
Chiara pergi bersama Altan meninggalkan kota Valas. Sebelum pergi, keduanya menyempatkan diri untuk membuat sebuah pusara untuk Kale. Mereka membuatnya di tengah hutan mati, tempat di mana Kale terakhir kali terlihat sebelum dimangsa oleh roh jahat.
Meski tubuh Kale sudah tidak ada, tetapi mereka tetap membuat sebuah pusara untuk mengenang dan menghormati Kale. Chiara menitikkan air matanya saat menaruh sekuntum bunga krisan kuning di atas pusara tersebut.
“Apakah pejuang yang lain sudah ditemukan?” tanya Chiara sembari mengusap air matanya.
“Aku tidak tahu. Kita baru akan mengetahuinya setelah berada di Leopolis. Tapi keduabelas penunggang kuda dari Giyatsa sudah berangkat bersama ke seluruh penjuru Luteria. Meski begitu jarak tempuh kami berbeda-beda. Mungkin tidak akan sampai di Leopolis secara bersamaan,” terang Altan yang juga berlutut di sebelah Chiara.
“Sudah lama sejak kami semua berkumpul. Terakhir kali kami berkumpul, kami justru membuka segel pohon kohor,” ucap Chiara mengenang kehidupan lalunya.
“Tidak ada yang menyangka kalian akan kembali menitis setelah ratusan tahun menghilang,” komentar Altan menanggapi.
Chiara bangkit dari tempatnya berlutut. Ia masukkan kedua tangannya ke dalam kantong jubah. Angin dingin sekonyong-konyong berhembus menerpa tubuhnya. Musim gugur sudah hampir berakhir. Sebentar lagi musim salju datang. Hari-hari yang gelap akan memancing lebih banyak diabos untuk muncul.
“Sebaiknya kita pergi sekarang,” ucap Chiara kemudian.
Pemuda itu pun turut bangun dari tempatnya berlutut. Ia melepas tambatan pada kudanya yang bernama Aurora. Kuda berwarna hitam pekat itu meringkik pelan saat moncongnya dielus. Altan lantas menunggangi kudanya dan bersiap untuk melaju. Chiara di sisi lain, mulai berubah menjadi wujud serigalanya. Dalam wujud itu, Chiara bisa melaju secepat kuda dan membuat perjalanan mereka jauh lebih cepat.
Akan tetapi, belum sempat Chiara berubah, gadis itu mendadak waspada. “Ada yang mendekat,” ucap Chiara berdasarkan instingnya.
Altan turut menajamkan inderanya, dan mulai mendengar derap kuda lain dari kejauhan. Tidak banyak orang yang memiliki kuda di daerah sini. Karena itu, suara kuda yang tiba-tiba mendekat tersebut sebenarnya cukup mencurigakan.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, sang penunggang kuda pun muncul. Seorang pemuda berwajah rupawan dengan rambut coklat jagung yang ikal. Ia menunggangi kuda putih yang gagah. Saat melihat Chiara dan Altan, serta Aurora, pemuda itu menghentikan laju kudanya.
“Apa kalian juga mengarah ke Leopolis?” tanya pemuda itu begitu saja, seolah sudah saling mengenal sejak lama.
Chiara memperhatikan sang pemuda, lantas menyadari sesuatu. “Saur … ?” tanyanya memastikan.
Pemuda berambut coklat itu menatapnya, lalu tersenyum penuh kerinduan. “Jauza. Lama tak bertemu,” sapa pemuda tersebut seperti menyapa teman lama. “Namaku di kehidupan ini adalah Bianco,” lanjutnya sembari turun dari kudanya.
“Kara. Tapi kau bisa memanggilku Chiara. Mana saja. Meski sebenarnya aku lebih suka kau memanggilku seperti biasa, Saur,” ucap Chiara menghampiri Bianco.
Altan ikut turun dari kudanya dan menatap Chiara serta Bianco secara bergantian. “Kalian saling mengenal?” tanya Altan kemudian.
“Atau kau bisa memanggilku Bianco saja,” sahut pemuda itu ikut tersenyum pada Altan.
“Begitukah. Di mana penjagamu?” tanya Altan sembari menoleh ke segala arah, mencari sesosok penunggang kuda dari Giyatsa yang seharusnya mengawal setiap pejuang zodiak. Ia lantas mengamati kuda putih yang dia kenal bernama Oz. “Bukankah itu kuda milik Ekhtuya, Oz?” tanyanya memastikan.
Bianco tampak muram. Ia mengelus moncong Oz dengan penuh kasih. “Pemiliknya telah meninggal ketika menyelamatkanku. Kini aku harus menempuh perjalanan sendirian,” terang Bianco sedih.
Altan turut berduka. Ekhtuya adalah salah satu rekannya sesama anggota Têmir. Mereka berlatih bersama sejak masih kecil. Ia tak menyangka kalau salah satu penunggang kuda yang bertugas mencari pejuang zodiak akhirnya bisa gugur.
“Maafkan aku. Aku sudah gagal melindunginya,” kata Bianco penuh penyesalan.
__ADS_1
Altan menggeleng pelan. “Bukan salahmu. Ini adalah resiko pekerjaan kami. Aku juga sempat kesulitan karena harus memilih salah satu dari dua jiwa pejuang zodiak yang terpecah,” ucap Altan berkisah.
Bianco mengalihkan pandangannya pada Chiara. “Apa kau menitis menjadi dua orang lagi?” tanyanya dengan santai.
“Begitulah. Aku terlahir kembar, seperti biasa. Tapi kali ini kembaranku seorang anak laki-laki bernama Kale,” terang Chiara sembari mengangguk ke arah pusara kosong.
Bianco berlutut di samping pusara lalu memejamkan mata seperti berdoa. Tak lama setelahnya ia pun kembali bangkit berdiri. “Jiwanya tetap bersamamu, karena kematian tidak akan memisahkan kalian. Pada dasarnya kalian itu satu,” ucap Bianco kemudian.
Chiara mengangguk setuju. “Memang benar. Tapi tetap saja menyakitkan kalau aku harus kehilangan saudara di setiap masa hidupku,” keluh gadis itu sembari menghela napas.
Bianco mendengkus pendek lalu tersenyum. “Hidup kita memang tidak pernah mudah, berapa kali pun dilahirkan kembali. Entah sampai kapan kita harus terikat pada tanah ini.”
“Ini hukuman kita karena telah meninggalkan Putri Sion pada saat itu,” sahut Chiara. “Sudahlah. Sebaiknya kita berangkat bersama-sama ke Leopolis. Kita punya pekerjaan yang harus cepat diselesaikan,” lanjut gadis itu kembali bersiap-siap.
Altan dan Bianco mengangguk setuju. Masing-masing dari mereka lantas menunggangi kuda hitam dan putih, Aurora dan Oz. sementara Chiara mulai berubah menjadi manusia serigala.
“Kau tidak naik kuda?” tanya Bianco sembari mengamati bulu-bulu kelabu muncul di tubuh Chiara.
“Memangnya kau lupa apa kemampuanku?” sahut Chiara.
Tak lama kemudian Chiara sudah sempurna berubah menjadi manusia serigala. Dalam satu hentakan, gadis itu pun melesat menyusuri hutan mati, diikuti oleh Altan dan Bianco yang sama-sama menghela kuda mereka masing-masing.
__ADS_1