
Pemuda berambut perak itu menatap datar ke arah Damian. Dari penampilannya, orang itu jelas bukan berasal dari Ponza. Pakaiannya yang dipenuhi bulu rubah putih mengindikasikan bahwa dia mungkin berasal dari utara, tempat bersalju yang mengalami musim dingin sepanjang tahun. Tapi kenapa orang dari utara itu datang ke Ponza?
“Kutzo,” ujar pemuda itu dengan dua tangan bertaut di belakang punggung, bak seorang cendikiawan.
“Kutzo? Itu namamu? Kenapa kau ada di sini?” tanya Damian setelah berhasil menguasai diri. Meski malam itu udara cukup dingin, tetapi akibat pergulatannya dengan Deimheim, peluhnya ini mulai menetes di tubuhnya.
“Ada pekerjaan yang harus ditangani. Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengantarmu ke tempat yang aman,” sahut Kutzo menawarkan.
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lebih baik aku pergi sendiri dari pada harus bersama orang yang mencurigakan sepertimu,” tolak Damian sembari menyarungkan kembali pedangnya. Kuda Damian sudah pergi entah kemana. Kini ia justru sudah berada di pinggir kota, jauh dari tempat tujuannya, kediaman Gausse.
“Sebenarnya kemana kuda sialan itu membawaku,” gumam Damian menggerutu.
“Chögörü itu mengikutimu sejak di kota. Akan berbahaya bagimu jika kau pergi sendirian di malam hari. Chögörü lain mungkin akan mucul lagi. Sebaiknya kau pergi bersamaku. Aku memiliki kemampuan untuk mengusir chögörü pergi menjauh,” lanjut Kutzo.
__ADS_1
“Chögörü? Roh jahat itu? Maksudmu Deimheim?”
“Begitulah sebutannya di tempat ini.”
Damian mendengkus. Ia lantas mulai berjalan pergi. Kutzo mengikutinya dengan tenang.
“Aku lihat kau memang punya kemampuan yang bagus untuk membunuh Deimheim. Tapi bagaimana caramu mengusir roh jahat yang datang?”
“Suku kami mengembangkan aroma khusus yang dibenci chögörü. Dengan mencium bau kami saja mereka sudah menghindar,” terang Kutzo.
“Sepertinya kau berasal dari utara. Suku Giyatsa kalau kutebak,” ujar Damian kemudian.
Pemuda itu tidak menjawab. Sepertinya tebakan Damian benar.
“Kau mau berjalan sampai mana?” tanya Kutzo justru mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Bukan urusanmu. Pergi saja kalau kau sibuk. Aku bisa mengatasi masalah roh jahat itu sendiri,” gumam Damian keras kepala.
Kutzo lantas bersiul pendek. Tak lama kemudian suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Damian terkesiap. Seekor kuda bertubuh besar dengan bulu berwara abu-abu muncul dari kegelapan. Kuda itu lantas berhenti di sebelah Kutzo dan meringkik pelan untuk menyapa pemiliknya. Kutzo mengusap surai kudanya dengan lembut lantas menatap ke arah Damian.
“Maksudku, bukankah lebih cepat kalau kita berkuda?” tanya pemuda berambut perak yang sangat panjang itu.
Damian mendengkus pelan. Orang itu memang mencurigakan. Akan tetapi perjalanan berkuda bisa memotong waktu lebih cepat daripada ia harus berjalan.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tanya Damian kemudian.
Kutzo menunggangi kudanya. “Aku menyelamatkanmu,” jawabnya sembari menghela kudanya untuk berjalan mendekati Damian. Kutzo lanas mengulurkan tangannya. “Apa kau mau ikut?” tanyanya pendek.
Damian menarik napas panjang. Baiklah. Orang ini mungkin kuat, tetapi dia tidak punya alasan untuk melukai Damian. Dan faktanya Kutzo sudah menyeamatkannya. Akhirnya Damian pun menyambul uluran tangan Kutzo lalu turut naik ke punggung kudanya tersebut.
Aroma rempah semakin kuat tercium. Meski begitu Damian tidak merasa terganggu. Alih-alih rasanya menenangkan saat menghirup bau itu.
__ADS_1