Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Harga Diri


__ADS_3

Pertengkaran Chiara dengan Rein berlangsung selama satu minggu penuh. Selama itu juga Chiara tidak bisa ke Venetian. Rein beberapa kali mendatangi rumah Chiara, tetapi gadis itu terus menolak. Harga dirinya terluka karena percakapan mereka kemarin.


Sementara itu, orang yang ditunggu-tunggu Chiara justru tidak pernah datang lagi. Sudah seminggu penuh Altan tidak mengunjunginya. Meski begitu Chiara tidak berani secara sengaja membuka jendelanya saat malam. Bayangan kedatangan diabos membuatnya bergidik. Lambat laun gadis itu pun melupakan tentang Altan. Ia begitu disibukkan oleh pekerjaan rumah, sementara ibunya terus mengomel pada hal-hal yang bukan kesalahannya.


Masalah akhirnya muncul pada hari ke delapan sejak Chiara dan Rein bertengkar. Saat itu Chiara sedang menjemur baju di kebun yang sudah tidak terawatt di belakang rumahnya. Mendadak ia mendengar tangisan kedua adiknya dari depan rumah. Awalnya Chiara tidak peduli. Khan dan Kai mungkin kelaparan.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Chiara turut mendengar suara barang-barang yang dibanting serta suara laki-laki yang memaki. Jelas ada yang tidak beres. Di rumah itu hanya ada Chiara, ibunya dan dua adiknya yang masih kecil. Ayahnya dan Kale entah di mana rimbanya. Dua lelaki dewasa yang seharusnya menjadi pelindung keluarga justru selalu pulang membawa masalah.


Akhirnya, Chiara pun melempar cuciannya kembali ke dalam ember lantas masuk ke dalam rumah. Suara makian para pria itu terdengar semakin jelas, diiringi tangisan Khan dan Kia. Ibunya terdengar memohon dengan putus asa. Chiara sudah bisa menebak apa yang terjad.


Begitu memasuki ruang depan, sumber kekacauan pagi itu pun ditemukan. Ruangan tersebut sudah porak poranda. Lemari usang besar yang digunakan ibunya untuk menyimpan piring porselen dan alat makan warisan leluhur sudah terjatuh di lantai. Isinya pecah berserakan tak berbentuk. Satu set sofa kumal milik neneknya kini sudah penuh sayatan dan separuh terbakar. Keseluruhan ruang tamu itu benar-benar hancur.


Tiga pria berbadan kekar menyumpah marah penuh emosi sambil merusak barang-barang lain yang masih utuh. Mereka terlihat sangar dengan cambang lebat dan mata melotot. Mulutnya terus memaki hingga menyemburkan ludah di mana-mana. Pakaian mereka layaknya bangsawan, tetapi tindakannya jelas sangat mencerminkan identitas mereka sebagai preman penarik hutang.


Salah satu dari pria itu menyadari kedatangan Chiara dan segera menunjuk ke arahnya. “Itu anak perempuannya! Kalau Castor tidak bisa membayar hutang, kita jual saja anak gadisnya!” teriak salah satu pria tersebut.


Chiara berdiri kaku di pojok ruangan. Ibunya yang tidak berdaya hanya menangis bersimpuh sambil memeluk Khan dan Kai. Para preman itu nampaknya setuju dengan saran rekan mereka. Ketiganya lantas berjalan ke arah Chiara, hendak menangkapnya.


Chiara masih membeku sambil terbelalak. Ia ingin kabur, tapi pria-pria itu pasti mengejarnya. Castor Lokhe, ayahnya sudah berhutang lagi entah kapan, untuk berjudi. Kini karena Chiara sudah satu minggu tidak menghasilkan uang, ibunya pun tidak bisa membayar para preman penagih hutang ini. Nyawa Chiara kembali di ujung tanduk.

__ADS_1


Akhirnya, setelah berhasil menguasai pikirannya, Chiara pun meraih benda yang terdekat untuk digunakan sebagai senjata. Sebuah tiang gantungan dari kayu yang sudah lapuk.


“Jangan mendekat, atau aku tidak segan-segan melakukan kekerasan,” ancam Chiara yang sejujurnya sama sekali tidak menakutkan.


Ketiga pria itu tertawa mengejek. “Bukan tubuh kami yang terluka, Gadis Kecil. Tapi kayu lapuk itu yang akan hancur bahkan saat kau mengayunkannya,” ujar salah satu pria yang berambut pirang, satu-satunya di antara mereka bertiga.


Chiara menolak menyerah. Ia tidak gentar sekalipun ketiga pria itu bertubuh dua kali lipat besar tubuhnya. Menghadapi manusia tidak lebih mengerikan daripada diabos. Ketiga pria itu sudah sangat dekat dengannya. Chiara pun mengayunkan kayunya ke segala arah, mencoba menyelamatkan diri.


Akan tetapi, kayu itu pun benar-benar hancur ketika mengenai lengan salah satu dari preman itu. Dua rekannya lantas menyergap Chiara dan memiting gadis itu dengan begitu kuat. Chiara memberontak sambil terus menyerukan sumpah serapah. Para preman tersebut malah tertawa lebih keras karena menganggap perlawanan Chiara hanya sia-sia.


“Lepaskan putriku! Ka, kami akan membayar seluruh hutangnya. Beri kami waktu,” mohon ibunya sambil berlari ke arah Chiara dan meninggalkan kedua adiknya menangis di lantai.


Salah satu preman itu menendang tubuh ibu Chiara hingga terjungkal. “Pilih salah satu dari tiga anakmu untuk kami bawa! Yang perempuan akan kami jual sebagai wanita penghibur, anak laki-lakimu bisa menjadi budak,” sergah pria tersebut.


Di tengah drama luar biasa itu, mendadak pintu depan rumah Chiara menjeblak terbuka. Semua pandangan otomatis tertuju ke arah pintu. Ternyata Rein lah yang datang. Pemuda itu tampak sangat marah melihat kondisi di dalam rumah. Setelah membanting pintu rumah Chiara, pemuda itu pun melemparkan sekantong uang perak yang sangat besar.


“Lepaskan Kara,” geram Rein murka.


Ketiga preman itu melepaskan pitingannya dari Chiara secara perlahan. Salah satu dari mereka mendatangi kantong uang perak yang dilemparkan oleh Rein.

__ADS_1


“Kau, Lord Gillian, kan?” tanya sang pria yang kini tengah mengecek isi kantong yang dilempar oleh Rein.


“Lepaskan Kara!” teriak Rein benar-benar marah.


Sang preman yang memegang kantong uang itu lantas memberi kode pada dua temannya. Kedua rekan preman itu lantas melepaskan Chiara sepenuhnya lalu berjalan mendekati sang pria pembawa kantong.


“Kalian beruntung hari ini,” gumam sang preman sembari meludah ke lantai.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Chiara sembari membawa uang dari Rein.


“Anda baik-baik saja, Bibi? Khan? Kai?” tanya Rein sembari berlutut membantu ibu Chiara untuk berdiri. Ibunya masih terisak patah-patah. Khan dan Kai juga masih menangis ketakutan.


“Terima kasih, Rein. Kami berhutang lagi padamu,” ucap ibunya penuh syukur.


“Jangan dipikirkan. Yang penting kalian semua aman,” sahut Rein tulus.


Sedari tadi Chiara tidak menangis. Ia bisa menahan diri meskipun tengah berada di balah ancaman atau terluka seperti apa pun. Namun, saat ini, melihat pemandangan Rein tengah membantu keluarganya, membuat hati Chiara begitu terluka. Ia malu, kecewa dan membenci dirinya sendiri. Bagaimana mungkin gadis sepertinya bisa bersanding dengan tuan muda seperti Rein?


“Kenapa kau ikut campur?!” teriak Chiara dengan suara bergetar. Air matanya meleleh di pipi tanpa bisa dia kendalikan.

__ADS_1


“Kara … ,” desah Rein berusaha meraih gadis itu.


Namun Chiara menepisnya. Ia berbalik pergi dan berlari menuju kamarnya sendiri. Sekali lagi, harga dirinya terluka. 


__ADS_2