Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 2: Taurus] Pekerja Bar


__ADS_3

“Kau tinggal di mana selama ini?” tanya Bianco pada Ekhtuya setelah mereka pulang kembali ke bar.


“Tidak tentu. Kadang di dekat pasar, kadang di arena, tapi lebih sering di hutan perbatasan. Kudaku juga ditambatkan di sana,” jawab Ekhtuya sambil membantu Bianco menurunkan beberapa belanjaan.


“Tunggu. Bukankah itu artinya kau tidak punya tempat tinggal? Lalu kuda? Kau membawa kuda?” Bianco kembali bertanya dengan penasaran.


“Harga penginapan di sini terlalu mahal padahal kualitasnya tidak bagus. Aku juga tidak membawa banyak uang. Dan, yah, aku memang membawa kuda. Kau pikir bagaiamana aku bisa sampai ke Nuchas dari Giyatsa? Tidak mungkin aku berjalan kaki.”


Bianco menghela napas panjang. “Apa kau makan dengan benar selama ini?” tanyanya lagi.


“Aku berburu kadang-kadang. Rusa yang kurus bisa dihabiskan selama empat hari. Makanku tidak banyak.”


Bianco memijit kepalanya yang mendadak terasa pening setelah mendengar penjelasan Ekhtuya.


“Kau kenapa? Lukamu terasa sakit lagi? Atau kepalamu pusing?” tanya Ekhtuya khawatir.


“Bukan. Aku hanya tidak bisa membayangkan orang sepertimu menjadi gelandangan di Nuchas,” sahut Bianco terus terang.


“Hei. Aku bukan gelandangan. Memang seperti ini cara hidupku. Itu bukan karena aku miskin,” tampik Ekhtuya sambil berkacak pinggang.


Bianco mendengkus pelan. “Kenyataannya kau memang tidak punya uang,” sahutnya tertawa kecil.


“Kalau hanya untuk minum di barmu sesekali, aku masih punya. Tetapi uang bukan masalah sekarang. Aku harus menemukan orang dalam ramalan sebelum batas waktu yang ditentukan,” ungkap Ekhtuya berubah murung.


“Aku tidak tahu sepenting apa orang itu untukmu … .”

__ADS_1


“Tentu saja sangat penting. Bukan hanya untukku tapi untuk semua manusia di Luteria. Kalau satu saja dari mereka tidak berhasil ditemukan sebelum akhir bulan Skirof, maka tanah ini tidak bisa lagi di selamatkan. Penderitaan manusia akan terjadi selamanya,” potong Ekhtuya dengan keluhan panjang.


“Ya, ya, ya. Aku mengerti. Maksudku, terlepas dari apa pun tugas yang harus kau penuhi, seharusnya kau juga tetap menjaga pola hidupmu. Jangan menjadi gelandangan liar yang berkeliaran di jalanan atau bahkan di hutan. Aku tahu kau sangat kuat, tapi kau tetaplah perempuan.


“Kau bisa tinggal di sini kalau kau mau. Di kamar Angelo ada dua ranjang. Kau bisa menggunakan salah satunya yang masih kosong. Aku mungkin tidak bisa memberimu gaji yang layak, karena untuk merekrut anak baru, aku perlu persetujuan keluarga pemilik bar ini. Namun untuk sekedar makanan layak aku masih bisa menyediakannya untukmu,” kata Bianco kemudian.


Ekhtuya tampak berbinar-binar. “Sudah kuduga kau orang yang baik, Bianco. Apa kau akan menggunakan uang gajimu lagi untuk membantuku? Seperti yang kau lakukan untuk penjual anggur itu.”


“Bagaimana kau tahu?”


“Kau mengambil sisa uang tambahannya dari dompet yang berbeda. Kupikir karena itu adalah uangmu sendiri. Dompetmu lebih lusuh daripada dompet yang satunya,” selidik Ekhtuya.


“Ah, itu bukan masalah besar. Aku memang punya sedikit tabungan karena aku jarang berbelanja. Jangan merasa terbebani dan anggap saja ini balas budiku karena kau sudah menolongku berkali-kali,” tutur Bianco kemudian.


Bianco tersenyum melihat gadis itu kegirangan. Sekuat hati pemuda tersebut menahan diri untuk tidak mengusap kepala Ekhtuya. Entah kenapa ia merasa Ekhtuya sangat manis saat ini.


“Oh, ya. Satu pertanyaan lagi. Apakah aku boleh membawa Oz?” tanya Ekhtuya lagi.


“Oz?” Bianco balas bertanya dengan kebingungan.


“Nama kudaku.”


“Oh … . Tentu saja. Kau bisa menambatkannya di istal bersama kuda-kuda Manolette yang lain. Aku akan mengatur supaya penjaga istal membantu merawat kudamu,” jawab Bianco sembari tersenyum lembut.


 

__ADS_1


Ekhtuya mengikuti saran Bianco untuk tinggal di DelMonte. Sudah tiga hari lamanya ia membantu pekerjaan Bianco melayani pelanggan sekaligus merawat luka-luka Bianco. Tubuh pemuda itu pulih dengan cepat berkat ramuan penyembuh yang diberikan oleh Ekhtuya. Suku Giyatsa memang tersohor dengan kemampuan penyembuh mereka.


Meski begitu, Bianco tetap merasa tidak masuk akal mengalami pemulihan yang secepat itu. Biasanya ia memerlukan waktu setidaknya satu minggu hingga rasa nyerinya mereda, lalu satu minggu lagi hingga lebam-lebam serta luka-lukanya menghilang. Kini, hanya dengan waktu tiga hari, tubuhnya sudah kembali bugar seolah tidak pernah terluka sedikitpun. Untuk hal itu, Bianco benar-benar berterima kasih pada Ekhtuya. Gadis tersebut benar-benar memiliki segudang manfaat.


Ekhtuya juga mulai akrab dengan pegawai lain terutama Angelo. Berkat sekamar dengan Ekhtuya, Angelo kini tidak lagi terlalu kecanduan obat-obatan terlarang. Sepertinya Ektuya memasang semacam dupa penenang di kamar mereka setiap malam. Aroma dupa itu membuat Angelo tidur dan bangun dengan segar tanpa mengalami reaksi menyakitkan karena memutus konsumsi obat-obatannya.


Hal serupa terjadi pada Andres dan Baltazar. Kedua pecandu itu sekarang mulai hidup dengan lebih sehat. Jumlah konsumsi pil dan alkohol mereka berkurang drastis setelah Ekhtuya mencekoki mereka sebuah ramuan beraroma menyengat. Gadis itu mengatakan bahwa ramuan itu adalah rahasia kekuatannya. Andres dan Baltazar yang tergoda iming-iming kekuatan hebat mengonsumsi ramuan Ekhtuya tanpa ragu-ragu. Alhasil hidup mereka lebih sehat dan mereka pun lebih sering berada dalam kondisi sadar daripada teller.


Serangkaian hal-hal itu benar-benar patut disyukuri. Lagi-lagi Bianco merasa beruntung telah membawa Ekhtuya untuk tinggal bersama mereka. Selain cekatan dan cantik, Ekhtuya membawa banyak dampak positif pada bar mereka. Bahkan para pengunjung yang mengamuk pun kini tidak ada lagi. Mereka sepertinya merasa segan karena reputasi Ekhtuya setelah mengalahkan lusinan torero beberapa waktu yang lalu. Selama beberapa hari terakhir, Bianco benar-benar bisa bekerja dengan sangat nyaman.


“Aku tidak pernah merasa hidupku setenang ini, Adena. Bukankah ini menyenangkan. Tidak ada masalah yang perlu diselesaikan. Aku hanya perlu membuat minuman selama sepuluh jam setiap malam. Lalu bisa tidur nyenyak sampai sore. Aku merasa seperti kembali muda,” ucap Bianco dari balik meja bar. Matanya mengikuti gerakan Ekhtuya yang sangat cekatan mengantarkan pesanan dari meja ke meja.


Adena mendengkus sampai tersedak minumannya sendiri. “Aku tidak bisa menyanggah ucapanmu. Tapi berhentilah bicara seperti seorang ayah yang bangga pada putrinya,” ucap Adena setengah tertawa.


“Aku memang beruntung bertemu pekerja tanpa upah yang bisa mengerjakan segala hal sekaligus. Gadis itu bisa menjadi pelayan, sekaligus tukang bersih-bersih, lalu merangkap penjaga keamanan. Dia seperti malaikat dalam kubangan lumpur ini,” kata Bianco yang masih menatap Ekhtuya sambil bertopang dagu.


“Kau tahu kan kalau ucapanmu itu bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kau terdengar seperti sedang mengeksploitasi seorang budak,” komentar Adena sambil memukul pelan kepala Bianco dengan kipas tangannya yang berenda.


“Aku sedang memujinya, Adena,” gerutu Bianco mengusap kepalanya.


Adena tertawa kecil menanggapi. “Tapi sampai kapan kau mau mempertahankan gadis itu. Apa Nona Beatris sudah tahu tentang dia?”


Bianco berubah murung. Pemuda itu lantas menarik napas berat seolah seluruh beban kehidupan ditimpakan ke pundaknya.


“Semoga Beatris tidak kesini dalam waktu dekat,” ucapnya lirih. Ini pertama kalinya Bianco tidak mengharapkan kedatangan Beatris. Keberadaan Ekhtuya sepertinya sudah membuat Bianco juga berubah. 

__ADS_1


__ADS_2