Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Benedict


__ADS_3

Pada akhirnya, Chiara dan Rein pun berbaikan. Mereka sudah sering bertengkar sebelumnya. Namun pertengkaran kali ini sedikit lebih serius daripada biasanya. Hal itu terjadi terutama karena isu pertengkaran mereka kali ini cukup sensitif: menyangkut pernikahan.


Meski hubungan mereka menjadi sedikit canggung, tetapi Chiara tetap harus menemui Rein lagi karena ia harus kembali mencari uag di kasino. Sayangya, itu satu-satunya keahlian Talia yang bisa menghasilkan banyak uang. Rein bersikap seolah tidak ada apa-apa saat menunggu Talia di toko barang antiknya.


Pemuda itu menyuruh satu-satunya pegawainya untuk bergantian menjaga toko, sementara ia sendiri mengikuti Kara ke ruang rahasia. Kara mencoba bersikap senormal mungkin. Akan tetapi sejak peristiwa kemarin, gadis itu merasa harus sedikit menjaga jarak dari Rein.


“Kau baru datang? Apa perbaikan rumahmu sudah selesai?” tanya Rein mengikuti langkah Chiara memasuki ruang rahasia. Pemuda itu terus menempel bahkan setelah Chiara berganti gaun.


“Apa kau akan mengikutiku terus, Rein?” tanya Chiara setelah gadis itu hendak berangkat.


“Bolehkah?” pinta Rein memelas.


Chiara menggeleng tegas. “Tidak usah macam-macam.”

__ADS_1


“Hmm … baiklah,” desah Rein kecewa.


Chiara akhirnya bisa pergi dengan tenang. Venetian sudah ramai siang itu, seperti biasa. Sudah lebih dari delapan hari gadis itu tidak muncul. Kedatangannya hari itu menarik perhatian lawan-lawan mainnya.


“Apa kau berniat menyimpan harta karun itu sendirian, Chiara,” bisikan menggoda menyambut gadis itu saat mendekati salah satu meja judi.


Lea dengan gaun punggung terbuka berwarna merah mendatangi Chiara dari belakang. Sebuah kipas bulu menutupi wajahnya, meredam suara yang dia bisikkan dengan erotis.


“Menjauhlah dari orang-orangku, Lea,” sahut Chiara dingin.


 


Chiara melirik sinis ke arah Lea. “Belajarlah dari kejadian kemarin. Kudengar kau termakan jebakanmu sendiri. Bermainlah dengan lebih cerdas lain kali,” balas gadis itu sarkastik.

__ADS_1


Wajah Lea memerah karena marah dan malu. Wanita itu hendak menyahut kalimat Chiara, tetapi Benedict datang di saat yang tepat.


“Nona-nona, mari kita bermain saja. Uang berputar dan kalian sudah rugi ratusan keping perak karena bertengkar begini,” sela Benedict sembari mengalungkan lengannya ke bahu Chiara. Satu gelas anggur dia sodorkan pada Lea yang masih terlihat murka.


Akan tetapi wanita itu memilih untuk berbalik pergi daripada melanjutkan keributan itu. Bahkan Benedict, pria paling hebat di Venetian, membela Chiara.


“Kemana saja selama ini? Apa kau kena masalah? Dengan pemuda Gillian itu?” cecar Benedict begitu Lea menghilang di kerumunan.


Chiara melepaskan diri dari rangkulan Ben. Gadis itu lantas mengambil segelas champagne dari seorang pelayan pria yang berkeliling. “Bukan urusanmu, Ben.”


“Bagaimana mungkin aku tidak mengurusimu. Aku senang kau tidak datang. Bisa kau bayangkan berapa banyak aku membawa pulang keping-keping perak, bahkan emas. Kumohon, buatlah masalah sebanyak mungkin agar kau tidak perlu kemari lagi,” ujar Ben tanpa rasa bersalah.


Chiara berdecih ringan sembari melirik Ben dengan dingin. Orang itu memang punya mulut yang ringan. Meski begitu Ben selalu membantunya saat gadis itu terpojok. Chiara sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikir Ben.

__ADS_1


“Baiklah. Karena kau datang setelah sekian lama, mari kita nikmati permainan saja. Untungnya aku sudah banyak meraup keuntungan kemarin. Hari ini aku akan membiarkanmu mengambil banyak uang,” lanjut Ben duduk di sebelah Chiara. Mereka berdua sudah berada di hadapan seorang bangkir di meja permainan favorit Chiara: Baccarat. 


__ADS_2