
“Apa yang dilakukan pelayan rendahan ini di meja makan tuannya?!” bentak Nyonya Castor sembari menampar pipi Sera.
Gadis pelayan itu hanya tersungkur jatuh di lantai. Pukulan sang nyonya rumah benar-benar keras. Damian buru-buru bangkit dari tempat duduknya, lantas menghambur ke arah Sera sebelum pelayan pribadinya itu sempat mengucapkan apa-apa. Sembari berlutut, pemuda itu membantu Sera untuk kembali berdiri.
“Aku yang memintanya makan bersamaku, Ibu. Aku sedikit kesepian karena makan sendiri,” ujar Damian tidak berbohong. Ia memang tidak pernah makan sendirian. Saat di rumah ia makan bersama keluarganya. Sementara saat di luar, ada Cassie atau beberapa wanita lain yang menemaninya.
“Damian, putraku, kalau kau kesepian, kau bisa makan bersama kami di ruang makan,” desah Ibunya langsung luluh. Amarah wanita itu memudar begitu berhadapan dengan putra bungsunya.
“Ibu juga tahu kalau hubunganku dengan ayah dan kakak-kakakku sedang tidak baik,” sahut Damian sembari menyuruh Sera pergi dari tempat itu. Pipi Sera memerah karena pukulan keras sang Ducches Castor. “Pergilah,” bisik Damian pada Sera.
__ADS_1
Sang pelayan membungkuk hormat dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Damian berdua dengan ibunya.
“Damian … aku sudah membiarkanmu bersenang-senang di rumah pelacuran itu. ibu tidak pernah berkomentar apa-apa tenang pilihan burukmu itu. Meski para bangsawan membicarakanmu, Ibu masih bisa menahannya dan berkilah kalau kau melakukannya untuk pekerjaan,” ucap Nyonya Castor sembari menatap Damian dengan sedih.
Ucapan ibunya memang tidak sepenuhnya salah. Damian bolak-balik ke Red Lotus salah satunya adalah untuk mendapat banyak informasi dari para wanita penghibur. Tamu-tamu bangsawan biasanya membicarakan lebih banyak rahasia ketika mereka mabuk atau setelah menikmati malam yang panas dengan para wanita penghibur. Masalahnya kenapa sekarang ibunya tiba-tiba membahas topik tersebut?
Damian menghela napas tak sabar lantas merebahkan dirinya di kursi. “Ibu pikir aku orang macam apa sampai harus mengkhawatirkan hal bodoh seperti itu. Selera makanku benar-benar sudah hancur gara-gara Ibu. Padahal aku baru saja pulang ke rumah, tapi lagi-lagi aku hanya harus mendengar omong kosong seperti ini lagi,” ujarnya kesal.
Ekspreis Nyonya Castor melembut. Sang Duchess itu lantas duduk di hadapan putranya dengan sabar. “Maafkan Ibu, Damian. Ibu hanya khawatir. Seharusnya Ibu lebih percaya padamu. Aku tahu kau pasti bisa memilih mana yang baik dan buruk untuk dirimu.”
__ADS_1
Damian hanya mendengkus kesal dan tidak menjawab apa-apa lagi. Pandangannya tertuju ke jendela luar kamarnya. Ia terlalu malas menghadapi ibunya yang tiba-tiba menjadi cerewet seperti Titus. Ngomong-ngomong apa kakak-kakaknya dan ayahnya sudah keluar dari rumah? Damian perlu pergi menemui Viscountess Gausse hari ini. Setelah semalam ia melanggar janjinya untuk datang.
“Lanjutkan makanmu, Damian. Atau kalau kau mau, kau bisa makan di ruang makan. Koki akan menyiapkan hidangan baru. Ayah dan kakak-kakakmu sudah berangkat. Jadi kau tidak perlu merasa tidak nyaman,” lanjut ibunya mencoba membujuk.
Akan tetapi informasi itu saja sudah cukup untuk Damian. Lebih baik ia segera bersiap-siap untuk pergi. Lagipula selera makannya sudah hilang sejak ibunya menampar Sera di depan matanya.
“Aku sudah kenyang, Ibu,” jawab Damian pendek. “Kalau begitu, mohon izin untuk bersiap-siap. Ada tempat yang harus kudatangi hari ini,” lanjutnya mempersilakan ibunya untuk pergi dari kamarnya dengan sopan. Nyonya Castor tampak tidak senang. Meski begitu wanita paruh baya itu akhirnya tetap menuruti keinginan Damian.
“Baiklah. Ibu akan pergi sekarang,” ujar sang Duchess muram.
__ADS_1