Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Pertandingan Terakhir


__ADS_3

Ānaru pikir pertandingan tearakhir akan diadakan besok pagi mengingat saat ini malam sudah mulai turun. Kenyataannya, seorang uluwero mendatanginya dengan tergopoh-gopoh saat ia dan Airyung tengah memberi makan Tsagan. Uluwero itu menyuruhnya segera kembali ke arena karena puncak pertarungan akan di adakan saat itu juga.


“Bukankah ini sudah mulai gelap? Kinokambe bisa datang sewaktu-waktu saat malam. Terutama bila ada banyak orang berkumpul seperti itu,” protes Ānaru.


“Memangnya bisa berapa lama kau bertahan menghadapi Kaharap? Dia cukup kuat untuk mengalahkanmu dalam satu pukulan,” Uluwero itu mencemooh.


Ānaru bangkit berdiri dengan marah. Sekali lagi emosinya terpicu karena dia direndahkan. Lebih lagi uluwero muda itu membawa-bawa nama Kaharap. Airyung segera berdiri di depan Ānaru, menghalangi pemuda itu meluapkan emosinya pada sang uluwero.


“Kata-katamu keterlaluan, uluwero. Pertandingan memang akan selesai dengan cepat. Tapi itu karena Ānaru-lah yang akan menghajar Kaharap dalam satu serangan,” bela Airyung.


Ānaru sedikit terperangah karena Airyung membelanya. Apakah karena gadis itu begitu mendalami peran sebagai guru Ānaru?


“Meski begitu, tetap saja hari sudah terlalu gelap untuk mengadakan acara dimana begitu banyak orang berkumpul. Roh jahat itu mungkin akan menyerang dan menimbulkan korban jiwa,” lanjut Airyung.


Si uluwero berdecih ringan sambil memasang ekspresi yang menyebalkan.


“Kalau begitu akan kuumumkan bahwa kau menyerah dalam pertandingan ini. Kaharap bisa menjadi pemenang secara mutlak,” jawab uluwero itu sambil lalu, lantas berbalik hendak pergi.


“Tunggu!” seru Ānaru  sembari berjalan menyusul. “Aku ke arena sekarang.”


“Ānaru, ini mungkin berbahaya. Dengan kumpulan orang sebanyak itu, bisa lebih dari satu chögörü yang akan datang,” ucap Airyung memperingatkan.

__ADS_1


Tapi Ānaru tak mengindahkannya. Pemuda itu tetap berjalan pergi menuju arena. Airyung pun mau tak mau mengikutinya, meski dengan perasaan waspada.


 


Sesampainya di arena, Kaharap terlihat sudah menunggu di tengah lapangan. Wajah bengisnya tampak semakin jahat begitu melihat Ānaru datang. Ānaru memasuki arena diiringi dengan suara kasak kusuk penonton. Sudah bukan rahasia lagi mengenai reputasi Ānaru dan Kaharap. Semua orang sepertinya sudah mengetahui bangaimana hubungan permusuhan mereka berdua sejak kecil.


Ketertarikan para penonton semakin berkembang karena mereka tidak menyangka bahwa Ānaru, pemuda penggembala biasa yang selama ini terkenal lemah dan menjadi bulan-bulanan Kaharap, ternyata mampu mengikuti ujian uluwero sampai sejauh ini. Orang-orang tentu tahu hal itu tidak lepas dari peran Airyung, gadis suku asing yang terkenal kuat. Antusiasme itu yang kemudian membuat orang-orang kehilangan kewaspadaan terhadap adanya kinokambe.


Walapun diliputi amarah, Ānaru tetap menjaga kesiagaannya terhadap bahaya kinokambe. Ia sudah mengeluh sejak sebelum memasuki arena karena melihat banyaknya orang yang berkumpul. Ia sudah dua kali berhadapan dengan kinokambe.


“Ternyata kau punya nyali untuk datang kesini,” ejek Kaharap begitu Ānaru berdiri di hadapannya.


“Wah, Ānaru kecil sudah bisa menggonggong sekarang,” kata Kaharap dengan tawa sarkastik yang menyebalkan.


Ānaru tak menjawab dan hanya menatap Kaharap dengan penuh dendam. Tak lama kemudian siulan tanda pertarungan dimulai terdengar. Matahari sudah benar-benar terbenam sekarang. Beberapa obor sudah dipasang di sisi-sisi luar arena. Keremangan itu tertolong oleh cahaya bulan purnama yang bersinar terang di langit.


Ānaru segera memasang kuda-kuda. Tampaknya Kaharap tidak buru-buru ingin menyerang. Seperti biasanya, Kaharap gemar mempermainkan orang lain. Ia suka mengulur waktu semata-mata hanya untuk menghancurka mental lawannya, entah dengan kata-kata atau cukup dengan gesturnya yang mengintimidasi dan meremehkan. Sayangnya, Ānaru tidak punya waktu untuk berlama-lama. Kinokambe bisa datang kapanpun. Para penduduk bisa terancam.


Maka dengan penuh keyakinan, Ānaru pun menyerbu Kaharap. Kaharap tidak tampak terkejut. Ia sudah sering menghadapi Ānaru, dan ia tahu persis sifat Ānaru yang mudah tersulut emosi. Ānaru selalu melakukan serangan pertama, dan Kaharap tinggal menyambutnya dengan serangan balik yang cepat mengenai wajah Ānaru. Bagi Kaharap, menghajar Ānaru tak ubahnya melawan anak kecil pemarah yang tak tahu diri dan lemah.


Berdasarkan pengalaman itulah, Kaharap menyambut serangan Ānaru dengan seringai puas. Ia sudah bersiap meluncurkan kepalan tangannya ke wajah Ānaru. Tapi betapa terkejutnya Kaharap, ternyata Ānaru mampu menghindar! Pukulannya mengenai udara kosong. Ānaru berkelit dengan lincah lantas berhasil melayangkan pukulan tepat mengenai rusuk Kaharap.

__ADS_1


Kaharap terlalu kaget untuk mencerna situasi itu, hingga tak sempat menghindar. Serangan Ānaru membuat Kaharap terhuyung ke belakang. Tanpa memberi celah, Ānaru kembali menyerang secara bertubi-tubi. Serangan Ānaru berhasil mengenai Kaharap, tapi belum bisa membuat lawannya itu tumbang.


Kaharap segera mengendalikan keterkejutannya. Tak diragukan lagi, sebagai keturunan keluarga uluwero, Kaharap pasti sudah banyak dilatih oleh kakak dan paman-pamannya. Kaharap akhirnya mampu memasang kuda-kuda bertahan yang berhasil menahan semua serangan Ānaru. Detik selanjutnya, Kaharap melompat ke belakang untuk membuat jaraknya dengan Ānaru lebih lebar.


Ānaru tak bisa membiarkan serangannya putus, melompat menyusul Kaharap. Tapi kini Kaharap lebih siap. Sebuah tendangan berputar berhasil menghantam tubuh Ānaru, membuat Ānaru terlempar setengah meter. Ānaru berhasil mendarat dengan baik meski bahunya terkena tendangan Kaharap.


“Aku sudah dengar tentang upaya latihanmu bersama perempuan asing itu. Tak kusangka latihannya sedikit membuahkan hasil,” ujar Kaharap sembari menyeringai senang. “Ini jadi lebih menarik, Ānaru,” lanjutnya dengan tawa menyebalkan.


Ānaru mendesis marah, lantas kembali menyerbu Kaharap. Kali ini Kaharap sudah lebih siap. Kaharap berkelit dari pukulan Ānaru, lantas dengan cepat memukul balik. Selama beberapa saat, keduanya mampu saling mengimbangi, menyerang dan berkelit satu sama lain. Gerakan mereka semakin lama semakin cepat hingga sulit diikuti. Hingga pada satu titik, tiba-tiba Ānaru terlempar jatuh ke tanah. Bibir dan hidung Ānaru mengeluarkan darah tak lama kemudian.


Kaharap berdiri dari kuda-kuda terakhirnya, lantas melangkah pelan ke arah Ānaru yang tersungkur. Dengan seringai jahat Kaharap menatap Ānaru penuh kepuasan.


“Jarak kekuatan kita terlalu jauh, Ānaru. Menyerah saja. Atau kelau kau tetap keras kepala, aku dengan senang hati mematahkan satu atau dua tulangmu. Jadi kau bisa beristirahat besok, tanpa perlu datang ke upacara penobatan,” ucap Kaharap masih dengan seringainya yang menyebalkan.


Ānaru meludahkan darah di mulutnya, lantas bangkit berdiri. Ia tidak bisa membiarkan Kaharap mengalahkannya. Pertarungan ini sudah seperti hidup dan mati bagi Ānaru. Ia rela mengorbankan apapun agar dia bisa menang hari ini. Dengan langkah sedikit gontai, Ānaru kembali memasang kuda-kuda, bersiap menyerang.


Tapi tiba-tiba sebuah situasi yang tidak asing mulai muncul. Cahaya obor mendadak meredup, tanpa ada angin yang berhembus. Beberapa obor justru sudah mati total dengan kecepatan yang tidak wajar. Cahaya bulan tertutup awan tebal. Tanpa bisa dihindari, tempat itu sudah tenggelam dalam kegelapan total. Udara pun berubah sesak dan tak bergerak.


Ānaru terkesiap. Dia tahu persis apa yang akan dia hadapi setelah ini. 


...***...

__ADS_1


__ADS_2