahwa Chiara memang adalah pemain dengan sokongan dana yang besar dari keluarga Gillian yang kaya raya. Tidak heran gadis itu punya kemampuan luar biasa dalam berjudi.
Tiga jam berlalu dan Chiara sama sekali tidak terkalahkan. Di setiap meja yang dia datangi, kemenangan selalu berpihak padanya, seolah gadis itu punya kemampuan memprediksi masa depan dan menebak dengan tepat seluruh kartu milik lawannya, bahkan sang bankir atau Bandar. Sementara itu, Rein justru gagal untuk membiasakan dirinya di sana. Setelah bosan melihat Chiara yang terus bermain kesana kemari, pemuda itu pun memutuskan untuk menunggu di sebuah sofa mewah di sudut ruangan. Tempat itu biasanya digunakan untuk beristirahat para pemain besar yang tengah lelah memutar otak.
Segelas anggur dengan kualitas terbaik menemani Rein yang mulai mengantuk dan mempertanyakan keberadaannya di tempat itu. Ia tidak habis pikir kenapa Chiara bisa begitu betah berada di kasino seharian. Terlepas dari kemampuannya mengumpulkan uang dengan cepat di sini, tetap saja Rein tidak paham. Daripada menipu pria-pria muda di kasino, gadis itu bisa bekerja di toko barang antik bersamanya.
Chiara memang punya mata yang sangat bagus dalam membedakan barang palsu atau tidak. Bahkan cacat kecil yang sehalus helaian rambut bisa terlihat di mata gadis itu. Mungkin kemampuan itu juga yang justru dia manfaatkan untuk bermain judi. Ia bisa melihat dengan tajam dan cepat kartu lawan mainnya dan memanfaatkan keadaan agar menguntungkan baginya. Benar-benar gadis yang berbahaya. Rein sebaiknya menghindari segala jenis pertaruhan dengan Chiara kalau tidak mau jatuh miskin.
“Apa Anda datang sendirian?” Mendadak sebuah suara perempuan dengan nada menggoda menyapa Rein. Pemuda itu mendapati seorang gadis bermata biru dengan gaun mewah datang menghampirinya dengan segelas anggur.
“Ah, saya bersama seorang teman,” jawab Rein otomatis.
“Kelihatannya teman Anda masih sibuk. Saya bisa menemani Anda berbincang-bincang. Kelihatannya Anda bosan,” kata perempuan itu lagi sembari duduk di sebelah Rein tanpa permisi.
Awalnya Rein merasa tidak nyaman. Namun ketika ia melirik Chiara yang juga sedang bersenang-senang sambil dikelilingi banyak pria, sepertinya tidak masalah baginya kalau ia juga ditemani seorang wanita cantik.
“Terima kasih sudah bersedia menemani. Saya … ,” kata Rein yang dipotong oleh uluran jari telunjuk wanita itu saat hendak memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Semua orang tahu siapa Anda, Tuan Reinhart Gillian. Saya Lea,” ucap wanita itu dengan senyuman menggoda.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona Lea,” kata Rein sembari tersenyum canggung.
Tidak setiap hari Rein digoda oleh seorang wanita. Ini justru pertama kalinya ada seorang Lady yang terang-terangan menggodanya. Karena itu Rein tidak tahu cara menanggapinya dengan baik dan benar. Sekilas ia melirik ke arah Chiara. Akan tetapi temannya itu masih menebar senyuman di meja poker bersama empat pria lainnya yang terus menatapnya dengan penuh nafsu. Karena kesal, Rein memilih untuk kembali fokus pada wanita di hadapannya.
“Bisakah kita berbincang dengan lebih santai? Anda bisa memanggil saya Lea,” ucap wanita itu sembari melipat kakinya dan mempertontonkan belahan gaunnya yang setinggi paha.
Rein berusaha keras untuk tidak melirik ke arah kulit paha Lea yang terlihat halus dan kenyal itu. “Tentu saja Lea. Kalau begitu panggil aku Rein juga,” ujar Rein kemudian.
Lea tersenyum penuh makna dan setelah itu pembicaraan mereka pun mengalir begitu saja. Entah bagaimana Lea berhasil membuat suasana semakin cair. Wanita itu jelas berpengalaman dalam menjerat pria. Dan Rein sementara itu, hanyalah pemuda polos yang tidak pernah menjamah dunia semacam itu sebelumnya. Rein berbeda dengan ayahnya yang menjalankan bisnis gelap. Ia hanya pemuda biasa yang kebetulan tumbuh dengan bergelimang harta.
“Sebaiknya aku berhenti sampai di sini saja hari ini. Ada urusan yang harus kuselesaikan,” ujar Chiara yang kali itu gagal mengontrol ekspresi wajahnya.
“Sepertinya majikanmu tengah menjadi mangsa si wanita rubah, Chiara. Kau benar-benar membawa Jackpot untuk Lea,” komentar seorang pria yang sedari tadi duduk di sebelah Chiara.
“Terima kasih atas perhatianmu, Ben. Aku bisa mengurus wanita rubah itu sendiri,” geram Chiara kesal.
__ADS_1
Tawa Benedict meledak keras, diikuti orang-orang lain di meja itu. Chiara sang ratu es yang biasanya selalu berwajah datar kini menunjukkan ekspresinya.
“Sepertinya aku menemukan kelemahanmu, Chiara. Selamat bersenang-senang kalau begitu,” ujar Benedict dengan nada mengejek.
Chiara tidak menjawab lagi. Setelah selesai mengumpulkan chipnya, Chiara pun bangkit berdiri dengan marah dan segera menghampiri Rein yang kini tengah tertawa-tawa akrab dengan Lea. Entah siapa yang harus Chiara beri pelajaran lebih dulu, Rein atau Lea. Ia belum bisa memutuskan tapi melihat keintiman dua orang itu jelas menjengkelkan.
“Apa kau bersenang-senang, Rein?” ucap Chiara setelah berdiri cukup dekat dengan sofa tempat Rein dan Lea duduk dan saling bercanda dengan intim. Kedua tangan Chiara terlipat ke dada sambil memaksakan senyuman yang lebih menyerupai seringai.
“Chiara? Kau sudah selesai?” tanya Rein tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Anggap saja begitu. Ayo kita pulang sekarang,” geram Chiara dengan mata berkilat-kilat kesal. Ia menatap tajam pada Lea, tetapi wanita itu membalasnya dengan senyuman kepuasan yang sangat menyebalkan. Entah kenapa Chiara merasa Lea sudah mengalahkannya meski mereka sedang tidak berada di meja judi.
“Oh begitu? Baiklah kalau kau mau pulang sekarang. Biarkan aku berpamitan dengan Lea. Dia teman baruku,” kata Rein sembari menoleh kepada Lea yang kini sudah tersenyum hangat pada Rein.
“Teman?” gumam Chiara tak percaya.
“Sampai jumpa lagi kalau begitu, Lea. Aku harus kembali sekarang dengan eh … temanku, Chiara,” ujar Rein yang ragu-ragu apakah ia harus memperkenalkan mereka berdua atau tidak.
__ADS_1
“Ayo Rein!” desak Chiara marah.
“Baiklah. Selamat tinggal, Lea,” kata Rein lantas bangkit berdiri dan melambai singkat pada Lea. Wanita itu balas melambai dengan senyuman termanisnya. Chiara melirik Lea untuk terakhir kalinya, dan sesuai dugaan, ekspresi Lea segera berubah begitu bertemu mata dengan Chiara. Senyuman manisnya lenyap, digantikan seringai jahat yang licik.