Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Hamal (2)


__ADS_3

Hari-hari berlalu, namun kondisi matu Ānaru belum juga membaik. Meski begitu, tubuh Ānaru justru pulih dengan cepat. Sang dukun penyembuh, tâkuta, bahkan mengajari Ānaru teknik menyelaraskan napas untuk mempercepat kesembuhannya. Karena itu luka-lukanya cepat tertutup, dan Ānaru sudah mulai berlatih lagi.


Airyung di sisi lain, tidak bisa selamanya berada di sana. Pada akhirnya gadis itu harus pergi, mengembara lagi mencari orang dalam ramalan. Ānaru sebenarnya tidak ingin Airyung pergi karena ia masih perlu lawan tanding untuk latihannya. Sementara Airyung juga sebenarnya berharap Ānaru dapat ikut dengannya dan membantu mencari sosok orang dalam ramalan.


Sayangnya keinginan kedua orang itu sama-sama tidak dapat terpenuhi. Airyung tetap harus pergi, dan Ānaru memilih berada di sisi orang tuanya. Mereka pun berpisah setelah sepuluh hari berada di rumah sang dukun penyembuh. Airyung membawa Tsagan, kudanya, dan berderap meninggalkan hutan mati.


Setelah kepergian Airyung, tidak banyak hal yang bisa dilakukan Ānaru. Sesekali ia pergi bersama tâkuta untuk mencari bahan obat-obatan. Matunya sama sekali belum sadar, dan umanya hanya bisa mengurus keperluan suaminya itu dalam kemurungan. Beruntung tâkuta baik hati itu bersedia menampung mereka selama yang dibutuhkan.


Herannya, meski dalam kondisi alam yang kritis, tâkuta itu selalu berhasil menemukan tanaman sumber pangan dan obat dengan mudah. Mungkin karena sudah terlatih hidup di alam liar. Meski begitu, sang tâkuta memiliki pantangan untuk tidak boleh makan daging apapun, sehingga ia melarang Ānaru berburu hewan di hutan meski kadang melihat anak rusa yang tak sengaja melintas.


“Anak muda, gunakanlah tubuhmu untuk memberi manfaat pada alam, bukan hanya sekedar menggerogotinya seperti kinokambe,” kata sang tâkuta menasehati Ānaru ketika mereka tengah menancapkan pokok-pokok ubi di tanah samping bale-bale.


“Memangnya ubi ini bisa tumbuh dalam kondisi kekeringan begini?” tanya Ānaru membalas nasehat sang tâkuta.


Tâkuta itu tampak tabah menanggapi Ānaru yang selalu abai dengan kata-katanya.


“Dibandingkan tanaman lain, ubi ini lebih mudah tumbuh, dan mudah beradaptasi dengan segala cuaca. Beberapa bulan ke depan kita sudah bisa memanennya, meski mungkin hasilnya tidak segemuk bila dia mendapat cukup air,” jelas sang tâkuta.


Ānaru mengangguk-angguk paham. Ia kemudian menggali tanah kering kemerahan itu dengan lebih antusias, membayangkan mereka bisa makan ubi setelah selama ini hanya mengonsumsi biji-bijian kering.


“Kulihat chakra Manipuramu semakin jernih, Nak. Kondisimu kemarin sepertinya membantu melancarkan aliran energi di tubuhmu,” kata tâkuta itu tiba-tiba.


Ānaru menghentikan aktivitasnya sejenak sambil berpikir. Apa ia harus menceritakan soal mimpinya saat ia tak sadarkan diri? Tapi itu kan hanya mimpi. Apalagi Ānaru menangis dalam mimpi itu. Mana mungkin ia menceritakan pada orang lain kalau dia menangis, meski hanya dalam mimpi. Meski begitu, tâkuta tua ini sepertinya tidak mungkin membocorkan rahasia memalukannya.


“Tâkuta, sebenarnya saat aku pingsan kemarin, aku bermimpi tentang sesuatu…” ucap Ānaru ragu-ragu.

__ADS_1


“Mimpi seperti apa?” tanya tâkuta itu lantas turut menghentikan aktivitasnya, seolah bersiap mendengarkan kisah yang luar biasa.


Ānaru yang awalnya ragu, akhirnya menceritakan keseluruhan mimpinya pada sang tâkuta. Meski begitu, bagian saat ia menangis tetap disembunyikan. Sang tâkuta tampak mendengarkan cerita Ānaru dengan cermat, dengan sesekali merespon melalui gerakan tubuh seperti anggukan atau mengelus jenggot panjangnya.


Setelah selesai bercerita, entah kenapa Ānaru merasa sangat kelelahan. Energinya seperti disedot oleh cerita yang baru saja dia utarakan. Padahal sedari tadi ia melakukan kegiatan fisik dan berkebun tanpa merasa letih. Tapi satu ceritanya itu membuatnya kelelahan, seolah cerita itu membawa memori panjang yang mengambil energinya sebagai ganti ingatan.


“Ayo kita sudahi pekerjaan ini. Bersihkan dirimu, aku akan membuatkan minuman hangat yang bisa membantumu memulihkan tenaga,” kata tâkuta itu seolah tahu keadaan Ānaru yang energinya tersedot.


Ānaru menurut tanpa bertanya. Setelah lama tinggal bersama, Ānaru mempelajari bahwa tâkuta itu bisa melihat lebih dari apa yang dilihat manusia biasa, juga memiliki wawasan pengetahuan yang jauh lebih banyak. Karena itu Ānaru merasa hal bijaksana yang bisa dia lakukan adalah menuruti perintah tâkuta itu. Terlebih jika sudah menyangkut keadaan tubuhnya. Tentu saja Ānaru harus menurut pada sang ahli.


Setelah membasuh tubuh, tâkuta menyuruh Ānaru duduk di ruang tengah bale-bale. Ia menghidangkan minuman herbal beraroma rempah yang kuat. Tâkuta itu menyuruh Ānaru meminumnya pelan-pelan.


“Apa kau sudah tahu arti namamu, nak?” tanya tâkuta itu sambil meletakkan gelas kayu berisi minuman herbal kecoklatan.


“Yang kutahu, Ānaru artinya berani. Matu yang memberiku nama itu, agar aku menjadi anak laki-laki pemberani,” jawab Ānaru menerima gelas kayu dengan asap yang masih mengepul.


“Aku… tidak punya nama semacam itu,” sanggah Ānaru kebingungan.


Tâkuta tua itu menggeleng perlahan. “Dalam mimpimu. Memori jiwamu mencoba berbicara denganmu, Nak. Hamal. Itulah namamu yang sejati,” terang tâkuta itu.


Ānaru tercenung. Nama itu memang terasa familiar. Dan setiap kata itu disebut, energi terasa menggelora di dalam tubuh Ānaru.


“Namaku… Hamal?” desah Ānaru mencoba mencerna informasi itu.


“Apa kau tahu arti nama itu?”

__ADS_1


Ānaru menggeleng. “Aku baru mendengar nama itu ketika berada dalam mimpi.”


“Kau harus mengingatnya. Dengan mengingat kode nama itu, kau baru bisa membuka pintu takdirmu dan membangkitkan kekuatanmu yang sebenarnya,” tâkuta itu menerangkan.


Meski begitu, Ānaru sama sekali tidak punya ide tentang arti nama Hamal yang ternyata adalah namanya sendiri. Jadi mimpinya itu memang punya arti? Bukan sekedar bunga tidur yang muncul saat dia tak sadarkan diri. Lantas apa arti panel-panel gambar tentang kehidupan orang yang tidak dikenalnya itu?


“Mereka adalah orang-orang hebat di masa lalu Ānaru. Ketika benua ini belum sehancur saat ini. Apa kau tahu cerita tentang Pejuang Zodiak?” Sang tâkuta balik bertanya.


Ānaru terperangah. “Tâkuta, kau bisa membaca pikiranku?”


“Tidak selalu, Nak. Ini hanya terjadi kadang-kadang saja kalau kita berada dalam getaran yang sama. Kau sedang memikirkan hal yang sama denganku, karena itu pikiranmu sampai padaku.”


“Baiklah. Jadi siapa orang-orang dalam mimpiku itu?”


“Dahulu kala, setiap suku di benua ini diberkati oleh sang Dewa dan mendapatkan anugerah pelindung yang disebut Pejuang Zodiak. Kedua belas titisan cahaya itu turun ke dunia untuk membantu manusia menjalani kehidupan yang lebih selaras dan harmonis.


“Suku Khitai kita, adalah suku pertama yang mendapatkan berkah Dewa dengan diturunkannya Pejuang Zodiak Pertama yaitu Aries. Titisan cahaya ini lahir dari generasi ke generasi tanpa pernah ditebak akan datang dari keluarga gembala yang mana. Tugas mereka adalah mengingat jati dirinya dan membangkitkan kekuatan pelindung yang terdapat dalam jiwanya.


“Setelah itu, sang pejuang bisa mulai membantu para penduduk untuk membangun peradaban yang lebih baik lagi. Di antara mereka ada yang menjadi penyembuh, petarung, bahkan peramal. Begitulah keduabelas suku hidup damai dengan karakteristik mereka masing-masing, sesuai dengan Pejuang Zodiak yang melindungi mereka,” jelas tâkuta itu panjang lebar.


“Jadi, orang-orang dalam mimpiku itu adalah para titisan Pejuang Zodiak Aries di suku kita?” tanya Ānaru memastikan.


Sang tâkuta mengangguk pelan. “Kurasa begitu.”


“Kalau begitu… Hamal…? Arti namaku?”

__ADS_1


“Benar, Nak. Hamal adalah nama lain Aries. Pejuang Zodiak yang pertama.” 


...***...


__ADS_2